Lumajang (beritajatim.com) – Awan panas bercampur debu vulkanik yang dimuntahkan oleh Gunung Semeru Sabtu (4/12/2021) kemarin membuat warga panik dan pasrah menyerahkan hidupnya kepada sang Pencipta.
Hal itu yang dirasakan oleh Haji Amin (50) warga Dusun Curah Kobokan Desa Supiturang Kecamatan Pronojiwo Kabupaten Lumajang, salah satu korban selamat dari erupsi gunung tertinggi di Pulau Jawa itu.
Haji Amin mengatakan, sore itu ia beraama istri dan Rita seorang anaknya yang sedang hamil sembilan bulan tengah berada di dalam rumahnya sedang asyik ngobrol, tiba-tiba ia mengdengan hembusan angin yang sangag kencang dan hawa di sekitar terasa sangat panas. “Saya sampai kesulitan bernapas,” kata Haji Amin.
Ia dan keluarganya tidak mengetahui bahwa angin tersebut merupakan hempasan dari awan panas yang dimuntahkan Gunung Semeru. Maka dari itu ia menutup pintu rumah menggunakan almari dengan harapan angin panas tersebut tidak masuk ke dalam rumahnya.
Namun tak disangka, rumahnya tiba-tiba ambruk. Ia bersama istri dan anaknya tak berpikir panjang untuk langsung keluar rumah. “Braak, kaca-kaca langung pecah,” ujarnya.
Ketika sudah berada di luar rumah, ia terkejut karena melihat abu vulkanik Gunung Semeru sudah memenuhi halaman dan jalan di depan rumahnya. Hanya saja, hembusan angin di luar rumah sudah tidak panas lagi.
Mendapati hal itu, Amin masih kebingungan mau berbuat apa, sebab kondisi saat itu benar-benar panik, semua orang berlarian untuk menyelamatkan diri. “Kemudian Basarnas datang untuk mengevakuasi warga,” tuturnya.
Saat proses evakuasi itulah, ia melihat sesosok tubuh yang tergeletak di badan jalan dekat rumahnya, itu adalah Poniem (55) warga setempat yang tak lain adalah kakak kandung dari Amin.
“Ternyata mbak yu (kakak perempuan) saya meninggal,” katanya, sambil menunjuk jasad kakak perempuannya yang berada di mobil ambulans RSUD Hartoyo.
Meninggalnya Poniem juga disampaikan oleh Wakil Bupati Lumajang Indah Masdar, saat konferensi pers melalui zoom meeting.
Saat ini, Haji Amin hanya bisa menunggu di rumah sakit bersama istri dan anaknya yang tengah hamil tua dan juga sambil mengurusi jasad kakak perempuannya itu.
Hal senada juga disampaikan Dewi Novitasari (17), remaja yang juga warga dusun Curah Kobokan menceritakan perjuangannya saat awan panas guguran mengguyur lingkungannya itu.
Saat itu ia tengah tidur siang. Tapi saat menjelang sore hari, hawa di dalam rumahnya mendadak panas. “Saya langsung bangun,” katanya saat ditemui di RSUD Hartoyo Lumajang.
Ketika bangun itulah, ia terkejut saat melihat neneknya, Sinten (60), ketakutan dan panik setelah mendengar kabar Gunung Semeru memuntahkan lahar panas. Ia panik dan keluar dari rumah sudah tidak bisa melihat cahaya karena kondisi tiba-tiba gelap karena cahaya matahari sore tertutupi gumpalan awan panas Gunung Semeru.
Tanpa berpikir panjang, ia bersama neneknya, begitu juga dengan tetangga berlari ke arah selatan untuk menyelamatkan diri. Guguran awan panas dan material batu vulkanik Gunung Semeru, kerap dirasakan Dewi. “Saya tidak inget apa-apa sudah, pokok lari,” katanya.
Beruntung, ia dan sang nenek berhasil selamat dan berlindung di sebuah masjid terdekat. Karena masih khawatir, ia dan neneknya kemudian keluar dari masjid untuk kembali berlari menuju Dusun Gunung Sawur.
Sesampainya di Dusun Gunung Sawur itu, akhirnya ia bisa bernapas lega, setelah melihat ada petugas yang mengevakuasi warga menggunakan kendaraan pikap menuju Desa Sumbermujur.

Namun ia justru mendapat kabar buruk, bahwa ayahnya yaitu Samsul Arifin, dikabarkan mengalami luka bakar serius akibat terkena awan panas guguran Gunung Semeru dan sedang menjalani perawatan di RSUD Hartoyo.
Dari informasi yang berhasil dihimpun menyebulkan, Samsul Arifin merupakan pekerja penjaga portal tambang, ia terkena guguran awan panas di tempat ia bekerja, Sebelum dirujuk ke RSUD Hartoyo, Samsul Arifin sempat mendapat pertolongan pertama di Puskesmas Penanggal.
Para korban selamat hanya bisa berharap agar erupsi Gunung Semeru segera berakhir, dan mereka bisa kembali hidup tenang di kampung halamanya masing-masing. (tr/ted)






