Magetan (beritajatim.com) – Diduga kurang terorganisir dengan baik, acara operasi pasar minyak goreng murah di Magetan memicu kerumunan antrian warga.
Sebanyak 2.000 liter minyak goreng itu diperuntukkan bagi 1.000 orang warga. Namun, warga menyayangkan karena tidak ada data pasti sehingga warga berebut untuk bisa memasuki halaman kantor UPT Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Magetan dan membeli minyak goreng seharga Rp 12.500 per liter.
Sumarti salah seorang warga mengaku kecewa dengan acara operasi pasar tersebut. Sesuai dengan selebaran yang dilihat di media sosial, acara operasi pasar digelar pukul 13.00 WIB, namun hingga pukul 15.00, dirinya belum bisa masuk ke halaman kantor UPT Bapenda. Alasannya sudah ada yang mengantar lebih dulu. Bahkan dirinya sempat dipingpong oleh petugas yang berjaga untuk bergonta ganti pintu masuk.
”Pintu masuknya kan ada dua selatan dan utara. Saya tunggu di utara ternyata disuruh ke selatan. Begitu terus sebaliknya. Saya sampai capek menunggu karena saya bum diperbolehkan masuk,” kata warga Kebonagung, Magetan itu.

Dia kecewa dengan cara petugas memperlakukan warga. Pemerintah yang membuat acara tersebut seolah meremehkan masyarakat kecil karena membuat mereka menunggu dan meneriaki warga yang hendak nekat masuk karena sudah menunggu lama. Terlebih, pemerintah yang gencar melarang adanya kerumunan justru membuat masyarakat berkerumun.
”Seharusnya diberi kupon, ambil di mobil. Langsung pergi. Kalau begitu kan tidak membuat kerumunan. Tapi, yang kali ini tidak ada data yang menerima siapa saja. Warga asal datang dan membeli minyak goreng murah. Dan pembeliannya harus di dalam halaman kantor ini, akhirnya berjubel di depan gerbang kantor,” katanya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pemkab-magetan”]
Tak lain dengan Sumarti, Satriyo salah seorang warga Kalang, Sidorejo, Magetan mengaku kesal dengan acara operasi pasar tersebut. Lantaran, dirinya perlu menunggu lama dan baru dipersilakan masuk sekitar pukul 16.00. Petugas meneriakinya agar menjauh dan tidak berjubel di gerbang. Padahal dirinya sudah lama mengantri.
”Saya hanya bisa diam, tapi petugas berteriak ke kami untuk tidak mendorong gerbang. Saya hanya berdiri mengantri, tapi diteriaki. Tidak hanya saya tapi juga warga yang lain,” katanya. (fiq/ted)






