Jombang (beritajatim.com) – Rombongan dari Fakultas Vokasi ITS (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) Surabaya mengunjungi produsen kecambah ale yang ada di Desa Bandung Kecamatan Diwek Kabupaten Jombang Jawa Timur, Sabtu (12/11/2022). ITS memberikan bantuan berupa mesin pemisah biji ale. Tujuannya, agar memudahkan kerja pelaku usaha kecambah berbahan biji klampis tersebut.
Desa Bandung Kecamatan Diwek merupakan sentra produksi kecambah ale di Kabupaten Jombang. Ada sekitar 30 orang yang menggantung hidup dari pembuatan tauge dengan ukuran besar itu. Adalah M Kiswadi (58), salah satunya. Kiswadi sudah 40 tahun menggeluti bisnis tersebut. Kiswadi adalah generasi kedua. Sebelumnya, usaha tersebut dirintis oleh sang mertua.
Kini dua anak Kiswadi juga menggeluti bidang usaha serupa, yakni Waskito (26) dan Ageng Pangestu (24). Walhasil, dari produksi kecambah ale rezeki untuk keluarga ini mengalir deras. Bukan hanya untuk pasar Jombang dan sekitarnya, tapi juga memenuhi kebutuhan di Pasar Keputran Surabaya dan Pasar Sayur Pare Kabupaten Kediri.
[berita-terkait number=”2″ tag=”its”]
Sebelum rombongan dari ITS datang, Kiswadi dan anaknya sudah sibuk di ruangan rumahnya bagian belakang. Ada juga dua tetangganya yang membantu. Di ruangan itu mereka sibuk memilih kecambah ale yang siap panen. Kecambah itu dikumpulkan, lalu dipisahkan dari penutupnya atau tumpi. Setelah itu tauge berukuran besar tersebut dikemas dalam plastik merah ukuran 10 kilogram. Dalam sekejab ada lima plastik besar berisi kecambah.
“Ini (kecambah ale) hendak dikirim ke Pasar Keputran Surabaya. Satu plastik besar ini bobotnya 10 kilogram. Dalam sehari kami bisa mengirimkan satu kuintal. Juga ke Pasar Sayur yang ada di Pare Kediri,” kata Kiswadi sembari menunjukkan kecambah ale yang siap kirim.
Butuh Waktu 8 hingga 9 Hari

Membuat kecambah ale bukan hal mudah. Namun membutuhkan proses panjang. Mulai bahan baku hingga menjadi kecambah siap jual membutuhkan waktu antar 8 hingga 9 hari. Itu karena bahan baku, yakni biji klampis kulitnya tebal. Warnanya kecoklatan. Di ruangan milik Ageng, terdapat berkarung-karung biji klampis. Bahan baku yang tertata rapi itu didatangkan dari NTT (Nusa Tenggara Timur).
Sebelum menjadi kecambah, biji klampis tersebut direndam dulu dalam tempat khusus menyerupai kolam. Rendaman pertama untuk memisahkan biji kualitas bagus dan yang jelek. Biji yang kualitasnya kurang bagus akan mengambang di air, sedangkan yang bagus tenggelam. Biji yang mengapung dibuang. Karena biji tersebut tidak akan bisa tumbuh menjadi kecambah.
Setelah itu, biji klampis yang sudah terseleksi itu direndam lagi menggunakan drum plastik. Rendaman kedua ini membutuhkan waktu dua hari. Selama itu akan terlihat biji klampis yang mengembang dan tidak. Biji mengembang ditandai dengan bentuknya yang membesar. Sedangkan yang tidak mengembang bentuknya tetap kecil.
Dari situ dilakukan pemisahan. Untuk memudahkan pengambilan biji yang mengembang dan tidak, Kiswadi menggunakan saringan berupa ember plastik yang permukannya terdapat lubang-lubang kecil. Ember yang berisi biji klampis tersebut digoyang-goyangkan. Biji yang besar akan tersaring, sedangkan yang kecil kembali masuk drum.
[berita-terkait number=”2″ tag=”umkm”]
Nah, biji yang sudah mengembang itu dipindah media tanam yang sudah disiapkan. Media tanam bisa berupa keranjang atau drum. Nah, dari media tanam itulah biji klampis berubah menjadi kecambah. Sedangkan biji yang kecil direndam lagi menggunakan air panas agar bisa mengembang.
“Ketika sudah mengembang dipindah ke media tanam. Selama berada di media tanam harus disiram setiap delapan jam. Biji klampis tersebut selama lima hari berada di media tanam. Ketika kecambah sudah berukuran 5 hingga 6 centimeter berarti siap panen. Tahapan selanjutnya kecambah kita panen dan kita kemas untuk dibawa ke pasar. Harganya Rp10 ribu per kilogram,” ujar Kiswadi.
Mesin Pemisah Biji Ale

Di ruangan produksi kecambah ale itu nampak pula mesin berukuran besar yang digerakkan menggunakan motor listrik. Mesin itu sumbangan dari ITS Surabaya. Gunanya, untuk memisahkan ukuran biji klampis atau bahan baku kecambah ale. Tentu saja, dengan adanya mesin tersebut, Kiswadi tak lagi memeras keringat untuk menggoyang-goyangkan saringan manual berbahan emmber.
Untuk memisahkan biji yang mengembang dan tidak, dia memasukkan biji klampis ke mesin pemisah. Biji ale dimasukkan ke dalam hopper (penampung sementara biji ale sebelum diproses ke dalam saringan). Selanjutnya tersalurkan ke pipa yang berputar secara rotasi. Sehingga biji ale yang tidak mengembang terjatuh di drum plastik atau stainer. Presos pemilihan ini lebih cepat dibanding menggunakan cara manual.
Kiswadi lalu membuat perbandingan. Jika memilah biji klampis sebanyak 4 kuintal secara manual membutuhkan waktu 4 hingga 5 jam. Sedangkan pemilahan menggunakan mesin dari ITS, tidak sampai dua jam sudah selesai. “Artinya, dengan mesin pemisah ini meringankan kerja kita. Sangat membantu dalam memproduksi kecambah ale,” kata bapak dari empat anak ini.
Dosen Teknik Mesin Industri ITS Ir Nur Husodo MS yang datang ke rumah Kiswadi bersama sejumlah mahasiswa dan dosen lain nampak mengamati setiap proses pembuatan kecambah ale. Bahkan tidak jarang, pria kelahiran Magelang Jawa Tengah ini melakukan dialog dengan Kiswadi dan juga Ageng. Semisal menanyakan tentang potensi lain yang belum tergarap dalam home industri kecambah ale.
Nur mengatakan bahwa bantuan mesin pemilah biji ale tersebut dalam rangka penerapan pengabdian masyarakat ke pelaku sektor riil. Juga bagian dari PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa). Dia berharap mesin pemisah yang sudah diberikan ITS bermanfaat bagi pelaku usaha kecambah ale.

“Kami membantu masyarakat agar kerjanya lebih efisien. Sehingga potensi lokal yang ada di Desa Bandung ini lebih bisa bersaing. Ini merupakan program pengabdian masyarakat. Dari pembicaraan dengan pemilik usaha, masih banyak TTG (teknologi tepat guna) yang bisa diterapkan di sini,” kata Nur.
Untuk tahap awal, lanjut Nur Husodo, hanya mesin pemisah biji ale. Selanjutnya, tiga mahasiswa yang ikut dalam kunjungan tersebut akan membuat proposal PKM (program kreatifitas mahasiswa). Karena yang belum tergarap masih banyak. Semisal soal mesin perontok kulit biji klampis, kemudian proses pertumbuhan kecambah yang butuh sensor panas dan kelembaban, sehingga tumbuhnya kecambah bisa bersama-sama. Serta soal pengolahan limbah (kulit kecambah) yang bisa digunakan pakan ternak.
[berita-terkait number=”2″ tag=”kuliner”]
“Masih banyak peluang di sini. Nah, tiga mahasiswa Vokasi ITS ini akan kita pandu untuk membuat program kreatifitas. Bisa melalui program penerapan teknologi tepat guna, juga bisa program pengabdian masyarakat, serta kwirausahaan. Ini upaya kami membangkitkan potensi lokal, sehingga mampu menyerap tenaga kerja,” ujar Nur Husodo.
Kuliner Berbahan Kecambah Ale

Selain melihat proses produksi kecambah ale, rombongan dari Fakultas Vokasi ITS juga mendapatkan sajian khusus dari Kiswadi. Rombongan disuguhi kuliner berbahan tauge berukuran besar tersebut. Keluarga Kiswadi memasak nasi dan sayur bening berlauk ayam.
Sajian tersebut semakin klop dengan sambal tempe rebus yang dicampur kecambah ale. Kiswadi menyilakan seluruh tamu untuk menikmati kuliner tersebut. Sepiring sambal ale itu pun tandas. “Sudah mengerti proses produksi kecambah ale. Juga sudah menimati kuliner berbahan kecambah ale. Jadi sudah lengkap,” kata Kiswadi.
Sebenarnya, menurut Kiswadi, kecambah ale bukan hanya untuk sambal atau urap-urap. Namun masih banyak masakan lain yang menggunakan bahan kecambah ale. Semisal sayur lodeh, nasi pecel, oseng-oseng, aneka tumis, gulai, botok atau pepes, dan lainnya.

Sudah begitu, kecambah ale juga memiliki nilai gizi tinggi. Yakni memiliki kandungan protein dan zat besi. Kecambah ale juga semakin membuat sedap masakan. Karena bau kecambah ini sangat khas. Sekilas aromanya mirip petai. Makanya, Kiswadi punya angan-angan memnggelar festival kuliner berbahan kecambah ale di desanya.
“Saya pernah punya rencana untuk membuat lomba kuliner berbahan ale. Tujuannya untuk mempromosikan kecambah ale. Juga untuk mengukuhkan bahwa Desa Bandung merupakan sentra produksi kecambah ale. Karena di desa ini ada puluhan produsen ale. Ini sudah puluhan tahun. Turun-temurun dari mbah-mbah dulu,” kata Kiswadi sembari mengatakan bahwa dirinya juga punya gagasan untuk membentuk paguyuban produsen kecambah ale di Desa Bandung. [suf]






