Ringkasan Berita:
- WNI asal Ponorogo, Herman Budianto, ditahan Israel saat mengikuti misi kemanusiaan menuju Gaza.
- Herman tergabung dalam kapal Global Sumud Flotilla 2.0 bersama relawan internasional pembawa bantuan Palestina.
- Keluarga di Ponorogo mengaku kehilangan komunikasi setelah kapal dihentikan paksa militer Israel.
- Pihak keluarga meminta pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik untuk membebaskan para relawan.
Ponorogo (beritajatim.com) – Kabar mengejutkan datang dari misi kemanusiaan internasional menuju Gaza, Palestina. Salah satu warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan militer Israel saat pelayaran bantuan kemanusiaan di perairan internasional diketahui berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Relawan tersebut adalah Herman Budianto yang tergabung dalam kapal Global Sumud Flotilla 2.0. Herman bersama WNI lainnya ikut dalam rombongan koalisi masyarakat sipil internasional yang membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza, Palestina.
Kabar penahanan itu membuat keluarga Herman di Ponorogo diliputi kecemasan. Komunikasi dengan Herman terputus setelah kapal yang ditumpanginya dikabarkan dihentikan paksa oleh pasukan Israel di perairan internasional.
Adik Herman, Diah Puspasari, mengatakan keluarga berharap pemerintah Indonesia segera mengambil langkah diplomatik agar seluruh WNI yang ditahan dapat dibebaskan dan kembali dengan selamat.
“Harapan kita, ya minta doa dari semua orang Indonesia maupun teman-teman yang sudah mengetahui berita ini, doanya untuk keselamatan kakak saya dan teman-temannya. Dan juga kepada pemerintah untuk segera bertindak bagaimana caranya untuk menyelamatkan dan membebaskan para tawanan dari Indonesia,” kata Diah, Kamis (21/5/2026).
Menurut Diah, keberangkatan Herman bersama para relawan lain murni didasari alasan kemanusiaan, bukan mewakili negara tertentu.
Mereka ingin menunjukkan kepada dunia internasional bahwa kondisi Palestina masih membutuhkan perhatian global karena hingga kini belum merdeka sepenuhnya.
“Keberangkatan mereka itu tidak atas nama negara, tapi benar-benar karena kemanusiaan yang melihat Palestina terlantar. Mereka pengennya semua mengingat bahwa Palestina belum merdeka,” ungkapnya.
Diah mengaku terakhir kali keluarga berkomunikasi dengan Herman sekitar 19 Mei 2026. Saat itu keluarga belum mengetahui secara detail bahwa Herman ikut dalam rombongan flotilla kemanusiaan menuju Gaza.
“Karena beliau sering keluar negeri ya biasa seperti itu. Ternyata kita kaget berangkat dari Turki baru tahu ikut rombongan itu. Pamitnya di grup keluarga,” katanya.
Sebelum kabar penahanan muncul, Herman disebut sempat melakukan siaran langsung melalui media sosial Instagram. Dalam tayangan tersebut terlihat situasi ketika kapal yang mereka tumpangi diduga mulai diburu aparat Israel.
“Sempat live di IG, tapi kemarin itu tidak ada suaranya,” ujar Diah.
Keluarga menduga siaran langsung tersebut sengaja dilakukan sebagai dokumentasi terakhir sebelum para relawan ditangkap.
Bahkan berdasarkan informasi yang diterima keluarga, telepon genggam para relawan disebut sengaja dibuang ke laut agar jejak aktivitas mereka tidak terlacak.
“Kayaknya mau ditangkap sengaja live. Setelah itu hape dibuang ke laut, tidak meninggalkan jejak,” jelasnya.
Di mata keluarga, Herman dikenal sebagai sosok yang aktif dalam kegiatan sosial sejak muda. Semasa sekolah, ia aktif berorganisasi dan memiliki kepedulian tinggi terhadap isu kemanusiaan.
“Dari dulu SMP dan SMA aktivis juga di organisasi, baik, santun. Lulus SMA ke Jakarta dia kerja baru kuliah, kuliah sendiri bukan dibiayai orang tua,” kata Diah.
Hingga kini keluarga mengaku belum dapat berkomunikasi langsung dengan Herman maupun relawan lainnya. Mereka hanya bisa saling menguatkan sambil menunggu langkah pemerintah Indonesia terkait upaya pembebasan para relawan yang ditahan Israel.
“Harapnya pemerintah dengan tegas cepat mengusahakan kebebasan para tawanan. Sebab tanpa pemerintah, tidak mungkin kita bisa apa-apa,” pungkasnya. [end/beq]






