Surabaya (beritajatim.com) – Inflasi adalah kenaikan tingkat harga kebutuhan yang berlangsung secara terus menerus dan dengan laju yang tidak kecil. Sementara tingkat inflasi berbeda-beda tergantung dari beberapa faktor.
Misalnya jika angka inflasi lebih besar dari dua digit atau tiga digit persen pertahun, maka sudah dikatakan sebagai inflasi yang parah atau Hiperinflasi. Faktornya bisa dari perang geopolitik, perang dagang, atau bahkan bencana alam.
Indonesia sudah merasakan kekhawatiran inflasi yang diperkirakan akan terus bertambah hingga akhir tahun 2022. Lonjakan harga dan komoditas saat ini mempengaruhi penilaian investor dalam menanamkan modalnya. Atau sekadar mempertahankan aset yang sudah ditanamkan di sektor tertentu.
Agar bisa bertahan selama inflasi yang tinggi, simak langkah-langkah investasi dasar yang wajib diketahui semua orang.
Empati
Investasi terhadap diri sendiri dan menumbuhkan empati adalah solusi menghadapi inflasi. Saat berbicara pada rapat pemegang saham tahunan 2022, Ketua Berkshire Hathaway Warren Buffett ditanya menyarankan untuk tetap percaya dengan kemampuan diri sendiri dan mengembangkannya.
“Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah berusaha menjadi sangat baik sesuai passion dan kemampuan. Itulah investasi terbaik sejauh ini,” katanya.
Maksudnya jika kamu adalah seorang pengacara, dokter, atau pengusaha yang berusaha keras dan kompeten maka dampak inflasi akan lebih sedikit mempengaruhi. Hal itu karena orang-orang masih akan membeli jasa dan barang yang kamu tawarkan.
Penelitian di University of Southern California pada tahun 2016, menanyakan kepada para pemimpin bisnis mengenai keterampilan apa yang harus dimiliki oleh para eksekutif di masa depan agar berhasil dalam ekonomi global berteknologi Tinggi.
Berulang kali, komunitas eksekutif itu menjawab bahwa kemampuan yang bersifat kualitatif sangatlah penting. Seperti kemampuan beradaptasi, kompetensi budaya, keingintahuan intelektual, dan pemikiran yang mengarah ke tujuan masa depan. Hasil akhir penelitian itu menunjukkan bahwa memiliki empati adalah jawaban paling utama.
Empati adalah kemampuan untuk memahami dan berbagi perasaan kepada orang lain. Orang yang berempati memiliki kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain dan memahami dari mana mereka berasal; kemudian memahami perspektif mereka.
[berita-terkait number=”5″ tag=”tips”]
Theory of Mind
Keterampilan ini juga menyebutnya sebagai Theory of Mind. Tidak berbeda dengan istilah empati, Theory of Mind berarti sesuatu yang sejalan dengan membaca pikiran. Hal ini termasuk kapasitas kita untuk menyimpulkan dan mewakili pikiran dan emosi orang lain yang mana sangat berguna dalam lingkungan profesional.
Meningkatkan Teori Pikiran seseorang berarti:
– memiliki kemampuan untuk membentuk pemahaman yang lebih akurat dan komprehensif tentang apa yang mendorong perilaku orang lain;
– memperoleh pemahaman yang lebih dalam dan lebih lengkap tentang kebutuhan, keinginan, dan kerentanan diri sendiri;
– memiliki kemampuan untuk memahami lebih lengkap dinamika interaksi dan hubungan manusia yang dalam dan kompleks;
– memiliki kemampuan untuk memahami sebab dan akibat yang kompleks dari kondisi ekonomi, kondisi politik, dan perilaku individu atau kelompok; dan,
– memiliki kemampuan untuk memahami hubungan sebab akibat antara perilaku manusia dan faktor situasional lainnya.
Keterampilan ini sangat penting, tetapi membutuhkan banyak dorongan. Ahli saraf di The New School for Social Research, melansir artikel New York Times, melakukan sejumlah eksperimen untuk menentukan apa saja yang dapat mendorong Theory of Mind. Jawabannya ialah membaca dan mencari tahu. (Kai/ian)






