Surabaya (beritajatim.com) – Jika kamu mengetahui atau mencurigai seseorang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), maka kamu harus sebisa mungkin membantunya. Namun bagaimana cara yang tepat untuk membantu korban KDRT?
Untuk menjawab pertanyaan ini, sebelumnya kita harus tahu mengenai keadaan dan perasaan korban KDRT terlebih dahulu.
Dunia yang Dilalui Para Korban KDRT
Dunia yang biasa dilalui para korban KDRT tidak jauh dari penderita fisik dan psikis. Mereka bisa menjadi kesepian, terisolasi, dan dipenuhi ketakutan bahkan untuk menjalankan kehidupan sehari-hari.
Aksi untuk membantu korban KDRT terkadang hanya perlu menjangkau dan memberi tahu mereka, bahwa ada orang lain di sisi mereka yang masih bisa dipercaya. Jangan biarkan rasa takut mencampuri urusan orang lain menghalangi kamu untuk bisa menjangkau dan mengulurkan tangan kepada mereka. Setidaknya kamu harus bisa menempatkan diri dan memberi masukan kepada mereka akan kemungkinan penilaian hukum yang berhubungan dengan KDRT.
Bantuan paling utama adalah dengan melaporkan kasus KDRT kepada pihak yang berwenang. Adukan kasus KDRT ke SAPA 129 yang digagas Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA). Layanan ini dapat diakses melalui hotline 021-129 atau whatsapp 08111-129-129 yang mana terdiri dari enam jenis layanan.
Lebih lanjut untuk membantu korban KDRT jangan dilakukan sembarangan. Lakukan sembilan tips berikut untuk membantu kamu membantu seseorang dalam situasi rentan ini.
1. Luangkan Waktu Pada Situasi yang Tepat
Jika kamu sudah memutuskan untuk membantu korban KDRT, usahakan melakukannya pada saat tenang. Terlibat dengan permasalahan KDRT ketika emosi sedang membara dapat menempatkan kamu dalam bahaya. Juga pastikan untuk bisa menyisihkan banyak waktu jika korban memutuskan untuk membuka diri. Jika orang tersebut memutuskan untuk mengungkapkan rasa takut dan frustrasi yang terpendam selama bertahun-tahun, maka kamu tidak akan ingin mengakhiri percakapan karena sudah berkomitmen.
2. Mulai Percakapan
Kamu bisa mengangkat topik mengenai KDRT dengan mengatakan “Saya khawatir sama kamu, karena…” atau “Saya khawatir dengan keselamatanmu…”.
Beberapa korban KDRT biasanya secara tidak sengaja menunjukkan ‘ketakutan’ mereka kepada orang di sekitarnya. Seperti mengenakan pakaian besar untuk menutupi memar atau berubah drastis menjadi orang yang pendiam dan menarik diri. Kedua hal itu bisa menjadi tanda korban, maka kamu harus bersikap peka.
Beri tahu korban bahwa kamu akan menjaga kerahasiaan informasi apa pun yang diucapkan. Jangan mencoba memaksa seseorang untuk terbuka; biarkan percakapan berlangsung dengan alami dan nyaman.
3. Dengarkan Tanpa Menghakimi
Jika korban memutuskan untuk berbicara, dengarkan ceritanya tanpa menghakimi, setelah itu tawarkanlah sebuah nasihat, atau menyarankan solusi. Kemungkinannya jika kamu mendengarkannya secara aktif, korban akan memberi tahu dengan tepat apa yang mereka butuhkan.
Tentu saja kamu juha bisa mengajukan pertanyaan klarifikasi, tetapi biarkan korban melampiaskan perasaan dan ketakutannya terlebih dahulu. Kamu mungkin menjadi orang pertama yang mendengar curhatan dari korban.
4. Pelajari Tanda Peringatan Korban KDRT
Banyak orang mencoba menutupi KDRT yang mereka dapatkan karena berbagai alasan. Dengan mempelajari tanda-tanda KDRT, kamu dapat membantu mereka.
Tanda Fisik: Mata hitam, bibir pecah-pecah, tanda merah atau ungu di leher, pergelangan tangan terkilir, memar di lengan
Tanda Emosional: Tingkat percaya diri yang rendah, terlalu menyesal atau lemah lembut, terus merasa takut, perubahan pola tidur atau makan, cemas atau gelisah berlebihan, gejala depresi, kehilangan minat pada aktivitas dan hobi yang dulu dinikmati, berbicara tentang bunuh diri, dan lain sebagainya.
Tanda-tanda Perilaku: Menjadi menarik diri atau menjauh dari pergaulan, membatalkan janji atau rapat pada menit terakhir, sering terlambat, privasi yang berlebihan mengenai kehidupan pribadi mereka, mengisolasi diri dari teman dan keluarga
5. Percaya Terlebih Dahulu Kepada Korban KDRT
Karena KDRT biasanya lebih banyak dilakukan di ranah privasi, maka seringkali hanya korbanlah satu-satunya yang melihat sisi gelap pelaku. Sering kali, orang lain terkejut mengetahui bahwa seseorang yang mereka kenal bisa melakukan kekerasan.
Akibatnya, korban sering merasa tidak ada yang akan percaya jika mereka menceritakan penderita yang dialami tersebut kepada orang-orang. Percayai cerita korban dan katakan demikian. Bagi seorang korban, akhirnya memiliki seseorang yang tahu kebenaran tentang perjuangan mereka dapat membawa rasa harapan dan kelegaan.
6. Katakan Tiga Kalimat Ini Kepada Korban
– Aku percaya kamu
– Ini bukan salahmu
– Anda tidak pantas mendapatkan ini.
7. Validasi Perasaan Korban
Bukan hal yang aneh bagi para korban untuk mengungkapkan perasaan yang bertentangan tentang pasangan mereka dan situasi mereka. Perasaan ini dapat berkisar dari: Rasa bersalah dan marah, harapan dan keputusasaan, juga cinta dan ketakutan.
Jika kamu ingin membantu, penting untuk memvalidasi perasaannya dengan memberi tahu, bahwa memiliki pemikiran yang saling bertentangan adalah hal yang normal. Tetapi penting juga bagi kamu untuk memastikan bahwa kekerasan tidak boleh dilakukan, dan tidak normal untuk hidup dalam ketakutan akan diserang secara fisik.
Beberapa korban mungkin tidak menyadari bahwa situasi mereka tidak normal, karena mereka tidak memiliki model lain untuk mempresentasikan sebuah hubungan tanpa siklus kekerasan. Beri tahu korban bahwa kekerasan dan pelecehan bukanlah bagian dari hubungan yang sehat. Tanpa menghakimi, konfirmasikan kepada mereka bahwa situasi mereka berbahaya, dan kamu mengkhawatirkan keselamatan mereka.
[berita-terkait number=”6″ tag=”kasus”]
8. Bantu Korban Membentuk Rencana Keamanan
Bantu korban membuat rencana keamanan yang dapat diterapkan jika kekerasan terjadi lagi atau jika mereka memutuskan untuk meninggalkan situasi tersebut. Latihan membuat rencana saja dapat membantu mereka memvisualisasikan langkah-langkah mana yang diperlukan dan mempersiapkan diri secara psikologis untuk melakukannya.
Karena korban yang meninggalkan pasangannya yang menjadi pelaku KDRT, memiliki risiko lebih besar untuk disakiti oleh pelakunya daripada mereka yang tetap tinggal. Maka sangat penting bagi korban untuk memiliki rencana keselamatan pribadi sebelum krisis terjadi atau sebelum mereka memutuskan untuk pergi.
Pastikan untuk menyertakan hal berikut dalam rencana keselamatan:
– Tempat yang aman untuk pergi dalam keadaan darurat, atau jika mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah
– Alasan yang disiapkan untuk pergi jika mereka merasa terancam
– Kata kode untuk mengingatkan keluarga atau teman bahwa bantuan diperlukan
– Daftar kontak darurat, termasuk keluarga atau teman tepercaya, tempat penampungan lokal, dan hotline kekerasan dalam rumah tangga
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
9. Apa yang Seharusnya Tidak Dilakukan
Meskipun tidak ada cara yang benar atau salah untuk membantu korban kekerasan KDRT, namun harus tetap menghindari melakukan apa pun yang akan memperburuk situasi. Berikut adalah beberapa “larangan” yang disarankan para ahli untuk dihindari selama membantu korban KDRT:
-Jangn pukul pelakunya. Fokuslah pada perilaku, bukan kepribadian.
– Jangan salahkan korban. Itulah yang dilakukan pelaku.
– Jangan meremehkan potensi bahaya bagi korban dan diri Anda sendiri.
-Jangan janjikan bantuan apa pun yang tidak dapat Kamu pertanggungjawabkan.
– Jangan berikan dukungan bersyarat.
– Jang lakukan apa pun yang dapat memprovokasi pelaku.
– Jangan menekan korban.
– Jangan gegabah
– Jangan lakukan hal yang justru mempersulit korban.
Itulah sembilan cara untuk membantu korban KDRT yang dapat kamu lakukan. Namun perlu diingat, bahwa KDRT termasuk dalam kasus tindak pidana. Jadi jangan sembarangan melangkah atau memutuskan sesuatu untuk membantu korban. Akan lebih baik jika kamu dan korban berkonsultasi kepada yang lebih ahli, terutama meminta perlindungan hukum kepada badan yang bisa bertanggung jawab. (Kai/ian)






