Mojokerto (beitajatim.com) – Dengan cara penanaman yang baik dan modern, dalam lima tahun kedepan Indonesia bisa swasembada gula nasional.
Hal tersebut disampaikan saat meresmikan program Bioethanol Tebu Untuk Ketahanan Energi di PT Enero (Energi Agro Nusantara) Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto.
Pemerintah Republik Indonesia (RI) baru memulai revitalisasi industri gula nasional untuk ketahanan pangan di tengah ancaman krisis pangan dunia. Jokowi menyatakan bahwa pemerintah RI telah memulai sesuatu yang baru terkait urusan tebu. Yakni revitalisasi industri gula dan pemanfaatan bibit tebu dari negara Brazil.
“Dalam lima tahun kedepan kita bisa mandiri dan ketahanan pangan utamanya gula bisa kita lakukan sendiri tanpa harus impor tapi butuh waktu lima tahun kedepan target kita seperti itu. Perlu kerjasama yang baik antara petani dan pabrik gula dalam meningkatkan produktivitas gula,” ungkapnya dalam sambutan, Jumat (4/11/2022).
Masih kata Jokowi, pemerintah juga akan segera merejamakan mesin-mesin pengolahan di seluruh pabrik gula untuk memaksimalkan hasil tanaman tebu. Diharapkan sistem penanaman yang baik dan modern ini dalam tempo lima tahun dapat mewujudkan kemandirian dan ketahanan pangan terutama gula.
“Kita telah memulai sesuatu yang baru untuk urusan tebu. Karena kita menggunakan varietas yang paling baru ini. Disini itu tidak perlu pemupukan nitrat, potas, itu tidak perlu karena tanahnya sudah subur. Saya perintahkan pada menteri BUMN menyiapkan bibit varietas yang paling baik, oleh sebab itu kita bekerja sama dengan Brasil,” katanya.
Brasil dinilai memiliki pengalaman dalam managemen (penanaman) mengenai tebu dan gula. Pemerintah RI, lanjut Jokowi, tengah bekerja keras menciptakan 700 ribu hektar lahan untuk penanaman tebu. Apabila hal ini tercapai, maka tidak menutup kemungkinan 5 tahun ke depan RI bisa swasembada gula.
“Setelah ditanam ini, setelah 26 hari lihat hasilnya sangat luar biasa. Biasanya di Brazil nongolnya 2, disini bisa 4 sampai 5. Kalau kita bisa betul-betul menyiapkan 700 ribu hektar, kita akan mandiri, kita akan swasembada gula dalam 5 tahun ke depan, dan akan saya siapkan untuk yang 700 ribu hektar, sekarang sudah dapat 180 ribu hektar,” jelasnya.
Jokowi menjelaskan, jika budaya menanam tebu yang bagus ada di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Namun kedepan, tanaman tebu akan ditanam di luar Pulau Jawa karena dibutuhkan 700 ribu hektar. Jokowi menjabarkan, jika 700 ribu hektar tersebut bukan lahan yang kecil.
“Impor gula konsumsi sampai saat ini, kita masih mengimpor 1.880.000 ton sudah jumlah yang sangat besar. Sedangkan impor gula untuk industri menyentuh angka 3.569.000 ton. Padahal kita tahu, tahun 1980-an kita ini raja gula. Ekspor kita kemana-mana ke semua negara,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Menteri BUMN, Pahala Nugraha Mansury menjelaskan terkait transformasi di pasar perkebunan yang dilakukan oleh PTPN III. “Kondisi keuangan dari PTPN III terus menunjukkan perkembangan yang baik. Ini terlihat dari total jumlah penjualan bulan sampai September 2022 sudah mencapai kurang lebih Rp39 triliun,” ujarnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pt-enero”]
Masih kata Pahala, ada pendapatan sebesar Rp4,5 triliun atau ada peningkatan sebesar 54 persen. Capaian tersebut tidak membuat cepat puas, namun PTPN III terus melakukan transformasi, termasuk yang terjadi pada tanggal 7 Oktober 2022 lalu. Yakni adanya pengabungan 36 pabrik gula yang sebelumnya berada ada di tujuh PTPN serta dua cucu anak perusahaan.
“Saat ini, sudah kami gabungan dan konsolidasikan dalam satu perusahaan yaitu PT Singergi Gula Nusantara atau yang selama ini dikenal sebagai Sugar gold sebagai upaya kami, bagaimana di PTPN III bisa berupaya untuk melakukan peningkatan produktivitas gula nasional sesuai arahan Bapak Presiden, kita segera mencapai swasembada gula nasional dalam lima tahun kedepan,” tegasnya.
Selain peningkatan kinerja keuangan, lanjut Pahala, juga ada peningkatan produktivitas produksi gula di PTPN III. Di tahun 2022 ini, produksi gula di PTPN III mencapai 872.000 ton atau meningkat dibanding yang dicapai di tahun 2021 lalu yakni sebesar 768.000 ton. Dengan adanya PT SGN, diharapkan bisa ditingkatan dengan harapan tidak hanya memenuhi kebutuhan gula nasional tapi juga peningkatan kesejahteraan petani.
“Sehingga jumlah lahan yang saat ini mencapai 108.000 hektar, dengan meningkatnya kesejahteraan petani diharapkan bisa meningkatkan lahan yang bisa dikelola. Sehingga harapan kami dalam waktu dekat bisa mencapai sesuai harapan Bapak Presiden yakti 700 ribu hektar yang ditanami tanaman padi sehingga dalam waktu dekat bisa swasembada gula,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, dan Bupati Mojokerto Ikfina Fahmawati, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati, dan Direktur Utama PTPN III Mohammad Abdul Ghani.[tin/ted]







