Surabaya (beritajatim.com) – Sebelum menikah, banyak orang takut jika mendapatkan mertua yang jahat dan selalu ikut campur dengan rumah tangganya kelak. Ketakutan ini tak lepas dari cerita pengalaman masyarakat yang hubungannya retak, salah satunya karena peran orang tua yang justru mendominasi.
Sebenarnya hal ini tak sepenuhnya benar. Tentu saja setiap orang memiliki karakter yang berbeda-beda, termasuk mertua maupun cara pasangan menyikapinya. Bahkan tak menutup kemungkinan bahwa ada mertua yang justru sangat baik.
Berikut ini ciri-ciri mertua yang baik, di antaranya;
Tidak ikut campur urusan rumah tangga anak
Salah satu penyebab rusaknya rumah tangga ialah mertua yang terlalu ikut campur, bahkan dalam permasalahan yang sebenarnya sangat sederhana. Mertua yang baik tidak akan ikut andil jika memang tidak dimintai saran.
Hal ini bukan karena tidak sayang, hanya saja mereka sadar bahwa itu hanya akan membuat keadaan jadi rumit, bahkan mungkin memanas.
Bisa memberi solusi
Jika benar-benar anak dan menantu mengalami masalah dan membutuhkan bantuan, maka mertua yang baik tak akan segan untuk membantunya. Meskipun mungkin sekedar memberikan solusi. Hal tersebut akan sangat berguna bagi keberlangsungan rumah tangganya.
Memperlakukan menantu seperti anak sendiri
Mertua yang baik tentu saja akan memperlakukan menantu selayaknya anak kandungnya sendiri, tidak akan membeda-bedakan. Termasuk perihal kasih sayang, perlakukan, hingga bahkan saat ia melakukan kesalahan.
Tidak mencari-cari kesalahan menantu
Hal yang mungkin sering didengar dari para pasangan suami istri ialah mertua yang kerap mencari kesalahan menantunya. Mertua yang baik tentu saja tak akan melakukan hal tersebut.
Alih-alih mencari kesalahan, mertua harusnya justru memberikan nasihat jika memang merasa ada yang salah pada menantunya.
Tidak cerewet
Pasti ada saja momen yang mungkin membuat mertua cerewet. Hal ini bisa jadi karena kepribadiannya memang seperti itu, ketidakcocokannya dengan menantu, atau lainnya.
Padahal para mertua sebenarnya tidak perlu melakukan hal tersebut. Jika memang khawatir ungkapkan tanpa perlu memaksa anak dan menantu untuk menurutinya.
Akan lebih baik pula, jika saat anak berkeluh kesah perihal pasangannya, sebaiknya tidak memberikan nasihat yang justru terkesan mengadu domba. Hal inilah yang kerap kali justru membuat hubungan anak dengan menantu retak. (Fyi/ian)






