Jakarta (beritajatim.com) – Tidak kurang dari 14 kapal perang canggih 24 jam melindungi kepulauan Bali dan memagari laut seperti perisai yang melindungi perairan pantai Hotel Apurva Nusa Dua Bali.
Bukan hanya kapal perang kelas Frigate dan Corvet dengan segala senjata dan peralatan canggihnya saja, namun sebuah kapal Latih Layar; KRI Bima Suci juga melengkapi jajaran kapal yang melintas sepanjang hari yang menjadi perhatian para peserta G20.
Jajaran Kapal tersebut oleh Panglima TNI, Jenderal TNI Andika Perkasa dipercayakan kepada Laksamana Muda TNI Dr. T.S.N.B. Hutabarat, M.M.S untuk memimpin Satuan Tugas Laut (Satgasla) untuk menjamin keamanan dari dan pada sektor laut pada perlehatan G20.
Laksamana Muda TNI (Laksda) Cokky, demikian ia kerap dipanggil, sehari-hari mejabat sebagai Panglima Komando Armada II yang bermarkas di Surabaya.
Sebagai Pangkoarmada II, Kawasan yang menjadi tanggung Jawab Laksda Cokky amat luas; yaitu meliputi wilayah perairan dan yurisdiksi Indonesia yang membentang pada Seluruh Kalimantan (kecuali Pontianak), seluruh Sulawesi, wilayah Pulau Jawa mulai perbatasan Cirebon ke arah Timur dan seluruh wilayah Timur Indonesia kecuali Maluku dan Papua.
Laksda Cokky menceritakan, arahan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Yudo Margono, agar seluruh kekuatan Satgasla dilengkapi dengan Rudal, Torpedo, Bom Laut, Roket anti Kapal selam dan amunisi penuh pada setiap meriam kapal dibawah komando Satgasla.
“Dukungan dan perhatian Kasal, Laksamana TNI Yudo Margono, sangatlah luar biasa,” ujarnya.
Menjadi Komandan Satgasla yang membawahi puluhan kapal seperti ini tentu saja bukan hal yang baru bagi Cokky. Pada tahun 2016, dia dipercaya sebagai Dansatgas Multilateral Naval Exercise Komodo yang dilaksanakan di perairan Padang dan sekitarnya.
Pada saat itu kegiatan yang dilaksankan adalah Fleet Review, Western Pacific Naval Symposium (WPNS) dan Latihan Maritime Peace Keeping Operation yang melibatkan 50 kapal, dengan keterlibatan angkatan laut dari 39 negara. Latihan Mutilateral angkatan laut ini merupakan kegiatan latihan militer pertama yang ditinjau bahkan dibuka oleh Presiden Joko Widodo.
Dalam hal operasi laut, dirinya pula yang menjadi salah satu tokoh dibalik pengusiran Kapal Cina yang melintas batas memasujki wilayah Indonesia di Laut Natuna Selatan. Pada saat dirinya masih menjabat Komandan Guspurla Koarmabar pada 23 Juni 2016, saat itu terjadi penembakan terhadap kapal nelayan Cina oleh Kapal perang Indonesia.
[berita-terkait number=”3″ tag=”ktt-g20-bali”]
Hal ini membuat Presiden Jokowi tergerak melakukan rapat dengan berlayar di laut Natuna Utara di atas KRI Imam Bonjol- 383 yang berada dibawah komandonya. Demikian pula ketika dirinya menjabat sebagai Deputi Operasi dan Latihan Bakamla ditahun 2020, terjadi peristiwa pengusiran kapal China Coast Guard oleh unsur Bakamla R.I. yang juga menggerakkan Presiden Jokowi untuk hadir dan meninjau kekuatan TNI AL dan Bakamla R.I yang beroperasi di sekitar Kepualauan Natuna.
Pada 7 September 2022, ketika salah satu Pesawat Bonanza T – 2503 mengalami kecelakaan dan jatuh ke laut di Selat Madura, Panglima Koarmada II yang telah dijabat olehnya, menunjukkan sikap sigap dan profesionalisme yang patut mendapat acungan jempol.
Dibawah kepemimpinannya yang turut langsung, terjun ke lapangan, pesawat Bonaza dengan dua korban pilot yang telah berada di dasar laut tersebut, tidak lebih dari 24 jam telah berhasil ditemukan dan dievakuasi, diangkat, ke atas geladak Kapal KRI Soputan – 923.
Ketika ditanya tentang tantangan dari Satgasla ini, Cokky menyampaikan bahwa Satgasla ini menjaga keamanan G20 dan menegakkan kedaulatan, hukum dengan kondisi yang berbeda dibanding Satgas lainnya. Hal ini karena tugas yang dijalankan Satgasla bukan hanya di wilayah teritorial Indonesia, melainkan berada di wilayah atau rezim laut yang merupakan sovreignty atau edaulatan penuh dan Sovreignt right atau Hak berdaulat. (hen/ted)






