Lamongan (beritajatim.com) – Dalam rangka menanggulangi serangan hama dan penyakit tanaman, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Lamongan melakukan gerakan pengendalian penyakit blas (Magnaporthe oryzae).
Kegiatan pengendalian hama berupa penyemprotan yang menggunakan agensi hayati ini dilakukan di lahan seluas 10 hektar di Desa Blawirejo, Kecamatan Kedungpring, Lamongan, pada Kamis (2/5/2022) hari ini.
Karena dilakukan dengan sistem pembasmi hama dan penyakit tanaman melalui udara yang memanfaatkan pesawat tanpa awak (Drone), maka proses penyemprotan itu pun tak berlangsung lama.
Kepala DKPP Lamongan Sukriyah mengatakan, kegiatan ini digelar sebagai upaya mitigasi, pencegahan dan penanganan terhadap serangan blas. Sehingga diperlukan satu komitmen gerakan pengendalian bersama yang efektif dan ramah lingkungan.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pemkab-lamongan”]
“Dengan penyemprotan melalui drone ini akan semakin efektif dalam penggunaan pupuk. Selain itu juga efisien dan menghemat biaya, karena dalam 1 hektar lahan hanya memerlukan waktu 10 menit. Semoga teknologi modern ini semakin memudahkan petani,” ujar Sukriyah kepada wartawan, Kamis (2/6/2022).
Sukriyah menuturkan, hingga bulan ini diketahui bahwa dari lahan tanaman padi seluas 116.519 hektar, terdapat 68.238 hektar yang sudah menggelar panen. Artinya masih ada 48.281 hektar tanaman lagi yang belum dipanen.
Untuk itu, tambah Sukriyah, agar tanaman tersebut bisa panen pada waktunya, maka perlu dijaga dengan baik. “Mengingat kelembaban dan temperatur di Lamongan masih relatif tinggi dan masih sering terjadi mendung menggumpal, maka diprediksi ada beberapa penyakit yang muncul, salah satunya blas ini,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan, penyakit blas atau busuk leher ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh jamur pylicularia grisea. Jamur ini bisa menginfeksi semua fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari fase pembibitan sampai pada fase generative (produktif).
“Jika tidak segera ditangani, hal tersebut bisa mengakibatkan penurunan hasil produksi pertanian dan perkebunan, sehingga juga dapat mengancam ketahanan pangan di Indonesia,” terangnya.
Sementara itu, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi menuturkan, serangan hama dan penyakit tanaman merupakan masalah yang kerap dihadapi petani di tanah air, tak terkecuali di Lamongan.
Oleh sebab itu, selain gerakan pengendalian penyakit dilakukan dengan agensi hayati, Bupati Yuhronur berkata, pengendalian ini juga perlu dibantu dengan teknologi pertanian modern dan canggih, sehingga akan terjadi efesiensi biaya maupun waktu.
“Ke depan modernisasi pertanian harus dibantu dengan peralatan modern dan canggih seperti yang kita lakukan sekarang. Ini sebuah pengenalan kepada masyarakat mulai dari pengolahan sampai pasca panen. Kita kenalkan teknologi pertanian,” tuturnya.
Lebih jauh, meski baru dikenalkan di wilayah Kecamatan Kedungpring, Bupati Yuhronur berharap, peralatan pertanian modern semacam ini akan segera dikembangkan di seluruh Lamongan. “Mari terus kita jaga produktivitas Lamongan sebagai penyumbang padi terbesar ke lima di Indonesia,” pungkasnya.[riq/kun]






