Ngawi (beritajatim.com) – Sebanyak 32 ekor hewan ternak di Ngawi terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Hingga kini, petuga Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi masih terus bertandang ke masing-masing desa untuk melacak penyebaran virus tersebut.
Kabid Keswan Dinas Perikanan dan Peternakan Ngawi Wachidah Suryandani membenarkan jika temuan kasus pertama yakni pada 8 Juni 2022 lalu.
Ada laporan yakni gejala awal yang mengarah ke PMK. Kemudian, pihaknya melakukan pengambilan sampel terhadap laporan –laporan tersebut.
‘’Total ada 21 sampel. Enam ekor rusa di Kebun Binatang Monumen Suryo Ngawi, enam ekor kerbau di desa Kersikan, dan di Desa Karangsono Ngawi ada sembilan sampel salah satunya kambing. Dari semua sampel hanya enam ekor rusa di Monumen Surya yang dinyatakan negatif. Sisanya positif,’’ kata Wachidah, Kamis (16/6/2022)
Wachidah menjelaskan jika saat ini pihaknya masih terus melakukan pelacakan ke tiap daerah di seluruh Ngawi.
Terutama jika ada ternak yang gejalanya mirip dengan PMK yakni demam mencapai 41 derajat selcius, keluar air liur berlebih pada hewan, berkurang nafsu makan, dan ada luka di kaki. Adanya data termutakhir di lapangan segera diinput dalam Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS).
‘’Mayoritas yang tertular adalah milik peternak rumahan. Mereka yang menggemukkan ternak dan kerap mendatangkan sapi dari luar daerah. Itulah yang mudah sekali kena,’’ kata Wachidah.
[berita-terkait number=”4″ tag=”penyakit-mulut-kuku”]
Dia melanjutkan jika mayoritas budaya peternak di Ngawi adalah memandikan ternak di sungai. Dia mengimbau agar ternak tidak dimandikan di sungai. Baik ternak yang sakit maupun yang sehat. Karena bisa memicu penyakit, bukan hanya PMK tapi juga kemungkinan adanya penyakit lain.
‘’Kami juga meminta agar peternak selalu memelihara kebersihan kandang agar menekan penularan PMK. Orang-orang yang bisa masuk kandang juga sebisa mungkin dibatasi dan dijaga kebersihan apa saja jika masuk kandang,’’ katanya. (fiq/ted)






