Surabaya (beritajatim.com) – Sempat patah semangat karena usaha service komputer tak lagi menjanjikan. Siti Muttahidah justru berhasil membuka bisnis frozen food yang diproduksinya sendiri.
“Karena sudah banyak yang pakai laptop jadinya service komputer PC jadi sepi. Mau tidak mau saya harus berfikir mencari usaha lain untuk membantu suami mencari tambahan penghasilan lain,” tutur ibu dua anak ini.
Akhirnya dirinya mendapat tawaran dari sang Budhe (bibi) untuk menjual pentol bakso yang diproduksinya sendiri. Bermodal kepercayaan, Siti mulai menawarkan tester bakso yang dijualnya ke rumah tetangga dan teman-temannya semasa SMA dulu.
“Waktu awal jualan itu saya hanya punya stok 20 bungkus. Dan ternyata kok teman saya yang kerja di pabrik suka dan teman-temannya banyak yang pesan,” kenang Siti.
Sejak saat itu dirinya semakin terpacu membuat produk lain selain bakso frozen. Berbekal resep memasak siomay dari ibunda, Siti pun membuat siomay yang dijual diharga Rp 12 ribu dengan isi per pack 22 siomay.
Permintaan semakin banyak, Siti pun membuat varian lain yakni tahu bakso. Yang dibandrol seharga Rp 15 ribu. Dirinya juga membuat pentol cilok dengan harga Rp 28 ribu untuk 1 kg cilok.
“Resikonya kalau jualan di desa begini ya tidak bisa mahal. Saya berusaha menjual di bawah Rp 30 ribu karena daya beli warga sekitar yang masih rendah,” beber Siti.
Meskipun murah meriah, produk frozen milik Siti diminati banyak pelanggannya karena rasanya yang enak. Sebagian besar konsumen yang membeli pertama kali akan datang lagi untuk pembelian kedua dan seterusnya.
“Bagi saya yang penting untuk sedikit asal produknya laris manis,” jelasnya.
“Tahun lalu saya dapat pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari BRI Unit Krembung, sebesar Rp 20 juta yang akhirnya saya gunakan untuk membeli frezeer lebih besar,” akunya.
Kini setelah memiliki dua frezeer, Siti fokus untuk mempersiapkan stok jelang bulan puasa dan lebaran. Sebab jika lebaran Siti mampu menjual hingga 500 bungkus produk frozennya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”UMKM”]
“Cicilan yang kami dapatkan sangat membantu pengembangan usaha saya. Bunganya juga tidak mencekik, sebulan cicilan saya Rp 889 ribu selama 2 tahun,” tandasnya.
Hal yang sama juga diamini oleh CEO BRI Regional Surabaya, Triswahju Herlina mengatakan bahwa tingginya penyaluran KUR tak lepas dari meningkatnya daya beli masyarakat.
Tercatat ada 368 ribu UMKM yang mengakses permodalan selama 2021. Total kredit usaha rakyat (KUR) yang dikeluarkan mencapai Rp 9,9 triliun.
“Kami yakin UMKM kedepan akan lebih berkembang lagi, seiring dengan bangkitnya ekonomi kembali,” tandasnya.[rea]






