Lumajang (beritajatim.com) – Gambar diatas adalah rumah Lailatul Hasanah (25) yang ada di Kampung Kamar A, Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang. Di samping rumah Lailatul, terdapat menara sirine. Tempat Stasiun Pemberitaan Banjir Dini Pos Siaga IV Semeru berdiri.
Pos Siaga IV Semeru ditempat itu, semacam early warning system atau peringatan bahaya sejak dini apabila Semeru meletus. Namun, menurut Lailatul, alat deteksi bahaya dini Semeru yang terpasang di rumahnya sudah tidak berfungsi.
“Kalau dulu ketika Semeru mengeluarkan lava dan banjir lahar kita langsung bunyikan sirine. Tapi alat ini sudah rusak, sekarang di pindah di area Gunung Sawur,” ungkap Lailatul, Sabtu (11/12/2021).
Menurutnya, karena sirine bahaya tidak berfungsi, apabila ada tanda bahaya, pihak rumah langsung mengirimkan kabar melalui saluran komunikasi telepon. “Ya kalau ada kabar dari bahaya Semeru dari Gunung Sawur kita beri tahu warga dengan telepon,” tuturnya.

Alat sirine di Pos Siaga IV Semeru sudah rusak dan tidak berfungsi sejak tahun 2014 lalu. “Sekarang sudah di pindah semua ke Pos Gunung Sawur. Sudah tidak berfungsi sejak tahun 2014,” tuturnya.
Kompensasi menjaga sirine di Pos Siaga IV Semeru tersebut, pihaknya memperoleh uang sewa Rp 500 ribu perbulan. “Mesti alat peringatan dini sudah tidak berfungsi tetap dibayar, setiap empat bulan sekali kita dibayar,” pungkasnya. (yog/ted)






