Surabaya (beritajatim.com) – Di manapun, karya seni disimpan dengan baik hingga mendapat perawatan khusus. Tujuannya agar karya seni tersebut tidak rusak meski sudah berusia puluhan hingga ratusan tahun.
Tidak demikian halnya dengan Tower of Babel. Karya seni instrumen yang dibangun di taman seni Nikola-Levinets, 220 Kilometer dari Moskow, Rusia, malah dibakar.
Penyebabnya, karya seni itu dinilai melambangkan perselisihan sehingga memicu konflik. Tetapi uniknya, desa Nikola-Levinets memang punya tradisi untuk membakar karya seni.
Dikutip dari Odditycentral.com, tradisi bakar karya seni sudah terjadi di Nikola-Lenivets sejak 2001. Tahun ini pun, desa seni Nikola-Lenivets membakar Menara Babel dari kayu setinggi 23 meter, simbol perselisihan dalam Alkitab.
Tradisi ini dilakukan untuk menyambut Hari Raya Slavia di Maslenitsa. Maslenitsa melambangkan berlalunya musim dingin dan datangnya musim semi, awal yang baru.
Tetapi tahun ini, tradisi artistik lebih megah dan lebih bermakna dari sebelumnya. Sebuah menara kayu Babel setinggi 23 meter yang dirancang oleh arsitek muda Ekaterina Polyakova dibakar dalam sebuah upacara yang dirancang untuk melambangkan akhir dari perselisihan antar negara.
Tower of Babel adalah mitos asal yang dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa orang-orang di dunia berbicara dalam bahasa yang berbeda. Ini menceritakan kisah ras manusia yang bersatu berbicara dalam bahasa yang sama ketika mencoba membangun kota dan menara yang cukup tinggi untuk mencapai surga.
Tuhan kemudian melihat orang-orang sombong mengganggu pekerjaan mereka. Sehingga mereka tidak bisa lagi memahami satu sama lain dan menyelesaikan struktur.
Meskipun Tower of Babel tidak selalu disebut sebagai contoh perselisihan di antara manusia, karena alasan yang tepat inilah para seniman Nikola-Lenivets memilihnya sebagai patung tahun ini.
“Kebetulan Tower of Babel tidak pernah selesai karena perselisihan antara manusia dan seluruh bangsa. Yang sekarang, yang sedang kami bangun untuk Maslenitsa di Nikola-Lenivets, berfungsi sebagai simbol modern dari perpecahan semacam itu,” kata salah satu seniman setempat, Ekaterina Polyakova.
Struktur yang mengesankan dibangun dari kayu gelondongan, semak belukar, kayu dan jerami. Minggu lalu. Sebelum menara dibakar, ribuan orang yang tiba di Nikola-Lenivets menuliskan kalimat perlambangan yang ingin mereka singkirkan dari kehidupan.
Kalimat tersebut ditulis di menara itu. Sehingga mereka bisa terbakar dengan menara. (adg/beq)






