Jombang (beritajatim.com) – Tiga pendiri NU (Nahdaltul Ulama) berasal dari Jombang Jawa Timur. Mereka adalah Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari (pendiri pesantren Tebuireng), KH Wahab Chasbullah (pesantren Tambakberas), serta KH Bisri Syansuri (pendiri pesantren Denanyar).
Namun dari tiga kiai tersebut hanya Kiai Bisri yang belum mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Kiai Hasyim dan Kiai Wahab sudah mendapatkan gelar tersebut. Padahal peran Kiai Bisri sangat besar sangat resolusi jihad mempertahankan kemerdekaan RI. Peran pendiri PPMM (Pondok Pesantren Mambaul Maa’rif) Deanayar ini juga sangat besar saat terjadi agresi militer Belanda.
Kiai Bisri-lah yang menyelamatkan ayahanda Gus Dur, KH Wahid Hasyim, saat dikejar-kejar Belanda ketika agresi militer II tahun 1947. KH Wahid yang juga menantu Kiai Bisri itu disembunyikan di sebuah desa terpencil di tepi Sungai Brantas, yakni Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. Wahid Hasyim dititipak di rumah Salamun yang merupakan santri dari Kiai Bisri.
Cerita sepak terjang Kiai Bisri pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini diungkapkan oleh KH Anas bin Salamun dalam Focus Group Disussion (FGD) Pengajuan Gelar Kepahlawanan KH M Bisri Syansuri (Pendiri NU dan Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif) yang diselenggarakan di Hotel Fatma Jombang, Kamis (27/10/2022).
Anas mendapatkan cerita tersebut dari ayahnya yang bernama Salamun yang merupakan murid langsung KH Bisri Syansuri. Menurut Anas, ayahanda Gus Dur itu berada di Desa Turipinggir selama empat bulan. Desa Turipinggir sendiri terletak di barat Denanyar. Jaraknya kedua desa ini sekitar 8 kilometer.
Selama di desa yang berada di tepi Sungai Brantas itu, Kiai Wahid ditemani Salamun, Ahmadun, Munandar, serta dijaga ketat oleh Laskar Hizbullah. Tiga orang tersebut masih kerabat. Ayahanda Anas sendiri menjadi santri Kiai Bisri mulai usia 6 tahun, tepatnya 1921, hingga remaja. “Saya mendapatkan cerita tentang Kiai Bisri Syansuri dari bapak. Karena alamrhum bapak saya menjadi santri Denanyar sejak 1921,” kata Kiai Anas.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pendiri-nu”]
Saat berada di Desa Turipinggir, lanjutnya, KH Bisri Syansuri selalu mengirimkan hidangan matang berupa kepala kambing kepada sang menantu. Hal itu dilakukan setiap malam Jumat. Pengantar hidangan itu adalah dua santri Denanyar. Keduanya berjalan kaki dari Desa Denanyar ke Turipinggir.
Pada bagian lain, Kiai Anas juga menceritakan kiprah KH Bisri Syansuri saat pendudukan tentara Jepang, yakni tahun 1942. Saat itu pendiri pesantren Denanyar ini memberikan nasihat kepada Salamun agar kembali menuntut ilmu di Pesantren Semelo, Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, dibawah asuhan KH. Umar Zahid.
Kiai Bisri juga meminta Salamun untuk bergabung dengan Laskar Hizbullah. Perintah tersebut ditulis oleh Kiai Bisri dalam huruf pegon atau arab jawa. Bunyinya, “Bangunlah Wahai engkau para pemuda yang terhormat, untuk melayani tanah airmu! Dengan kalianlah tanah air ini bangkit, dengan kalianlah tanah air ini bangkit, maka tinggikan jihadmu untuk menggapai yang terbaik, dengan persatuan yang berlimpah-limpah, wahai engakau para pemuda yang terhormat!” tulis KH. Bisri Syansuri dalam surat yang ditujukan kepada KH. Salamun yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
Resolusi Jihad

Kemudian di saat resolusi jihad NU tanggal 22 Oktober 1945 yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari dan para kyai NU se-Jawa Madura di Surabaya. Salamun dan ahmadun (adik) dan juga segenap alumni santri-santri Denanyar lain, mendapat surat perintah melalui kurir santri KH Bisri Syansuri untuk segera berangkat jihad ke Surabaya. Bersiap jiwa raga untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru 2 bulan diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Selanjutnya, tepat pada 25 Oktober 1945 di markas para kiai di perbatasan Sidoarjo-Surabaya, Salamun melihat gurunya KH. Bisri Syansuri, KH. Wahab Chasbullah, Hadratussyech KH. Hasyim Asyari dan para kiai sepuh lain berkumpul rapat untuk mengatur barisan-barisan laskar di sana.
Kemudian, KH Bisri Syansuri jugalah yang mengatur semua logistik makanan untuk para pejuang berupa tiwul atau Gatot (makan berbahan ubi kayu) yang dibungkus daun pisang. “Na, berdasarkan cerita Bapak saya, KH Bisri Syansuri adalah seorang kiai yang benar-benar nyata berjuang mempertahankan kemerdekaan bangsa ini, Kiai yang memiliki peran besar dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” jelasnya.
Layak Sebagai Pahlawan Nasional
FGD Pengajuan Gelar Kepahlawanan KH M Bisri Syansuri ini digelar Forum Muhibbin Mbah Bisri Syansuri (FMMBS). Forum tersebut beranggotakan orang biasa, santri, serta kiai. Selain santri Mbah Bisri, FGD juga menghadirkan narasumber Prof. Kacung Marijan dari Akademisi, dan Moch. Faisol pemerhati sejarah/penulis buku ‘Sanad Foto Tiga Kiai Pendiri NU dari Jombang’.
Ahmad Zainuddin, Koodinator FMMBS mengungkapkan bahwa sudah selayaknya KH. Bisri Syansuri mendapatkan gelar pahlawan nasional. Menurutnya, jejak perjuangan KH. Bisri Syansuri dalam pra kemerdekaan bahkan pasca kemerdekaan Republik Indonesia sudah tidak perlu diragukan lagi. “Dengan adanya forum ini, kami berharap agar gelar Pahlawan Nasional segera diproses dan ditetapkan oleh pemerintah,” katanya di tempat yang sama.
[berita-terkait number=”3″ tag=”resolusi-jihad”]
“Selanjutnya, referensi, data dan hasil temuan dari FDG, akan dikumpulkan dan dirumuskan kemudian disampaikan kepada pihak yang berwenang sebagai bahan pertimbangan penetapan gelar Pahlawan Nasional kepada KH. Bisri Syansuri. Supaya ada upaya percepatan dalam penetapan Mbah Bisri sebagai Pahlawan Nasional,” lanjutnya.
Pihaknya juga berkomitmen akan selalu mengawal hingga tuntas. Mengingat sudah banyak orang yang menginginkan KH. Bisri Syansuri sebagai Pahlawan Nasional. “Pengajuannya sudah lama, kini sudah masuk ke Kemensos. Jadi tinggal keputusan dari Presiden. Kami akan siap mengawal hingga tuntas,” terangnya.
Tanggapan Keluarga

Pasalnya pihak keluarga sudah menganggap KH. Bisri Syasuri sebagai pahlawan dalam keluarga. “Bagi kami sebagai keluarga, ditetapkan atau tidak Mbah Bisri sebagai Pahlawan Nasional, beliau tetap pahlawan bagi kami. Namun demikian, kami tetap memberikan apresiasi kepada masyarakat umum, alumni, dan juga warga NU yang berikhtiar agar Mbah Bisri diberi gelar pahlawan nasional dari pemerintah,” jelas cucu KH Bisri Syansuri ini.
Gus Salam, panggilan akrab KH Abdussalam Shohib, menggarisbawahi bahwa ada dua hal yang bisa diambil sebagai tauladan dari sosok KH. Bisri Syansuri. Pertama, Mbah Bisri seorang pelayan. Yakni mendarmabaktikan hidupnya kepada guru, saudara, agama dan bangsa. “Kedua Kedua beliau sangat tawadu’ dan mengahargai orang lain,” pungkas Wakil Ketua PWNU Jatim ini. [suf]






