Surabaya (beritajatim.com) – Kasus dugaan kebocoran data pribadi kembali terjadi. Kebocoran data kali ini berupa registrasi SIM prabayar milik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) yang bocor ke tangan hacker
Sejumlah 1.304.401.300 data registrasi diunggah oleh akun bernama Bjorka di forum Breached.to. Data sebesar 87 GB diklaim berisi NIK, nomor ponsel, provider telekomunikasi, dan tanggal registrasi.
Namun sampai sekarang belum ada badan terkait yang mengaku bertanggungjawab dalam hal ini. Kominfo menanggapi dengan membantah bahwa sampel data yang tersebar bukanlah dari pihaknya. Selain itu, Kominfo juga mengatakan telah melakukan penelusuran internal dan mengklaim tidak memiliki aplikasi untuk menampung data registrasi kartu prabayar dan pascabayar.
Melansir Kaspersky, Aksi pencurian data pribadi adalah pelanggaran data informasi rahasia, sensitif, atau dilindungi yang berusaha diekspos kepada orang yang tidak berwenang. Data pribadi yang dicuri dapat dilihat dan atau dibagikan tanpa izin pemilik.
Semua beresiko menjadi korban kebocoran data
Pembobolan data di Indonesia telah terjadi beberapa kali sebelum ini. Korban kebocoran data bukan hanya berpotensi mendapatkan teror, namun lebih dari itu ada potensi penyalahgunaan untuk motif bisnis, politik, hingga intelijen-militer.
Siapa pun beresiko datanya dicuri, mengingat sangat masifnya perkembangan teknologi dan kurangnya edukasi terhadap hal ini. Untuk itu kita harus tahu apa saja yang wajib dilakukan ketika kita menjadi korban kebocoran data pribadi.
Dirangkum beritajatim.com, berikut lima hal yang bisa dilakukan saat data pribadi bocor:
1. Terapkan enkripsi perangkat dan kata sandi yang kuat
Enkripsi perangkat saat ini dapat dijangkau dengan mudah. Laptop edisi baru dan semua ponsel cerdas modern mendukung fitur enkripsi untuk mengamankan informasi dan perangkat. Kita juga harus membuat tingkat enkripsi yang kuat agar orang lain tidak bisa mengakses profil atau akun pengguna tanpa otentikasi dari pengguna.
Akan lebih baik agar korban mengenkripsi semua akun atau aplikasi yang berhubungan dengan data pribadi. Sistem operasi sudah menyediakan fitur enkripsi, macOS menyediakan FileVault, Windows menyediakan BitLocker, iOS menyediakan enkripsi secara default ketika kode buka kunci diatur, dan Android juga memiliki opsi yang sama.
2. Lakukan penggunaan otentikasi dua faktor
Selain pengaturan kata sandi yang kuat, lakukan juga otentikasi dua faktor. Bahkan jika hacker jahat mendapatkan akses email, kode smartphone dan sandi, kemungkinan untuk bisa mengambil alih perangkat sangat sedikit karena memerlukan otentikasi verifikasi data kedua oleh pengguna. Otentikasi dua faktor akan sangat efektif untuk melindungi data yang sangat penting secara online, seperti akun pinjaman online dan transaksi online lainnya.
3. Atur batas waktu dalam memasukkan verifikasi otentikasi
Lakukan pembatasan waktu tunggu verifikasi data. Sepuluh menit adalah waktu maksimal untuk memasukkan data yang sensitif, atau kamu bisa pertimbangkan batas waktu sesingkat mungkin. Pertimbangkan untuk menetapkan kebijakan untuk menutup atau mengunci perangkat kapan pun kamu pergi.
4. Periksa pembaruan dari penyedia layanan dan mengikuti kebijakan
Jika merasa data kamu bocor, segera laporkan ke penyedia layanan dan minta untuk mengunggah pembaruan dan laporan mengenai apa yang terjadi. Misalnya, kasus pelanggaran data di Facebook, perusahaan secara otomatis mencatat pengguna yang akunnya terpengaruh dan mengirim pemberitahuan serta langkah-langkah tindakan yang dapat diambil.
5. Aktifkan fitur penghapusan otomatis jarak jauh
Setelah semuanya sudah dilakukan namun masih berpeluang mengalami kebocoran data, entah karena perangkat dicuri atau dihack, ada satu cara lain yang mungkin bisa dilakukan, yakni pembersihan data. Sebagian besar perangkat portabel memiliki beberapa bentuk konektivitas internet. Manfaatkan fitur ini untuk prosedur penghapusan data jarak jauh. Fitur ini sudah tersedia di sebagian besar smartphone.
6. Perbarui perangkat lunak
Pembaruan perangkat lunak banyak diabaikan padahal termasuk hal yang penting. Perangkat lunak yang tidak juga diperbarui rentan terhadap menurunnya fungsi dan proteksi perangkat. Perangkat lunak terbaru biasanya bertautan dengan kebijakan keamanan dan harus selalu diikuti pengguna.
[berita-terkait number=”5″ tag=””tips]
7. Perbarui atau bekukan rekening
Langkah paling penting setelah data pribadi bocor adalah melakukan pembaruan atau membekukan layanan yang berisi aset keuangan. Segera ke bank atau call center dan atur hal ini sesuai prosedur. Hal ini bisa mencegah akun rekening baru yang dibuka atas nama pengguna.
8. Lapor ke Pihak Berwajib (Kepolisian)
Apabila kasus pencurian data pribadi sudah benar-benar merugikanmu baik dalam segi keuangan maupun hukum, segera laporkan ke pihak yang berwajib. Pelaku bisa dijerat hukuman sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.
Itulah 8 cara yang bisa dilakukan korban pencurian data agar tetap aman selama aktivitas online dan transaksi. Untuk berjaga-jaga apakah kita termasuk korban kebocoran data kartu provider, cek nomor ponselmu dengan menggunakan situs www.periksadata.com. (Kai/ian)






