Lamongan (beritajatim.com) – Hari Jumat (15/7/2022) lalu, belasan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa menggelar aksi demonstrasi di depan Gedung A Universitas Islam Lamongan (Unisla).
Dalam aksinya, mereka menuntut kepada pihak Rektorat agar keputusan pembekuan terhadap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) setempat segera dicabut. Mereka juga membawa properti karangan bunga yang bertuliskan ‘Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiun, Turut Berduka Cita Atas Matinya Mimbar Akademik di Unisla’.
Selang beberapa waktu kemudian, salah satu Dosen Unisla, Husen, yang mengendarai mobil warna hitam tiba-tiba menabrak karangan bunga dan kursi panjang yang dijadikan pembatas aksi demonstrasi tersebut.
Sontak, apa yang dilakukan oleh Husen ini pun kini menyedot perhatian publik. Pasalnya, momen tersebut sempat diabadikan oleh salah satu mahasiswa peserta aksi dan diunggah ke media sosial.
Menyikapi hal ini, akhirnya Husen angkat bicara. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukannya itu terjadi secara spontan. Selain itu, dosen yang juga menjabat sebagai Ketua Litbang Pemas tersebut mengaku tak tahu jika waktu itu ada aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa.
[berita-terkait number=”4″ tag=”unisla”]
Lebih lanjut, Husen juga menyampaikan bahwa dirinya hendak menghadap ke Rektor untuk memberikan klarifikasi dan penjelasan atas apa yang telah terjadi.
“Saya saat itu lewat, mau parkir ke belakang, tapi tidak ada jalan karena terhalang ada traffic cone. Saat itu saya spontan karena ada benda-benda itu. Saya kaget campur bingung akhirnya nabrak,” ujar Husen kepada wartawan, Selasa (19/7/2022).
Husen menegaskan bahwa apa yang dilakukannya ini tidak ada unsur kesengajaan untuk membubarkan mahasiswa yang sedang menggelar aksi.
“Saya gak ada niatan menganggu aksi, wong itu juga adik-adik saya, anak-anak kami. Jadi sekali lagi, semata-mata saya mau masuk ke kampus, mau parkir ke belakang. Tidak ada unsur lainnya atau kejadian yang saya sengaja dalam artian membubarkan demo, karena itu sudah wilayahnya keamanan kampus,” tuturnya.

Saat ditanya lebih jauh, Husen juga tidak menampik bahwa kala itu dirinya sedang diselimuti emosi, sehingga secara spontan menabrak karangan bunga yang menjadi properti demo yang ia anggap telah menghalangi jalan.
“Kalau emosi atau spontanitas reaksi itu memang iya, karena saya mau melakukan aktivitas sebagai dosen. Karena ada kegiatan itu (demo), saya tidak bisa lewat, ya akhirnya spontan melakukan itu saja. Tidak ada motif yang lainnya,” terangnya.
Masih kata Husen, dirinya mengaku siap untuk menanggung semua resiko dan konsekuensi atas apa yang ia lakukan, termasuk jika nantinya ada sanksi yang dijatuhkan kepadanya oleh Rektorat Unisla.
“Kita sama-sama sivitas, ada aturan, ada kode etik, dan saya menghadap Pak Rektor pun juga dalam rangka melaporkan itu. Apapun yang beliau terima, putuskan, saya sebagai sivitas Unisla akan menerima itu. Jika dalam perilaku saya itu melanggar kode etik, aturan sebagai civitas, saya siap menerima apapun itu (sanksinya),” ucap Husen.
[berita-terkait number=”4″ tag=”demo-mahasiswa”]
Secara terpisah, Rektor Unisla Bambang Eko Muljono saat dikonfirmasi mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan pendalaman terkait tindakan yang dilakukan oleh Husen.
“Alhamdulillah, beliau (Husen) sudah menceritakan kronologisnya, dan lebih lanjut nanti akan kita dalami. Soal sanksi, itu nanti setelah ada hasil dari pendalaman,” kata Bambang.
Bambang menegaskan bahwa kemungkinan pemberian sanksi terhadap insiden yang melibatkan dosen Unisla saat ada aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi Mahasiswa Unisla ini akan diputuskan oleh Komite Etik.
“Sanksi itu setelah pendalaman, karena kalau bicara sanksi ada Komite Etik, bukan rektor. Jadi rektor menunggu rekomendasi dari komite etik,” pungkasnya. [riq/but]






