Jombang (beritajatim.com) – Suara gamelan mengalun melalui pengeras suara. Iramanya rancak berseling hentakan gendang. Alunan musik tradisional itu semakin klop dengan tiupan terompet khas jaranan atau kuda lumping. Seiring dengan itu, sejumlah penari berlenggak-lenggok mengikuti irama.
Kaki mereka menghentak-hentak tanah. Suara gemerincing dari kaki penari itu kadang terdengar, kadang juga menghilang. Gerak tubuhnya gemulai. Tangan mereka begitu luwes saat menari. Menggerakan tangan ke atas dan ke bawah, ke kanan lalu ke kiri. Demikian juga kepalanya. Kadang menoleh ke kanan, kadang ke kiri. Seirama dengan pukulan gendang.
Sejumlah penari itu juga ‘menaiki’ kuda kepang. Wajahnya berhias make-up tebal. Tentu saja, para penonton yang ada di Taman Kebun Ratu Kecamatan Peterongan Jombang sangat terhibur. Terkadang mereka menggoda para penari jaranan itu dengan siulan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”kuda-lumping”]
Di sebuah sudut yang tak jauh dari pementasan, tungku berbahan tanah liat mengeluarkan asap. Bergulung-gulung menebarkan aroma kemenyan. Baunya khas dan menusuk hidung. Lalu terlihat seorang pria mengenakan udeng penutup kepala. Tangan kanannya membawa cambuk. Sekali hentak, suara gemeletar cambuk itu terdengar keras.
Tempo gamelan yang awalnya lambat, kini semakin cepat. Para penari juga semakin semangat. Hingga akhirnya mereka kesurupan. Bola matanya memutih. Bergerak tak karuan. Seekor ayam yang sudah disiapkan disantap mentah-mentah. Reaksi penonton beragam. Ada yang mundur ke belakang, ada juga yang berteriak kegirangan.
Itulah parade Kesenian Jaranan yang tampil saat deklarasi serikat pedagang kaki lima (Spekal) Jombang di Taman Kebun Ratu, Senin (24/10/2022). Ada belasan kesenian tradisional yang ditampilkan Mulai dari jaran kepang, reog, bantengan dan lainnya. Acara semakin meriah karena ada juga pameran UMKM di lokasi tersebut.
Ratusan warga turut memadati Taman Kebon Ratu untuk menyaksikan penampilan parade seni budaya lokal dari Paguyuban Kesenian Jaranan Jombang (PKJJ) tersebut. Acara yang diselenggarakan Forum Rembug Masyarakat Jombang (FRMJ) itu juga dihadiri Bupati Jombang Mundjidah Wahab, sejumlah OPD, Ketua Spekal Jatim Kohar dan perwakilan BPJS Ketenagakerjaan.

Ketua Spekal Jombang Joko Fattah Rochim mengatakan parade kesenian itu diikuti oleh paguyuban kesenian jaranan Jombang. Fattah menyebut penyelenggaraan pementasan seni tradisional tersebut menjadi salah satu upaya dalam menjaga serta melestarikan budaya yang ada di Jombang.
Selain itu juga memberi ruang kepada pelaku seni setelah hampir dua tahun lebih pementasan kesenian terhenti akibat pandemi Covid-19. “Ini untuk memberikan semangat kepada pelaku seni setelah dua tahun lebih tidak pernah pentas. Juga sebagai wadah kerukunan sesama warga. Sehingga dapat tercipta masyarakat yang memiliki solidaritas dan kekeluargaan tinggi. Ada 16 kelompok jaranan yang mengikuti parade ini,” kata Fattah.
Parade jaranan, lanjut Fattah, bersumber dari dana mandiri. Namun, diakui Fattah juga ada satu perusahaan yang mendukung yakni wahana sejahtera foods, AFCO Grup. “Sekali lagi, kegiatan ini kami gelar untuk melestarikan seni kuda lumping sebagai khasanah budaya lokal. Juga membangkitkan lagi kesenian yang sempat mati suri,” pungkas Fattah. [suf]






