Jombang (beritajatim.com) – Shiddiqiyyah adalah tarekat yang muncul di Desa Losari Kecamatan Ploso Kabupaten Jombang pada 1959 oleh seorang mursyid bernama Kiai Mochamad Muchtar ibn Haji Abdul Mu’thi. Kemunculan nama Shiddiqiyyah sebenarnya bukan semata-mata keinginan Kiai Muchtar, tetapi atas anjuran gurunya, Syekh Syu’aib Jamali al-Bantani.
Syahrul A’dam, dalam tulisannya berjudul ‘Etos Ekonomi Kaum Tarekat Shiddiqiyyah’ yang dimuat dalam Jurnal Al-Iqtisyad Vol.3 No.2, Juli 2011, menjelaskan, sebelum tarekat itu resmi bernama Tarekat Shiddiqiyyah, mulanya disebut dengan Tarekat Khalwatiyah Shiddiqiyyah.
Tetapi seiring laju waktu, Khalwâtiyah tidak lagi disebut dalam rangkaian nama tarekat tersebut, sehingga menjadi Tarekat Shiddiqiyyah saja. Perubahan nama atau penamaan baru seperti itu dalam dunia tarekat merupakan sesuatu yang wajar dan diakui kebenarannya.
Aboebakar Atjeh mengatakan, pergantian nama dalam tarekat merupakan sesuatu yang wajar sesuai dengan pengaruh syekh-syekh tarekat yang mengamalkan belakangan, keadaan setempat, dan keadaan bangsa yang menganut tarekat-tarekat tersebut
Ketika Tarekat Shiddiqiyyah muncul, masyarakat Jombang sudah didominasi oleh pengaruh Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyyah yang berpusat di Rejoso- Peterongan- Jombang. Tarekat tersebut telah lama menancapkan pengaruhnya di wilayah Jombang dan sekitarnya. Utamanya, dalam hal praktik ritual zikir masyarakat, wirid, istighotsah, manaqiban dan lain-lain.
Pondok Rejoso (Pondok Pesantren Darul Ulum) sendiri adalah pusat tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah di Jawa Timur. Harap diingat, tarekat adalah salah satu simpul utama pengikat basis NU (Nahdlatul Ulama), di samping lembaga pesantren.
[berita-terkait number=”4″ tag=”msat-jombang”]
Anang Firdaus, dalam Biografi KH Adlan Aly; Karomah Sang Wali, mengungkapkan, munculnya terekat di Jombang berawal dari pengasuh pesantren Rejoso KH Muhammad Kholil pada awal abad 20. Saat berada di Makkah, Kiai Kholil bertemu dengan Ahmad Hasbullah bin Muhammad.
Kemudian Ahmad Hasbullah membaiat Kiai Kholil masuk tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah serta mengangkatnya sebagai khalifah. Sejak itulah pesantren Rejoso berkembang menjadi pusat pergerakan tarekat tersebut. Menjelang akhir hidupnya, Kiai Kholil menyerahkan kepemimpinan tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah kepada iparnya, KH Romli Tamim.
Menjelang wafatnya pada 1958, jumlah pengikut tarekat ini sudah mencapai puluhan ribu. Sepeninggal Kiai Romli, posisi mursyid tarekat digantikan oleh putranya, KH Mustain Romli. Sekitar tahun 1970 KH Mustain Romli menjadi kiai tarekat yang kharismatik di Indonesia.
Namun memasuki Pemilu 1977 terjadi kemelut di tubuh tarekat ini. Karena sang Mursyid KH Mustain Romli masuk Golkar. Sejak itulah gerakan tarekat baru berdiri di Tebuireng Cukir yang dipimpin KH Adlan Aly. Tentu saja, tarekat Qodiriyah wan Naqsabandiyah di Jombang terbelah. Satu kubu di Pesantren Rejoso, satu lagi di Cukir Jombang.
Shiddiqiyyah Divonis Tidak Sah
Muhammad Shodiq, dalam bukunya berjudul Tarekat Shiddiqiyyah di Tengah Masyarakat Urban Surabaya mengatakan, sebagai tarekat dominan, Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah juga berhasil mempelopori berdirinya organisasi tarekat Indonesia yang dikenal dengan JATMI (Jam’iyyah Ahli Thoriqoh Muktabaroh Indonesia).
Dalam konstalasi kehidupan ketarekatan, Shiddiqiyyah merupakan salah satu tarekat yang divonis tidak sah oleh JATMI. Hal itu berdasarkan keputusan konggres tarekat di Magelang tahun 1971. Shiddiqiyah divonis sebagai tarekat yang ghoiru muktabaroh (tidak sah) karena dinilai tidak memiliki silsilah berupa susunan mata rantai guru tarekat yang menghubungkannya kepada pusat pembawa agama Islam, yaitu Nabi Muhammad saw.
Sebagai konsekuensi, JATMI menghimbau masyarakat untuk tidak mengikuti ajaran Shiddiqiyyah. Walaupun demikian, tampaknya tarekat ini memiliki ketangguhan dan mental kejuangan yang tinggi. Buktinya, sejak kelahirannya pada 1959 hingga sekarang tidak pernah menunjukkak tanda-tanda lenyap. Bahkan sebaliknya, semakin berkembang dan mendapatkan dukungan masyarakat. Bukan hanya di wilayah seputar Jombang, tetapi juga masyarakat luas di wilayah Indonesia.
Dalam upaya mempertahankan eksistensinya, Tarekat Shiddiqiyyah berusaha meyakinkan umat bahwa Shiddiqiyyah pada hakekatnya itu ada, dan hanya orang yang tidak tahu saja yang mengatakan tidak ada. Menurut sang mursyid, dalam buku tersebut, silsilah tarekat ini berasal dari Rasulullah saw. melalui sahabat Abu Bakar al Siddiq, Salman al Farisi, Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar al Siddiq, Imam Ja’far al Shadiq dan Syeikh Abu Yazid Thaifur bin Isa bin Sarwasyam al Basthami hingga kepada Syeikh Amin al Kurdi.
Kiai Muchtar sendiri menerima silsilah tarekat ini dari gurunya, Syeikh Syu’aib Jamali. Memang menurutnya, Tarekat Shiddiqiyyah itu benar-benar ada. Hanya saja mengalami perubahan nama dalam perjalanan historisnya. Nah, hal inilah yang membuat banyak orang awam tidak mengetahuinya. Tarekat ini memiliki landasan silsilah dari Abu Bakar al Shiddiq.
Sejak dari Abu Bakr al Shiddiq hingga Syeikh Thoifur Abu Yazid al Busthami nama tarekat adalah Shiddiqiyyah. Kemudian dari Syeikh Thoifur sampai pada Syeikh Abdul Kholiq dinamakan Thoifuriyah. Dari Abdul Kholiq ke bawah sampai Syeikh Muhammad Bahauddin an Naqsyabandi dinamakan Khawajikamiyah. Dari Sayyid Bahauddin sampai Ubaidillah al Ahrar dinamakan Naqshabandiyah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pesantren-jombang”]
Selanjutnya dari Sayyid Ubaidillah al Ahrar sampai Ahmad al Faruqi dinamakan Ahrariyah. Dari Syeikh Ahmad al Faruqi sampai pada Syeikh Kholid dinamakan Mujaddadiyah dan dari Syeikh Kholid tersebut sampai pada Syeikh al Amin al Kurdi dinamakan tarekat Khalidiyah.
Berdasarkan realitas historis tersebut, maka sang mursyid menegaskan bahwa dia mendapatkan ijazah dari gurunya, Syeikh Syu’aib Jamali, tentang tarekat tersebut dengan nama Khalwatiyah. Namun dia juga mendapatkannnya dengan nama Shiddiqiyah. Pada akhir periode bergurunya, dia diperintahkan Syeikh Jamali agar mengajarkan tarekat itu.
Kiai Muchtar berinisiatif untuk menggabung nama tarekat yang diajarkannya dengan Khalwatiyah-Shiddiqiyah. Dengan modal ijazah yang diterimanya itu, mursyid selalu meyakinkan kepada murid-muridnya bahwa tarekatnya adalah sah dan valid.
Dalam menanggapi tentang ketidakabsahannya itu dia mengatakan bahwa seandainya para ahli tarekat muktabarah tahu dan mau membaca kitab Tanwir al Qulub dengan penuh lapang pandangan, maka kemungkinan tidak akan menjatuhkan vonis terhadap tarekat Shiddiqiyah, tidak sah.
Terlepas dari perdebatan mengenai keabsahan tarekat tersebut, Tarekat Shiddiqiyyah hingga kini mampu bertahan. Bahkan, semakin lama berkembang menjadi tarekat yang dapat menemukan konsep dirinya. Tarekat tersebut tercatat sebagai salah satu tarekat yang ada di Indonesia sebagaimana terdapat dalam buku Ensiklopedi Islam jilid V halaman 67 bahwa Shiddiqiyyah merupakan tarekat yang tumbuh dan berkembang di Indonesia.
Sedangkan secara empiris-obyektif terbuktikan bahwa tarekat tersebut tidak pernah surut walaupun dihujani badai tuduhan yang dipicu oleh vonis di atas. Bahkan semakin hari bertumbuh dan berkembang secara kuantitatif dan kualitatif, serta mampu membangun visinya kedepan.
Membangun Jejaring Ekonomi
Masih di buku yang sama, visi Tarekat Shiddiqiyyah adalah menjadi lembaga dan media pendidikan umat. Manusia dipandang sebagai makhluk yang mulia berdimensi lahir dan batin. Oleh karena itu, mereka harus diarahkan untuk kebaikan lahir dan batinnya. Guna merealisasikan visinya itu Shiddiqiyah memiliki concern untuk mengajak warganya bersemangat dalam mencapai kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat. Bersemangat dalam bekerja dan beribadah.
Untuk itu organisasi Tarekat Shiddiqiyyah dalam kerangka membangun kesejahteraan lahir mendirikan koperasi, membuka berbagai badan usaha, seperti perusahaan air minum yang bermerek MAAQO (Maan ghadaqan), perusahaan kerupuk, perusahaan rokok obat Sehat Tentrem, perusahaan madu murni al Kautsar, dan membuka usaha hotel dan rumah makan seperti yang dirintis oleh mursyid sendiri.
Atas kiat seperti itu banyak kalangan yang memiliki profesi dalam dunia kerja seperti para pengusaha tertarik untuk menjadi pengikut tarekat ini, baik di desa maupun kota. Untuk melengkapi aspek kebutuhan organisasi-kelembagaan, tarekat mendirikan lembaga informasi Shiddiqiyyah di pusat Jombang dengan menerbitkam majalah al Kautsar sebagai media komunikasi warganya.
Sedangkan untuk meningkatkan kualitas kerohanian dan keberagamaan warga Shiddiqiyyah (Orshid), disusunlah buku-buku pedoman tarekat, metode dzikir dan wirid kautsaran, isti’anahan, khalwatan, bai’atan dan lain-lain. Ajaran-ajaran pokok tersebut diterbitkan secara berkala oleh pusat percetakan Shiddiqiyyah di samping juga melalui informasi-informasi yang disampaikan melalui para khalifah.
Dalam buku tersebut Muhammad Shodiq juga menjelaskan, terkait dengan visi kemanusiaan dan paradigma atau konsep diri tarekat, Shiddiqiyyah memiliki wawasan kebangsaan yang humanistik-filosofik. Artinya wawasan tersebut dikembangkan dari pemahaman mendasar. Bahwa manusia itu tercipta dari unsur tanah dan air. Unsur yang telah berjasa dalam mewujudkan manusia sehingga ia harus mampu menghormati jasa kedua unsur tersebut. Sebagai bentuk penghormatan maka manusia harus mencintai tanah airnya yang terdiri dari tanah dan air sebagai tempat berpijak dan hidupnya di dunia.
Cinta Tanah Air
Karena itu mencintai tanah air merupakan hal yang sangat prinsip dalam kehidupan. Untuk menguatkan rasa cinta tanah air itu maka mursyid Shiddiqiyyah menciptakan simbol perjuangan untuk berbakti kepada nusa dan bangsa Indonesia dengan membangun monumen Hubbul Wathon yang berada di area pesantren Shiddiqiyyah, tepatnya di sebelah selatan gedung Jami’atul Mudzakkirin. Menjadi satu dengan komplek madrasah Shiddiqiyyah Tarbiyatul Hifdzil Ghulam wal Banat (THGB).
Monumen ini tidak hanya dibangun di pusat, tetapi di seluruh cabang Shiddiqiyyah. Sebagai wujud konkret dari rasa cinta tanah air, Shiddiqiyyah meningkatkan rasa peduli bangsa dan kasih sayang kepada fakir miskin. Untuk itu secara kelembagaan Shiddiqiyyah mendirikan lembaga dana yang disebut Dzilalul Mustadh’afin Shiddiqiyyah yang disingkat DM dan sekarang diganti dengan nama Dzilal Berkat Rahmat Allah (DIBRA), semacam lembaga penyalur dana dari para dermawan Shiddiqiyyah yang diberikan kepada fakir miskin.
Demikian juga, telah berhasil didirikan tempat-tempat ritual kebaktian tarekat berupa Kautsaran putra maupun putri dan isti’anahan (sejenis Istighotsah dalam tradisi NU) yang mengambil tempat di Gedung Jami’atul Mudzakkirin pada tiap cabang kekhalifahan. Dengan demikian, maka tampak bahwa kegiatan tarekat ini semakin memikat masyarakat yang dilanda kehausan spiritualitas.
[berita-terkait number=”4″ tag=”santri”]
Bentuk ritual dzikir ketarekatan Shiddiqiyyah memang khas dan memiliki simbol tersendiri di tengah dominasi bentuk dzikir tarekat dominan seperti istighosah dan lain-lain. Namun demikian itu tetap mendapatkan penggemar dan pengikut yang sangat banyak.
Jemaah Shiddiqiyyah juga mematuhi delapan kesanggupan. Hal itu sebagai benang merah hubungan antara manusia dan kebangsaan. Delapan kesanggupan Tarekat Shiddiqiyah adalah; sanggup taat kepada Allah Ta’ala, bakti kepada Allah Ta’ala; kedua sanggup taat kepada Rasulullah, bakti kepada Rasulullah; ketiga sanggup taat kepada orang tua (Ibu-Bapak), serta sanggup bakti kepada sesama manusia.
Kesanggupan kelima adalah bakti kepada Negara Republik Indonesia (Untuk warga Negara Indonesia), keenam sanggup cinta tanah air Indonesia (untuk warga Negara Indonesia), ketujuh sanggup mengamalkan tarekat Shiddiqiyyah, dan terakhir sanggup mengahargai waktu.
Jemaahnya Hingga Luar Negeri
Meski jemaahnya sudah tersebar di penjuru tanah air, sang mursyid masih tampil dengan penuh kesederhanaan. Memakai baju putih, bersarung dan berpeci hitam. Setiap satu bulan sekali (tanggal 15 penanggalan Hijriah) Kiai Muchtar menemui ribuan jemaahnya di Pesantren Majmal Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman Desa Losari Kecamatan Ploso Jombang. Acara itu disebut Kautsaran. Mereka membaca wirid dan doa-doa hingga larut malam.
Semua itu adalah buah dari kesabaran Kiai Muchtar Mu’thi, yang merupakan putra dari pasangan H Abdul Mu’thi dan Nyai Nashihah. Kiai Muchtr lahir di Desa Losari Ploso- Jombang pada tahun 1928. Pendidikan yang pernah ditempuh adalah Madrasah Islamiyah Rejoagung, Ploso, Jombang. Setelah itu melanjutkan ke pesantren Rejoso, Peterongan, Jombang dan kemudian melanjutkan ke pesantren Tambakberas.
Dengan kesabaran dan kegigihan Kiai Muchtar, Tarekat Shiddiqiyyah berkembang ke berbagai pelosok tanah air Indonesia. Bahkan ke Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darussalam. Murid-murid Shiddiqiyyah setiap hari bertambah dan sekarang diperkirakan lebih dari lima juta orang. [suf/ted]






