Surabaya (beritajatim.com) – Mendapati pesawat mengalami penundaan atau delay saja sudah bisa membuat jengkel. Apalagi jika mendapat kabar penerbangan dibatalkan. Satu jadwal saja sudah bikin marah, apalagi jika sampai ratusan.
Seperti yang terjadi baru-baru ini. Ratusan jadwal penerbangan maskapai Easy Jet dibatalkan dan membuat banyak penumpang marah.
Kekacauan pun timbul. Sementara pembatalan massal dilakukan lantaran ketidakhadiran para staf akibat Covid-19.
Terkait keputusan pembatalan tersebut Maskapai Easy Jet mengatakan telah mencoba menyelesaikan masalah dengan menggunakan kru siaga tetapi memutuskan untuk membuat “beberapa pembatalan terlebih dahulu”.
Dikutip dari The Sun sebanyak 62 jadwal dari semua penerbangan dari Inggris pada Minggu kemarin (3/4) dibatalkan. Para menumpang yang mayoritas orang Inggris pun telah melampiaskan kemarahan mereka lewat online, mengatakan mereka sekarang terjebak di luar negeri tanpa cara untuk pulang.
Satu orang di Twitter menulis: “Jangan menerbangkan EasyJet, kami terdampar di Marseilles, beberapa orang sejak pagi ini karena penerbangan yang dibatalkan sebelumnya! Penerbangan sekarang MUNGKIN jam 1 pagi, dijadwalkan terbang jam 10 malam, orang-orang di bandara sangat marah! ”
Yang lain hanya berkata: “Membatalkan penerbangan kami ke Jenewa juga!”
EasyJet mengatakan pembatalan itu merupakan bagian kecil dari jadwalnya. Pada Senin, maskapai ini membatalkan sebanyak 1.645 penerbangan ke berbagai tujuan.
Seorang juru bicara EasyJet mengatakan pada hari Minggu: “Sebagai akibat dari tingkat infeksi Covid-19 yang tinggi saat ini di seluruh Eropa, seperti semua bisnis, easyJet mengalami tingkat penyakit karyawan yang lebih tinggi dari biasanya.”
“Sayangnya perlu membuat beberapa pembatalan tambahan untuk hari ini dan besok. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.”
“Kami telah melakukan 62 pembatalan pre-emptive untuk penerbangan ke dan dari Inggris untuk besok yang merupakan sebagian kecil dari total program penerbangan besok yang direncanakan lebih dari 1.645 penerbangan. Kami membatalkan sebagian besar kemarin.” (adg/beq)






