RINGKASAN BERITA:
- Seorang jemaah haji asal Malaysia mengapresiasi tinggi sistem pelayanan total jemaah haji Indonesia di Makkah.
- Layanan pendorongan kursi roda gratis bagi lansia dan kesigapan petugas meredam jemaah menangis menjadi sorotan.
- Kualitas katering makanan nusantara dan sebaran merata personel di berbagai titik dinilai ikut membantu negara lain.
- Pujian berskala internasional ini membuktikan tingginya standar mutu operasional perlindungan jemaah Kemenhaj RI.
Makkah (beritajatim.com) – Sistem manajemen perlindungan jemaah yang diterapkan oleh Pemerintah Indonesia pada musim haji 1447 H / 2026 M sukses menuai pujian internasional dari warga negara asing di sekitar kompleks Masjidil Haram.
Kesiapsiagaan, keramahan petugas terhadap jemaah lanjut usia (lansia), penyediaan fasilitas kursi roda gratis, hingga kualitas katering makanan nusantara dinilai merepresentasikan standar pelayanan haji yang sangat tinggi serta patut dicontoh oleh negara-negara lain.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi bahwa untaian apresiasi tersebut terungkap secara spontan dalam sebuah perbincangan hangat. Seorang jemaah haji asal Kedah, Malaysia, secara terbuka menghentikan langkahnya untuk memuji performa operasional petugas di pelataran Masjidil Haram, Selasa (3/6/2026).
“Haji Indonesia bagus. Sejak pertama, jemaahnya dijaga. Contohnya, ada jemaah yang didorong menggunakan kursi roda dan dibantu secara gratis,” ujar jemaah asal Malaysia bernama Syamsudin tersebut dengan nada kagum.
Sikap Humanis Petugas Tangani Jemaah Tersesat dan Lansia
Syamsudin memaparkan, sepanjang dirinya menjalankan ritual ibadah di Makkah dan fase puncak Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina), ia berulang kali menyaksikan dedikasi luar biasa dari para petugas Indonesia berbaju pemandu. Personel lapangan dinilai sangat responsif menangani kondisi psikologis jemaah, khususnya saat mendapati ada lansia yang kebingungan atau terpisah dari rombongannya.
Prinsip jurnalisme konstruktif mencatat bahwa kehadiran fisik petugas negara di titik-titik krusial mampu meredam kepanikan massal jemaah di tengah lautan manusia.
“Petugas dari Indonesia bagus. Ada jemaah yang menangis lalu petugas membantu mereka,” ucap Syamsudin menceritakan kembali visualisasi humanis yang ia rekam di lapangan.
Kekaguman pria asal Negeri Jiran tersebut kian bertambah ketika mengamati proses mobilisasi massal jemaah lansia dan penyandang disabilitas saat akan memasuki armada transportasi Bus Shalawat. Petugas haji dinilai memiliki pola koordinasi yang taktis, cekatan, dan memperlakukan jemaah dengan penuh rasa hormat.
“Saya melihat ada jemaah yang menggunakan kursi roda saat akan naik bus. Mereka disambut dan diangkat dengan baik oleh petugas. Secara keseluruhan saya puji, semuanya bagus sekali. Beruntung kalian, Indonesia,” katanya menambahkan.
Cita Rasa Kuliner Nusantara dan Sebaran Petugas yang Merata
Di luar urusan penanganan fisik jemaah, aspek hulu logistik seperti kualitas makanan yang diproduksi oleh dapur-dapur katering Kemenhaj RI turut menarik perhatian Syamsudin. Ia mengaku sangat menyukai karakteristik menu masakan khas Indonesia yang didistribusikan secara teratur kepada jemaah di hotel.
Menutup perbincangan di pelataran suci tersebut, pria asal negara bagian Kedah ini melayangkan frasa pujian tertinggi atas komitmen totalitas para petugas medis dan pelayanan umum Indonesia yang bekerja tanpa mengenal waktu.
Menariknya, sebaran personel Indonesia yang merata di setiap sudut jalan Makkah diakui ikut memberikan rasa aman dan bantuan secara tidak langsung bagi jemaah asal Malaysia yang kerap kehilangan arah.
“Sekali lagi saya puji petugas yang memberikan pelayanan kepada jamaahnya. Marvelous, marvelous. Kami pun banyak terbantu oleh kalian. Kalian tersebar luas dan merata di semua titik,” tandas Syamsudin menyudahi kesaksiannya. [ian/MCH]






