Politisi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Zulfan Lindan menyebut Anies Baswedan sebagai ‘’antitesa’’ Joko Widodo.
Ia mengutip teori dialketika filosof Jerman, Friedrich Hegel, yang mengatakan bahwa perubahan sosial di dunia ini terjadi karena adanya tesa yang memunculkan antitesa dan memunculkan sintesa baru.
Tesa adalah kondisi yang ada (existing), yang kemudian memicu munculnya antitesa, yang merupakan reaksi atau respons terhadap tesa. Dari pertemuan tesa dengan antitesa itu muncullah sintesa, yang merupakan kondisi baru yang lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Menurut Hegel, dialektika terjadi pada setiap fase kehidupan. Dan hal itu merupakan proses yang alamiah dan lumrah. Teori dialektika Hegel sangat populer dan memengaruhi para pemikir besar dunia, termasuk Karl Marx, yang kemudian mengadopsinya menjadi teori materialisme sejarah, yang menjadi inti teori Marxisme.
Teori materialisme sejarah memakai pola dialektika Hegel yang oleh Marx diadopsi dan dimodifikasi menjadi teori pertentangan kelas.
Kelas kapitalis, pemilik modal dan alat produksi adalah ‘’tesa’’, dan kelas buruh proletar adalah ‘’antitesa’’. Dua kekuatan itu akan saling beradu dan kekuatan proletar akan memenangkan pertarungan melalui revolusi rakyat. Dari revolusi rakyat itu lahirlah diktator proletar, yang menjadi cikal bakal masyarakat komunis, yang menjadi antitesa masyarakat kapitalis.
Proses dialektika itu juga terjadi pada lanskap politik masional. Politik Indonesia telah melahirkan genre baru atau prototype politisi baru, yang berbeda dengan generasi politisi sebelumnya. Para politisi seperti Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Ridwan Kamil, Agus Harimurti Yudhoyono, Muhaimin Iskandar, Khofifah Indar Parawansa, dan Puan Maharani adalah bagian dari genre baru itu.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pilpres-2024″]
Masih banyak nama-nama politisi genre baru itu. Dari kalangan birokrasi ada Sandiaga Uno, Erick Thohir, Srimulyani Indrawati, dan beberapa nama lain yang bisa dimasukkan dalam kategori politisi generasi baru itu.
Para politisi generasi baru ini secara kategoris bisa menjadi kekuatan ‘’antitesa’’ sebagai reaksi terhadap kepemimpinan politisi generasi sebelumnya. Proses dialektika ini berjalan dengan alamiah sebagai bagian dari hukum dialektika alam.
Secara generasional, para politisi baru itu rata-rata lahir pada dekade akhir 1960-an dan disebut sebagai ‘’Generasi X’’. Generasi ini menjadi generasi peralihan, sebelum masuk ke generasi Y, yang juga disebut sebagai ‘’Generasi Milenial’’. Generasi X lahir setelah periode Perang Dunia II dan Perang Kemerdekaan Nasional, dan tidak mengalami langsung periode perang kemerdekaan dan Orde Lama. Generasi baru politisi itu lahir dan besar di era Orde Baru Pak Harto. Mereka adalah bibit unggul hasil dari kemajuan ekonomi dan pendidikan di era Pak Harto.
Dalam kategori generasional ini, Joko Widodo juga masuk dalam kelompok politisi Generasi X ini. Jokowi yang lahir pada 1960 bisa disebut sepantaran dengan para politisi itu. Dalam bahasa sosiologis, Jokowi disebut sebagai ‘’contemporaries’’ satu angkatan, satu pantaran, dengan para politisi genre baru itu.
Dalam tataran usia Jokowi sepantaran, tapi dalam hal kepemimpinan nasional, Jokowi masuk dalam kategori senior. Ia sudah dua periode menjadi presiden dan sedang bersiap memasuki etape terakhir masa kepemimpinan sebelum memasuki era lengser keprabon madeg pandito, pensiun sebagai raja dan menjadi bapak bangsa.
Generasi baru yang sekarang bermunculan sudah digadang-gadang untuk menjadi suksesor Jokowi. Dari sejumlah nama itu, sudah muncul beberapa orang pada baris terdepan. Dalam istilah balapan mobil mereka sekarang sedang berebut ‘’pole position’’, tempat paling depan, sebelum benar-benar memulai balapan pada 2024.
Di antara calon-calon itu dua orang berada pada pole position terdepan, yaitu Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Dan, masih ada sisa generasi tua yang tetap muncul sebagai kandidat yang kuat, ialah Prabowo Subianto. Dari kategori usia, Prabowo yang lahir pada 1951 sudah berkepala tujuh dan masuk dalam kategori generasi tua dibanding para politisi genre baru itu. Prabowo kategori Generasi Baby Boomers pasca Perang Dunia II.
Nama Prabowo Subianto masih tetap berada di pole position menyelinap di antara dua politisi genre baru: Anies dan Ganjar. Dalam berbagai survei, tiga nama itu selalu konsisten muncul saling bersaing memperebutkan pole position.
Prabowo mewakili masa lalu dan duo Anies-Ganjar adalah potret masa depan. Kegagalan Prabowo dalam tiga kali perhelatan pemilihan presiden menjadi catatan kaki tersendiri bagi publik. Tapi, bisa saja runtutan kegagalan ini menjadi nilai plus, karena dianggap sebagai bagian dari pengalaman politik yang berharga.

Sementara Anies dan Ganjar adalah produk yang ‘’fresh from the oven’’ dan menjadi tumpuan harapan akan perubahan.
Anies dan Ganjar sudah mempunyai trade-mark masing-masing. Ganjar menarik karena tampilannya yang charming, sederhana, merakyat, dan mampu berbicara dengan bahasa rakyat. Trade mark Ganjar ini lebih mirip seperti fotokopi Jokowi.
Ganjar adalah prototype baru Jokowi. Mungkin kalau diibaratkan dengan gajet, Ganjar ialah versi baru dari seri Jokowi. Sementara Anies adalah seri baru hasil dari produk baru yang berbeda dari seri lama yang sudah populer.
Ganjar memakai jurus-jurus lama yang sudah dipakai oleh Jokowi. Dengan melakukan emulasi itu, Ganjar menempatkan positioning politiknya sebagai suksesor alamiah dari Jokowi. Sementara Anies memberikan penampilan yang berbeda dari produk politik sebelumnya. Anies menawarkan alternatif baru dari status quo lama.
Dua strategi marketing politik ini berbeda, dan sama-sama mampu menarik minat publik. Dua kandidat ini akan menjadi ‘’two horse race’’ dua kuda pacuan yang akan terus berbacu sampai finish.
Anies sudah mendapat separo tiket dari Partai Nasdem, Prabowo juga sudah menggenggam separo tiket dari partainya sendiri: Partai Gerindra. Ganjar masih HC2 alias harap-harap cemas menunggu tiket, karena sampai sekarang partainya sendiri, PDIP, belum terlihat akan memberikan tiket kepada Ganjar.
Sejarah politik Indonesia pasca-Orde Baru mengenal siklus 10 tahunan, dengan munculnya figur alternatif yang mampu menyedot histeria massa. Pada 2004 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) muncul sebagai fenomena satria piningit. Ia menjawab kerinduan publik akan munculnya pemimpin yang gung binantara, yang mampu membawa praja menjadi negara yang makmur gemah ripah loh jinawi.
SBY adalah fenomena. Penampilannya sangat presidential ‘’mresideni’’. Ia menjadi idola ibu-ibu yang terpesona oleh tampilan fisiknya yang gagah. Ia menghipnotis publik dengan kharisma dan wibawanya. Ia menata citranya dengan teliti dalam setiap penampilan. SBY adalah sosok satria piningit yang paripurna.
[berita-terkait number=”4″ tag=”anies-baswedan”]
Siklus 10 tahunan SBY berakhir. Publik yang sudah bosan dengan penampilan yang serba formal, menginginkan pemimpin baru yang bisa menjadi alternatif. Enter Jokowi. Masuklah Jokowi. Dalam kondisi vakum itu muncullah Joko Widodo sebagai alternatif yang benar-benar berbeda dari produk sebelumnya. Jokowi adalah antitesa SBY yang mampu merebut perhatian publik karena tampilannya yang benar-benar beda.
SBY dengan segala atribut yang rumit adalah sebuah fenomena yang orisinal pada masanya. Tidak akan ada orang yang bisa mengemulasi gaya politik SBY. Ia produk zamannya, dan akan dikenang sebagai bagian dari lanskap sejarah Indonesia.
Jokowi menjadi bagian dari episode baru Indonesia. Latar belakangnya sebagai ‘’lay-person’’ orang awam, menjadi magnet yang mampu menyedot perhatian publik. Jokowi menumbuhkan histeris di mana-mana. Setiap kali muncul, orang-orang akan histeris terhipnotis oleh kesederhanaannya.
Jokowi mewakili genre baru politisi Indonesia yang bersih dari pengaruh Orde Baru. SBY menjadi bagian dari produk lulusan ‘’Universitas Orde Baru’’, meminjam istilah almarhum Arief Budiman. Jokowi bersih dari pengaruh lama dan menawarkan pendekatan politik baru kepada publik pemilih dengan kesederhanaan dan kepolosannya.
Era Jokowi segera berakhir, dan akan muncul era baru. Di antara tiga besar pole position itu, Prabowo dan Ganjar Pranowo masuk dalam kategori ‘’All The President’s Men’’ alias orang-orangnya Jokowi, yang mewakili keberlanjutan rezim.
Anies berada pada kategori lain dan disebut sebagai antitesa Jokowi. Zulfan Lindan menyebut Anies sebagai antitesa Jokowi. Anies dianggap sebagai simbol perubahan yang menjadi jawaban terhadap kekosongan yang selama ini tidak bisa diisi oleh Jokowi.
Anies Baswedan ditempatkan sebagai genre baru politisi Indonesia yang bisa menjadi alternatif bagi kepemimpinan lama. Ganjar Pranowo dan Prabowo Subianto dianggap tidak bisa menjadi alternatif, karena keduanya sudah secara sengaja menempatkan positioningnya sebagai penerus Jokowi.
Tentu positioning ini memberi keuntungan politik tersendiri, terutama karena Prabowo dan Ganjar akan mendapatkan limpahan berkah ‘’Jokowi Effect’’. Tetapi, jika siklus 10 tahunan terjadi lagi, maka Anies Baswedan yang akan mendapat berkah perubahan.
Proses dialektika ini akan berjalan alamiah bergantung pada kehendak rakyat atau ‘’general will’’. Biarkan dialektika berproses secara alamiah dan pemimpin baru akan muncul secara alamiah pula. [air]
Dhimam Abror Djuraid
Wartawan Senior dan Doktor Ilmu Komunikasi






