Banyuwangi (beritajatim.com) – Ritual adat tarian Seblang Bakungan yang lazim dipraktikkan di Kecamatan Glagah, Banyuwangi sempat hilang bak ditelan bumi. Genap dua tahun sudah, tradisi masyarakat suku Osing itu tak pernah terlihat.
Bukan sekadar hiburan, ada sakralitas yang mulai hilang. Tak ada tabuh kendang maupun bau kemenyan yang menyeruak di antara ruang dan ruas jalan.
Semua lenyap akibat hantaman pandemi Covid-19. Meski hanya dua tahun, nyatanya cukup membuat tradisi tersebut menuju kepunahan.
Kondisi ini lantas melahirkan kesadaran bersama di masyarakat untuk melestarikan Seblang Bakungan. Ribuan warga Kelurahan Bakungan, yang acap kangen dengan tradisi itu, menyemut menjadi saksi kemunculan Seblang.
Mbah Supani (72) menjadi sosok yang dinanti. Pesona penari tua dan menapous itu tampil kembali.
Wanita tua itu kembali menari dalam kondisi trance atau kesurupan. Konon, gerakan sang penari Seblang Bakungan merupakan isian dari roh leluhur penghuni desa itu.
Sebelum acara dimulai, para sesepuh dan pelaku adat melakukan ritualnya. Ada pawang yang membacakan mantra.
Dari ritual itu, penari Seblang Bakungan langsung kerasukan roh dan menari mengikuti irama gending yang mengiringinya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”Banyuwangi”]
“Ritual adat seblang ini dimulai sesaat setelah warga melakukan selamatan yang menunya pecel pitik. Usai selametan, kemudian penari masuk ke pentas yang ditempatkan di depan balai sanggar atau balai dusun di lingkungan setempat,” ucap Lukman Hakim, Ketua Panitia Pelaksana Ritual Seblang Bakungan, Selasa (19/7/2022).
Paska-ritual tersebut, penari Seblang Bakungan itu bergoyang dalam kondisi trance selama kurang lebih empat jam. Dia mengikuti irama gending-gending dan syair-syair yang dibawakan sinden.
Sembari memegang keris di kedua tangannya, penari tua itu melakukan gerakan-gerakan magis yang membuat ritual ini menjadi tontonan menarik. Bahkan, ribuan warga hingga penonton tercengang bak terhipnotis oleh gayanya.
“Selain untuk melestarikan tradisi leluhur, ini juga cara warga kami untuk merawat gotong royong. Warga bersama-sama menyiapkan tradisi ini,” kata Lukman.
Menurut Lukman, sebagai rangkaian dalam ritual tradisi seblang kali ini sangat meriah, karena juga digelar bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Tenda UMKM berjajar rapi di sepanjang jalan menuju arena pertunjukkan seblang dilaksanakan.
“Bazar UMKM ini dikemas dalam satu rangkaian event ritual adat seblang dengan melibatkan pelaku UMKM setempat,” jelasnya.
Dalam bazar ini, para pelaku UMKM menjual dagangannya mulai dari jajanan tradisional hingga kue kekinian. Tak hanya makanan, produk fashion pun turut meramaikan bazar, seperti batik, kaos lokal brand dan juga kerajinan tangan. [rin/beq]






