Ponorogo (beritajatim.com) – Dinas Sosial dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Kabupaten Ponorogo membuka dapur umum untuk para pengungsi terdampak tanah retak di Desa Sriti Kecamatan Sawoo Ponorogo.
Ada sekitar 80 warga di desa tersebut mengungsi ke bangunan pasar desa yang belum digunakan untuk perdagangan. Hujan yang terjadi hampir setiap hari, menghantui warga yang rumahnya terdampak tanah gerak.
“Mulai dari kemarin dapur umum didirikan di dekat lokasi pengungsian warga Desa Sriti Kecamatan Sawoo yang terdampak tanah gerak,” kata Kepala Dinsos P3A Kabupaten Ponorogo Gulang Winarno, Sabtu (22/10/2022).
Gulang mengatakan dapur umum harus didirikan karena jika pengungsi tinggal di rumah warga, tempatnya tidak representatif. Sehingga tim tagana dan TRC dari BPBD Ponorogo membuat dapur umum.
Tim Tagana dari Dinsos yang diterjunkan semua personel, namun bergantian. Sehingga setiap saat ada petugas yang selalu bersiaga di dapur umur.
“Kita libatkan semua personel tagana, namun bergantian. Karena personel tagana bekerjasama dengan TRC BPBD Ponorogo melakukan pemantauan untuk evakuasi dan penanggulangan bencana jika sewaktu-waktu ada hujan deras. Sebab, saat ini hujan deras yang mengguyur bisa berpotensi menimbulkan banjir, dan tanah longsor,” katanya
Dapur umum menyediakan makanan untuk para pengungsi tiga kali dalam sehari. Tim dapur membuat makanan dan minuman untuk 80 warga yang mengungsi akibat rumahnya terdampak tanah retak.
Gulang mengaku belum tahu sampaikan kapan dapur umum ini didirikan. Sebab, perlu tidaknya dapur umum didirikan, pihaknya harus melakukan koordinasi dulu dengan BPBD Ponorogo.
“Ada relawan yang mengantarkan makanan ke pengungsi, ada juga pengungsi yang langsung ke dapur umum untuk makan,” pungkasnya.
Untuk diketahui, puluhan warga Desa Ngemplak di Desa Sriti harus mengungsi ke pasar desa setempat. Mereka mengungsi karena rumahnya terdampak bencana tanah gerak. Data BPBD Ponorogo, masyarakat Dusun Ngemplak yang mengungsi ke pasar sebanyak 80 warga.
Jumlah tersebut terdiri dari 29 kepala keluarga (KK) dan di satu RT yang sama. Kalaksa BPBD Ponorogo Henry Indrawardana menyebut dari Dusun Ngemplak itu, yang berpotensi berbahaya dampak tanah gerak hanya satu RT saja.
“Jadi di Dusun Ngempak itu ada satu RT yang rawan terdampak tanah gerak. Tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan, mereka akhirnya mau mengungsi di salah satu pasar di Desa Sriti,” kata Henry.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Ponorogo, Henry Indrawardana menyebut jumlah total warga yang mengungsi di bangunan pasar tersebut sebanyak 80 warga dari 29 KK, yang semuanya berasal dari satu RT yang sama.
“Ada satu dusun yang rawan tanah gerak, tapi yang berpotensi berdampak berbahaya satu RT,” ungkapnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”Ponorogo”]
Dalam tempat pengungsian, Henry menyebut pihaknya menyiagakan sejumlah petugas untuk memantau keadaan para pengungsi. BPBD Ponorogo pun sudah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak, antara lain perangkat desa, Dinas Sosial (Dinsos) serta Dinas Kesehatan (Dinkes). Henry juga membuat dapur umum untuk memenuhi kebutuhan makanan maupun minumannya.
“Perwakilan dari Dinkes juga disiagakan untuk mengecek kesehatan para pengungsi,” katanya.
BPBD Ponorogo juga melakukan koordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung untuk dilakukan pengecekan kontur tanah. Selain itu juga melakukan pengecekan kondisi lokasi atau atau tidaknya.
Henry memastikan bahwa pemeriksaan tersebut paling cepat dilaksanakan pada tanggal 7 November mendatang. Pasalnya harus menunggu jadwal resmi dari PVMBG.
“Kami sudah lakukan pengecekan di lapangan,” pungkasnya. [end/beq]






