Blitar (beritajatim.com) – Melambungnya Harga kedelai yang mencapai angka 13.900 per kilogram membuat para perajin tahu di Kota Blitar Kebingungan.
Bahkan mereka kini terpaksa mengurangi jumlah produksinya karena tidak kuat untuk membeli kedelai yang harganya terus meningkat.
Seperti yang dialami oleh Arif Ristianto, Sejak Beberapa pekan terakhir perajin tahu asal kelurahan Pakunden Kota Blitar itu terpaksa mengurangi jumlah produksinya. Ia terpaksa mengurangi penggunaan bahan baku kedelai hingga 50 kilogram per hari, karena tidak kuat untuk membeli kedelai dalam jumlah banyak.
“Sulit ini mas, kedelai mahal gak sanggup beli banyak banyak-banyak, produksinya pun saya kurangi hingga 50 kilogram lebih” kata Arif Ristianto, Rabu (9/11/2022).
Jika biasanya dalam satu hari Arif Ristianto mampu menghabiskan 1 ton 50 kilogram Kedelai untuk bahan baku tahu, tapi kini ia terpaksa harus berproduksi dengan menggunakan bahan baku kedelai kurang dari 1 ton saja.
Hal itu terjadi setelah harga kedelai terus naik sehingga ia tidak mampu untuk membeli kedelai dalam jumlah banyak.
Tidak hanya itu, untuk menutupi biaya bahan baku yang naik, ia pun terpaksa menaikkan harga jual tahunya 500 rupiah per potong. Jika di hari normal harga tahu dijual dengan harga 2000 rupiah kini harga tahu produksi Arif Ristianto naik menjadi 2500 rupiah per potongnya.
“Harganya juga kita naikkan 500 rupiah per potongan mas soalnya buat nutupin biaya kedelai yang naik” imbuhnya.
Tidak hanya itu, untuk ukuran tahu pun kini juga terpaksa harus diperkecil imbas dari terus naiknya harga kedelai. Menurut Arif Ristianto harga kedelai setiap pekan terus mengalami peningkatan yang terakhir harga kedelai di tingkat distributor kini bahkan telah menyentuh angka 13.900 rupiah per kilogramnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”harga-kedelai”]
Kondisi itu pun berimbas pada anjloknya omzet penjualan tahu produksinya. Meski demikian, ia langkah itu terpaksa ia ambil agar usaha tahu miliknya tidak gulung tikar.
“Omzet pasti anjlok mas apalagi kondisi saat ini seperti ini tapi ya gimana lagi penting usaha masih bisa jalan udah Alhamdulillah” pungkasnya.
Kondisi yang sama juga dirasakan oleh Perajin Tempe asal Kota Blitar lainnya yakni Usman. Ia terpaksa menaikkan harga jual tempenya demi menutupi biaya bahan baku kedelai yang mahal.

Harga jual tempe produksi Usman pun kini mengalami kenaikan harga hingga 1000 rupiah per potong. Jika di hari normal tempe dijual dengan harga 4 ribu rupiah kini disaat kedelai mahal harga tempe berubah harga menjadi 5 rupiah per potongnya.
“Harga tempa juga ikut naik mas naik seribu perpotong” ungkap Usman.
Naiknya harga kedelai yang terus terjadi memang menjadi keluhan serta kebingungan tersendiri bagi para perajin tempe dan tahu di kota Blitar. Ancaman gulung tikar kini bahkan semakin dekat seiring terus meningkat harga kedelai di tingkat distributor serta pengecer. (owi/ted)






