Surabaya (beritajatim.com) – Istilah ghosting mungkin sangat familiar dalam hubungan seorang pria dan wanita. Ghosting ini terjadi jika salah satu dari keduanya menghilang secara tiba-tiba tanpa ada hal mendasar dan alasan sebelumnya. Namun, bukan hanya hubungan saja yg mengenal korban ghosting, ternyata organisasi juga bisa di ghosting.
Fenomena Ghosting dalam Organisasi ini diartikan sebagai seseorang yang menghilang tiba-tiba dan memutuskan semua komunikasi dengan pihak terkait organisasi tersebut. Hal ini makin marak, terutama semenjak pandemi covid-19 melanda. Lantas, fenomena ini menjadi cukup sering terjadi dalam sebuah organisasi kemahasiswaan.
Ghosting pada organisasi kemahasiswa ini bisa terjadi dengan berbagai latar belakang.
Pertama, organisasi tersebut memiliki transparansi yang buruk. Terutama transparansi dari segi rencana kegiatan, rancangan pendanaan, juga hal penting lain yang semestinya diketahui oleh seluruh anggota.
Kedua, pemimpin yang kurang mendengarkan anggotanya. Ghosting ini akan rawan terjadi jika pemimpin terkesan otoriter. Pemimpin yang hanya ingin didengarkan, tanpa pernah mau mendengar maksud dari orang lain atau anggota. Sehingga dari masalah itu pun anggota yang merasa tidak dihargai dan merasa terisolasi.
Ketiga, tidak adanya tujuan yang jelas. Tanpa tujuan yang jelas keberadaan organisasi pun jadi hal yang percuma. Sebab sebuah organisasi akan tercapai apabila punya tujuan dan persepsi yang sama.
Guna menangani fenomena ghosting di kalangan organisasi kemahasiswaan ini, ada beberapa upaya yang bisa ditempuh.
Pertama, organisasi perlu melakukan pendekatan personal dengan anggota yang melakukan ghosting. Sehingga anggota bersangkutan akan merasa mendapat perhatian khusus, dan bisa kembali aktif di organisasi terkait.
Kedua, jangan langsung menegur. Anggota tersebut sebaiknya tidak langsung ditegur karena akan membuatnya semakin merasa tidak nyaman. Bicarakan dan tanyakan keluhan yang dirasakannya, lalu carilah solusi terbaik.
Ketiga, penting juga bagi seluruh anggota untuk selalu jaga alur komunikasi antar anggota. Keempat,peka terhadap kualitas hubungan interpersonal. Dan hal terakhir yang bisa dilakulan yaitu, bersikap perhatian saling menghargai satu sama lain.
Fenomena ghosting organisasi kemahasiswa memang jadi isu yang cukup menarik. Terutama agar bisa jadi pembelajaran bagi mahasiswa yang sedang memiliki anggota tukang ghosting. [dan/tur]






