Sidoarjo (beritajatim.com) – Pentas ludruk Baladda dan teater ARAR bakal mengisi Festival Seni Munali Patah (FSMP) hari kedua di Dekesda Art Center, Jl Erlangga 67 Sidoarjo, Senin (5/9/2022) nanti malam. Sedangkan FSMP di Mal Pelayanan Publik (MPP) Lingkar Timur, Sidoarjo, diisi dengan pentas musik dangdut.
Ludruk Baladda Sidoarjo bakal mementaskan lakon “Tembang Sunyi Godong Tebu” (Rodji Jagoan Semambung). Lakon ini ditulis dan disutradari oleh Robets Bayoned. Sebuah lakon berlatar belakang Sidoarjo sebagai wilayah penghasil tebu terbaik pada kisaran tahun 1895.
“Perkebunan tebu banyak di mana-mana. Salah satunya di daerah Wonoayu Sidoarjo. Sayangnya, perkebunan tebu ini justru menimbulkan masalah baru di tingkat masyarakat,” kata Robets Bayonet.
Problem yang terjadi akibat sistem tanam paksa. “Sistem tanam paksa tidak memberikan dampak baik untuk rakyat pribumi yang dipekerjakan secara paksa tanpa diberikan upah. Banyak lurah yang tidak sepakat dengan cara VOC ini menjadi korban adu domba dengan lurah-lurah yang pro pemerintahan Hindia Belanda,” tutur Robets.
Konflik para lurah tersebut menjadi kisah heroik tersendiri. Kisah perjuangan melawan penjajahan. “Salah satunya adalah Lurah Semambung, Wonoayu, bernama Ki Wiryonoto. Dia menentang keras dan selalu membela penduduknya yang harus berurusan dengan Goverment Belanda,” ujarnya.
Ludruk Baladda didukung para pemain yang terdiri dari Rofi, Rehan, Khoirul Anam, Anam Kecenk, Rina, Tito, Robets, Ipoel, Ayok, Yoyok, Pentil, Puput, Roy, Wahyu, Yayan, Dion, Miko, Aldi, Arkha. Tari remo oleh Uriyati dan kidungan oleh Aris. Adapun stage manager oleh Aixa Paramita.
Sajian pentas ludruk ini bakal diiringi oleh karawitan dari siswa SMP Negeri 5 Sidoarjo.
Sebelum ludruk, Festival Seni Munali Patah mementaskan teater dari Komunitas Teater ARAR. Pentas mengusung naskah Keberagaman Sidoarjo yang ditulis oleh Riri Wulandari, dengan sutradara Ardi Maulana.
[berita-terkait number=”4″ tag=”dekesda”]
Para pemain Teater ARAR masih berstatus pelajar SD, SMP, dan SMA. Mereka terdiri dari Andre, Fitri, Riri, Lia, Radit, Brian, Muazzar, Salwa, Diah, Maulana, Iqbal, Zildan, Ardi, Nia, Nisa. Pementasan dibantu oleh kru Yunita, Niken, Fitri, Lely.
“Sebuah penampilan cerita di mana budaya Sidoarjo yang mulai tergerus zaman. Kami memperkenalkan budaya-budaya Sidoarjo yang hampir menghilang, bahkan jarang di gunakan oleh anak-anak sekarang. Contohnya seperti memakai batik, menari tarian tradisional, permainan tradisional, jaranan, dan pencak silat sekalipun. Maka dari itu, Kami, mengangkat judul tersebut sebagai pengingat keberagaman Sidoarjo di masalalu, sejenak,” papar Ardi Maulana, sutradara Teater ARAR. [isa/but]






