Ponorogo (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Ponorogo mengkaji opsi untuk menutup atau regrouping Sekolah Dasar (SD) negeri. Langkah ini dilakukan menyusul adanya sejumlah SD negeri yang pagu siswanya belum tercukupi atau kekurangan siswa pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2022
Alasan belum terkecukupinya pagu siswa ini bermacam-macam. Ada yang tidak ada anak di sekitar sekolah hingga banyaknya sekolah dibandingkan jumlah anak di suatu wilayah.
Seperti yang terjadi di SDN 1 Sekaran di Kecamatan Siman. Di sekolah tersebut, saat ini tidak memiliki siswa kelas 5. Alhasil, dengan keadaan seperti itu, SDN 1 Sekaran ini beberapa waktu yang lalu tidak mengikuti Assesment Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
“ANBK ini untuk kelas 5 SD dan guru-guru. Kebetulan saat itu, SDN 1 Sekaran tidak memiliki kelas 5, sehingga tidak mengikuti ANBK” kata Kabid Pembinaan SD Dindik Kabupaten Ponorogo, Edy Suprianto, Sabtu (12/11/2022).
Edy mengungkapkan wacana penutupan atau regruping sekolah harus dikaji dengan benar. Jangan sampai, nanti setelah dilakukan penutupan atau regruping malah timbul gejolak di masyarakat.
Harus ditemukan solusi yang bijak, imbas dari tidak adanya siswa yang mendaftar di sekolah negeri.
“Harus dikaji betul-betul. Berapa jumlah sekolah di desa tersebut dan seberapa dekat jaraknya dengan sekolah lainnya,” ungkapnya.
Sebab, setiap tahunnya ada saja wacana ditutup atau regruping yang akhirnya ditunda. Edy mencontohkan, pendaftaran PPDB tahun ini di sekolah A tidak memperoleh siswa. Tetapi, saat PPDB tahun depan malah ada siswa yang mendaftar.
[berita-terkait number=”5″ tag=”ponorogo”]
“Pengalaman yang sudah-sudah seperti itu. Tahun ini tidak ada yang mendaftar, ganti tahun depan malah ada yang daftar,” ungkapnya.
Namun yang pasti, kata Edy, SD negeri yang akan diregruping yakni SDN 2 Tegalombo di Kecamatan Kauman. Sekolah tersebut, akan diregruping ke SDN 1 Tegalombo.
Hal itu penting dilakukan, karena sekarang hanya tinggal tiga kelas yaitu siswa kelas 3, 4, dan 6. Tahun ini, sekolah tersebut juga tidak ada ya g mendaftar.
“Kita tunggu saja, lambat laun jika kelas 6 sudah lulus, hanya tinggal 2 kelas. Mungkin masyarakat nanti bisa berfikir, dengan keadaan seperti itu, nampaknya perlu dilakukan regruping,” pungkasnya. [end/beq]






