Jember (beritajatim.com) – Persentase angka gizi buruk (stunting) di Kabupaten Jember, Jawa Timur, ternyata lebih baik daripada angka nasional. Hal ini dikemukakan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI Hasto Wardoyo, di Pendapa Wahyawibawagraha, Selasa (8/3/2022).
“Persentase nasional 24,4 persen (dari jumlah balita). Di Jember lebih rendah. Alhamdulillah. Di bawah Pak Hendy (Siswanto) dan Pak Wabup, Jember sukses (menekan angka stunting), hanya 23 koma sedikit persen. Jawa Timur 23 koma sekian persen. Jadi sudah lebih rendah dari rata-rata nasional. Jawa Timur secara umum bagus. Jember termasuk yang bagus,” kata Hasto.
Hasto mengatakan, ada tim percepatan penurunan stunting di Jember yang mengawal program-program pemerintah supaya ada konvergensi. “Terus ada tim pendamping keluarga yang jumlahnya lima ribu lebih yang kami siapkan di sini, untuk mengawal bantuan-bantuan itu supaya sampai dan mengawal yang hamil, mau hamil, dan melahirkan,” katanya.
Setiap kelahiran bayi harus dicatat. “Bayi yang panjangnya kurang dari 48 centimeter harus segera dicatat. Nanti Pak Bupati dan Pak Wabup di kantornya bisa melihat yang lahir sekian puluh bayi, dan yang panjangnya kurang dari 48 centimeter ada di sana, di sana, di sana. Tinggal Pak Kepala Dinas diperintahkan untuk mendampingi,” kata Hasto.
Jember juga mendapat tambahan gelontoran anggaran untuk penanganan gizi buruk dari pemerintah pusat. “Tahun lalu tidak sampai Rp 10 miliar untuk urusan itu. Sekarang kita berikan Rp 16 miliar,” kata Hasto.
Hasto mengakui, tahun lalu ada kendala serapan anggaran di sejumlah daerah di Indonesia karena pandemi. “Tahun ini (tren) pandemi sudah turun. Strateginya begini: layanan KB (Keluarga Berencana) dilakukan secara serentak, tapi titiknya dipecah-pecah,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”stunting”]
Nantinya, menurut Hasto, semua anggaran dan program yang tertuju pada stunting harus sampai pada sasaran ibu hamil, bayi, dan keluarga. “Datanya harus jelas. By name, by address harus jelas. Maka BKKBN menyediakan data keluarga berisiko tinggi stunting,” katanya.
“Kalau ada pasangan berusia 36 tahun mau hamil, kami catat sebagai pasangan risiko tinggi stunting. Terlalu tua. Kalau ada ibu yang sudah punya tiga anak, mau hamil lagi, kami catat sebagai risiko tinggu stunting. Terlalu banyak. Kalau ada yang usia 16 tahun sudah menikah, kami catat sebagai risiko tinggi terlalu muda,” kata Hasto.
Salah satu penyebab munculnya gizi buruk atau stunting adalah pengaruh lingkungan. “Ada yang lingkungan kotor, tak punya air bersih, tak punya jamban sehat, sehingga sering sakit-sakitan. Kendalanya mind set. Ada warga yang mind set-nya ‘sudahlah pakai seadanya saja’. Sudah punya sepeda motor Rp 10 juta, jamban harga Rp 1,5 juta tidak dikerjakan,” kata Hasto.
Makanan juga berpengaruh. “Anak kecil rewel sedikit dikasih mi, cilok. Tidak melihat gizi seimbang. Padahal satu biji telur satu hari lebih bagus,” kata Hasto. [wir/suf]






