Jember (beritajatim.com) – Bupati Hendy Siswanto ingin 650 pesantren yang masing-masing memilki jumlah santri di atas 300 orang di Kabupaten Jember, Jawa Timur, memiliki pesantren. Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Jember mudah membantu pesantren.
“Tapi koperasi yang terkontrol. Jangan sampai koperasi tanpa terkontrol,” kata Hendy, ditulis Minggu (9/10/2022). Dengan adanya koperasi, maka sistem digitalisasi lebih mudah diterapkan di pesantren.
Keberadaan koperasi dengan sistem keuangan digital dipercaya Hendy akan banyak membantu para kiai dan pengasuh pesantren. Menurutnya, beban kiai semakin berat dengan kondisi krisis ekonomi seperti sekarang. “Mereka harus menjamin para santri dan pesantrennya bisa terus hidup dan menghidupi semua anak santri,” katanya.
“Kalau soal dakwah bermasyarakat, tidak usah diraguikan lagi. Mereka akan belajar itu semua. Tapi tentang ekonomi, tentang bagaimana pengelolaan keuangan. Pemkab dan BSI (Bank Syariah Indonesia) bekerja sama untuk membantu bagaimana membuat sistem digitalisasi keuangan pesantren lebih bagus. Ini agar kiai mudah mengendalikan pesantren,” kata Hendy.
“Jangan sampai kiai setiap hari, setiap minggu kebingungan: berapa uang yang ada untuk belanja pesantren. Kalau sudah kondisi seperti ini, menjadi berat. BSI masuk untuk meyakinkan keduanya (santri, wali santri, maupun pimpinan pesantren sendiri), tentang kondisi anaknya, kondisi keuangan itu anak itu sendiri dan dibantu dengan Kartu Santri. Di situ ada bermacam-macam aplikasi tergantung kebutuhan pesantren yang ada,” kata Hendy.
[berita-terkait number=”3″ tag=”bupati-jember-hendy”]
“Pemkab juga akan masuk di sini. Apa yang bisa kami support? Tentunya kami support dengan anggaran yang ada, di mana kira-kira kami bisa masuk. Kolaborasi antara Pemkab Jember, pesantren, dan BSI menjadi sangat penting, karena di sini mengurangi beban kiai dan bagaimana keberlangsungan pesantrenn ini ke depan, karena mau tidak mau, digitalisasi wajib.
“Orang tua sekarang lebih ‘secure’ untuk menitipkan anak mereka di pesantren. Di pesantren lebih clear dan safe. Sistem digital ini bukan melulu hanya untuk keuangan tapi juga perkembangan anak,” kata Hendy.
Hendy meminta pesantren menyampaikan kebutuhan masing-masing. “Jangan banyak-banyak. Yang penting Kartu Santri berjalan dulu. Anak-anak termonitor,” katanya. [wir/suf]






