Yosep El Kepet, seorang Aremania, masih mengingat hari itu dengan wajah bahagia. Minggu sore, 16 November 1997. Bersama sekitar lima puluh orang pendukung Arema Malang lainnya, ia menginjak lantai tribun Stadion Gelora 10 Nopember, Tambaksari, Surabaya, untuk pertama kalinya dengan beratribut lengkap.
“Budal koyok ngimpi. Nang Suroboyo kita memakai atribut lengkap,” kata Kepet, dalam film dokumenter Cerita dari Tribun: Mendukung Tanpa Membunuh milik CNN Indonesia yang diunggah di Youtube, 22 Juli 2019.
Hatinya berdebar keras tentu saja. Ini Surabaya, ini Stadion Tambaksari, kandang Persebaya Surabaya, klub yang sejak lama dianggapnya rival. Mereka berjalan memasuki lorong masuk stadion menuju tribun VIP. Begitu melihat lapangan hijau di depan mata, tahulah Kepet jika tak sedang bermimpi. “Wih, Tambaksari, Rek,” katanya.
Jawa Pos edisi Senin, 17 November 1997, meletakkan berita kehadiran puluhan Aremania itu pojok kiri bawah halaman 17, halaman khusus olahraga. Judulnya: Pemandangan ‘Aneh’ di Tambaksari – Suporter Arema Aman Berjingkrak.
Artikel itu menyebutkan:
Apakah ini pertanda suporter kita sudah bisa bersatu? Entahlah. Yang jelas, kemarin, kita bisa melihat suporter Persebaya yang arif. Di lapangan praktis tidak ada aksi lempar. Paling banter, puluhan tibu suporter itu hanya meluapkan kekesalan dengan mengatai wasit.
Dan puncak kearifan mereka terlihat dari sikap mereka terhadap segerombolan suporter Arema. Suporter Persebaya hanya mengolok-olok tanpa melakukan aksi-aksi kekerasan seperti dulu. Tak ada lempar-lemparan, tak ada adu jotos atau aksi pukul.
Pertandingan perdana Liga Indonesia musim 1997-98 antara Persebaya dan Arema berakhir 0-0. Namun berbeda dengan hasil serupa dalam pertandingan dua klub itu pada 4 September 2006 yang memicu kerusuhan besar di Tambaksari, tak ada amarah luar biasa yang ditunjukkan Bonek. Padahal beberapa bulan sebelumnya, 26 Maret 1996, Persebaya membantai Arema 6-1.
Di atas lapangan hijau, striker Jacksen F. Tiago gagal mengulang kedigdayaan atas Singo Edan. Jika pada pertandingan musim sebelumnya, ia mencetak gol pada menit ke-7, kali ini ia gagal menaklukkan kiper Dwi Sasmianto. Setidaknya ada empat peluang emas yang seharusnya berbuah gol. “Tuhan tak menghendaki kami menang, ya inilah hasilnya,” katanya dikutip Jawa Pos.
[berita-terkait number=”3″ tag=”aremania”]
Hasil pertandingan memang jauh dari kata mengesankan. Sebagai juara bertahan, Persebaya yang saat itu diasuh Rusdi Bahalwan mengawali musim 1997-98 dengan buruk. Setelah bermain imbang 0-0 dengan Arema di Tambaksari, mereka ditahan Persiraja 0-0 di Banca Aceh.
Hasil buruk tersebut seolah merepresentasikan kompetisi Liga Indonesia musim 1997-98 secara keseluruhan. Sepak bola harus terhenti di tengah jalan karena terjadinya aksi-aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang berujung pada lengsernya Presiden Soeharto.
Namun musim 1997-98 tetap akan dikenang Bonek sebagai musim bersejarah. Kehadiran Aremania hari itu adalah pertama kali suporter tim lawan hadir di Surabaya dengan menunjukkan identitas. Tak ada yang menyangka hal itu akan terjadi.
Sehari sebelum pertandingan, tak ada tanda-tanda dan berita di media massa bahwa Aremania akan hadir di Tambaksari. Jawa Pos edisi 16 November 1997 hanya mengulas pra pertandingan secara teknis. Saat itu, kendati diunggulkan, lini tengah Persebaya disebut tengah bermasalah. Budi Juhanis, mantan pemain Persebaya, memperkirakan Bajul Ijo bakal unggul tipis.
Proses kehadiran Aremania di Tambaksari juga tak terlalu dipaparkan detail di media massa. Jawa Pos hanya menulis, mereka dikoordinasi langsung oleh Komandan Distrik Militer TNI Kota Malang Letnan Kolonel Infantri Sutrisno yang juga Ketua Arema dan Ovan Tobing. Mereka berangkat pada pukul 10 pagi dari stasiun kereta api Kota Baru dengan kawalan petugas.
Jawa Pos juga memuji panitia pelaksana dari Persebaya. Mengamankan para Aremania, panitia pelaksana menyediakan tempat di pojok kiri tribun VIP. Mereka juga dikeluarkan dari stadion sekitar 20 menit sebelum pertandingan berakhir.
Jawa Pos menutup artikel tersebut dengan pertanyaan: Bisakah di putaran kedua ganti suporter Persebaya ngluruk ke kandang Arema dengan suasana yang aman? Jawabnya, pasti bisa.
Sayangnya, gayung tak bersambut. Saat Persebaya bertanding melawan Arema di Stadion Gajayana, Malang, 12 April 1998, Bonek tak diperkenankan hadir. Ratusan suporter Persebaya yang berangkat ke Malang dipulangkan dengan sepuluh truk militer ke Markas Kepolisian Daerah Jawa Timur dengan pengawalan ketat. “Saya dicakup di stasiun. Padahal saya naik kereta dengan tiket,” kata Harianto, seorang suporter asal Wonokromo, sebagaimana dikutip Jawa Pos.
Sebagaimana pertandingan di Surabaya, pertandingan di Malang ini berakhir 0-0. Setidaknya diperkirakan ada 17 ribu orang yang memadati stadion hingga turun ke tepi lapangan. Jawa Pos menulis: Selama pertandingan, lapangan relatif aman. Memang ada satu dua lemparan batu ke lapangan. Tapi, karena mengenai pemain Arema sendiri yakni Rudy Haryantoko, penonton akhirnya menghentikan sendiri aksi lempar tersebut.
Wasit Purwanto mengakhiri pertandingan dua menit sebelum waktu normal habis. Saat itu, pemain Arema dan Persebaya langsung diamankan dan tak ada wawancara dengan wartawan usai pertandingan. Jawa Pos menulis pernyataan Karwoto, penasihat Persebaya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bonek”]
“Lebih baik langsung pulang agar anak-anak tenang,” kata Karwoto. Sebab, lanjutnya, meski sudah menggunakan bus milik Kodam V Brawijaya dan kawalan ketat satu peleton Yonif 507, bus tetap dilempari ketika masuk dan keluar stadion. Akibatnya kaca depan bus pecah. “Kami kan khawatir jika berlama-lama di sini,” ungkap dia.
Dua puluh lima tahun berlalu. Apa yang terjadi di Tambaksari, 16 November 1997, tak ubahnya lirik lagu Kabar Damai, karya seniman Malang Anto Baret: Untuk apa terus bertengkar. Pertemuan ini adalah kabar.
Dan kehadiran Aremania di Tambaksari memang menjadi satu-satunya kabar baik di tengah rivalitas suporter Persebaya dan Arema. Selama seperempat abad, kita hanya mendengar kabar buruk dari kedua kubu mulai dari kerusuhan hingga kematian suporter. Api itu terus menyala, tak kunjung padam.
Iwan Iwe, salah satu pegiat Bonek Writers Forum pernah mengatakan, kuncinya adalah respek. Saling menghormati eksistensi satu sama lain. Itu artinya tak boleh ada lagi chant maupun nyanyian yang menujukkan ancaman dan kebencian berlebihan. Ketidaksepakatan dan ketidaksukaan tidak boleh berujung pada maut dan luka.
Maka setelah seperempat abad berlalu, apa yang terjadi pada 16 November 1997 layak kembali dikenang. Karena pertemuan ini adalah kabar. [wir/suf]






