Ponorogo (beritajatim.com) – Dulu Kabupaten Ponorogo pernah menjadi penghasil cengkih yang cukup besar. Tanaman itu pun menjadi andalan bagi petani yang berada di kawasan pegunungan. Namun, semua itu hanya tinggal cerita. Petani belakangan sudah meninggalkan budidaya tanaman cengkih. Sebab sudah beberapa tahun terakhir tanaman cengkehnya sudah tidak lagi berbunga.
“Sudah 7 tahun tanaman cengkih saya sudah tidak berbunga,” kata salah satu petani cengkeh di Desa Wotan Kecamatan Pulung Ega Satria, Jumat (12/11/2021).
[berita-terkait number=”5″ tag=”petani”]
Ega menceritakan sebanyak 15 tanaman cengkih miliknya kini dibiarkan begitu saja. Padahal sebelumnya dirinya selalu berusaha memberikan pupuk. Hal itu dilakukan dengan harapan pohon tersebut bisa tumbuh biji cengkihnya. Namun ternyata usaha itu tidak membuahkan hasil. Jangankan tumbuh biji, muncul bunganya saja tidak.
“Ya akhirnya dibiarkan begitu saja tanpa perawatan. Kalau pohonnya produktif ya alhamdulillah, kalau tidak ya dibiarkan saja,” katanya.
Penyebab tidak produktifnya tanaman cengkih ini, dikarenakan serangan dari bakteri pembuluh kayu cengkih (BPKC) yang menyerang beberapa tahun belakangan ini. Menurut Kasi Produksi dan Perkebunan Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dipertahankan) Ponorogo, Tunggul Swastika menyebut jika BPKC hingga saat ini belum ditemukan obat untuk mengatasinya.
“Ekploitasi daun juga menyebabkan penyebaran bakteri perusak ini menjadi semakin cepat,” katanya.
Tunggul menjelaskan yang dimaksud dengan eksploitasi daun ialah pengambilan daun cengkih yang secara berlebihan. Pengambilan daun ini biasanya untuk dijual ke penyuling. Kegiatan tersebut juga turut mempercepat penyebaran BPKC di pohon cengkeh.
“Sementara daun cengkih ini bisa dijadikan pupuk alami untuk pertumbuhan cengkih itu sendiri,” pungkasnya. (end/kun)






