Piala Dunia kembali digelar pada 1950 di Brasil setelah perang dunia benar-benar usai. FIFA sempat kesulitan mencari negara tuan rumah, karena hampir semua negara di Eropa berantakan karena perang dan tengah mencoba bangkit.
Jerman pun yang sebenarnya berpotensi menjadi tuan rumah bahkan harus rela absen, karena terkena larangan dari FIFA. Selain rusak parah, kondisi Jerman tak memungkinkan karena terpisah dua: Jerman Barat dan Jerman Timur.
Untung ada Brasil. Mereka menawarkan diri menjadi tuan rumah dan langsung disetujui. Italia sebagai juara bertahan bisa ikut serta. Tujuh peserta lainnya dari Eropa, enam dari Amerika, dan satu dari Asia. Asia diwakili India, sementara Jepang dilarang ikut serta.
Inggris kali pertama ikut dalam Piala Dunia. Sementara Argentina sejak masa kualifikasi sudah menolak berpartisipasi. Negara ini tengah bersengketa dengan Federasi Sepak Bola Brasil. Skotlandia sebenarnya menjadi bagian dari 16 negara peserta. Namun Skotlandia menolak, karena kalah dalam kualifikasi melawan Inggris, Skotlandia hanya bersedia hadir jika menjadi pemenang kualifikasi.
Turki yang menjadi peserta belakangan mengikuti jejak Skotlandia, mengundurkan diri juga karena tak punya ongkos ke Brasil. FIFA mengundang Portugal dan Prancis untuk ikut serta. Hanya Prancis yang bersedia ikut. Belakangan India dan Prancis memilih mundur juga. India beralasan ongkos perjalanan ke Brasil terlalu mahal.
Apa boleh buat. Jumlah peserta pun tinggal 13. Show must go on. Kali ini sistem yang digunakan bukan lagi sistem gugur, melainkan penyisihan grup setengah kompetisi. Ada empat grup, dan masing-masing juara grup akan diadu lagi dalam satu grup dengan sistem setengah kompetisi pula.
Brasil sangat dijagokan menjadi juara. Dalam pertandingan terakhir yang menentukan melawan Uruguay, Stadion Maracana dipadati 199.954 penonton. Rekor jumlah penonton dalam satu pertandingan itu tak pernah pecah hingga saat ini. Namun, di hadapan ratusan ribu pendukungnya, Brasil justru rontok 1-2 di tangan Uruguay. Piala Jules Rimet, nama trofi yang mengacu pada nama Presiden FIFA pun, kembali ke tangan Uruguay untuk kali kedua.
Kekalahan Brasil berdampak buruk. Sejumlah pendukung Tim Samba memilih bunuh diri karena frustrasi. Peristiwa kekalahan Brasil ini disebut sebagai Maracanazo (Bencana Maracana). Kiper Brasil berkulit hitam, Moacir Barbosa, menjadi musuh rakyat. Ia dianggap membawa sial dan ditolak di mana-mana, termasuk di tempat latihan tim nasional Brasil pada Piala Dunia 1994. Barbosa meninggal dunia pada tahun 2000 dalam keadaan bangkrut dan kesepian. Ajal memapaknya empat hari setelah berulang tahun.
Jerman kembali ke kancah sepak bola dunia pada 1954. Setelah hancur karena Perang Dunia II dan dibagi menjadi barat dan timur, Jerman mulai memperbaiki citra, termasuk dalam urusan sepak bola. Piala Dunia di Swiss menjadi arena kebangkitan mereka.
Tak ada yang menduga Jerman (Barat) bakal bangkit, karena saat itu Hungaria justru yang diperhitungkan. Negara Eropa Timur itu memiliki mesin gol hebat bernama Ferenc Puskas. Dalam babak penyisihan grup, Hungaria menghajar Jerman 8-3.
Brasil pun ditundukkan 4-2 dalam pertandingan yang brutal dan kasar dan dikenang sebagai ‘Pertempuran Bern’ (karena diselenggarakan di kota Bern). Di semifinal, giliran juara bertahan Uruguay dibikin bertekuk lutut oleh Hungaria dengan skor 4-2 melalui perpanjangan waktu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”piala-dunia”]
Hungaria bertemu Jerman (Barat) di final. Tidak ada yang menggungulkan Der Panzer walau di semifinal sudah menekuk Austria 6-1. Namun ini final kontroversial. Hungaria sudah unggul 2-0 dalam waktu delapan menit. Namun, Jerman menunjukkan mental juara dengan mencetak dua gol balasan dalam jangka waktu sebelas menit.
Kontroversi pun terjadi. Jerman unggul 3-2 melalui Rahn. Hungaria tak mau dipermalukan Puskas menunjukkan kelasnya dengan mencetak gol balasan dua menit sebelum pertandingan usai. Wasit William Ling dari Inggris mengesahkan gol tersebut. Namun hakim garis Griffith menyatakan Puskas dalam posisi offside. Akhirnya Ling tidak mengesahkan gol tersebut.
Setelah laga final yang seru tersebut, rumor berembus: pemain Jerman menggunakan doping untuk tetap fit. Namun apapun rumornya, FIFA tak pernah mencabut gelar juara dunia dari Jerman. Di luar kontroversi itu, pertandingan final Piala Dunia 1954 menunjukkan mental juara tim Jerman yang bertahan dari masa ke masa. Padahal saat itu Jerman terdiri atas para pemain amatir. [wir]






