Surabaya (beritajatim.com) – Beauty privilege merupakan anggapan atau stigma yang diberikan pada seseorang dengan keistimewaan berupa ketampanan atau kecantikan yang dimiliki seseorang. Banyak anggapan yang menyatakan jika kaum good looking selalu punya hidup lebih mudah. Padahal dalam kenyataan tidaklah demikian adanya, sebab kaum good looking juga tidak jarang mendapat stigma kurang baik.
Memang kaum good looking banyak menerima kemudahan karena penampilan, tapi rupanya ada juga kerugian dari anggapan beauty privilege yang seringkali diterima. Salah satunya, mereka dianggap cuma penampilan fisik yang menarik dan tidak dianggap mampu.
Padahal harusnya kemampuan seseorang dinilai dari kemampuan saja bukan dari good looking. Seringkali kaum good looking mendapat beban ekspektasi yang besar, karena dianggap lebih mampu dan bisa segalanya. Kaum good looking akan dianggap seseorang yang serba mudah karena punya keistimewaan wajah. Padahal sebenarnya tidak selalu begitu.
Mereka yang memiliki bentuk fisik yang menarik tetapi akibat tampilan fisiknya juga, semua pencapaian mereka dianggap remeh. Mereka sering dianggap mengambil keuntungan dari tampangnya saja, semua kemampuannya dianggap remeh begitu. Seseorang yang melakukan beauty privilege biasanya berasal dari teman sekitar yang memiliki sikap suka iri maupun tidak senang akan kesenangan orang lain.
Anggapan ini yang menjadikan beauty privilege jadi lebih berfokus pada penampilan saja bukan kemampuan. Seseorang yang melakukan beauty privilege akan lebih sering mengkritik penampilan fisik mereka sendiri.
Selain itu, mereka juga bisa menganggap tidak punya kelebihan lain selain memiliki penampilan yang menarik. Ini bisa membuat kaum good looking yang mendapat stigma akan tampil kurang percaya diri pada kemampuan yang dimiliki.
Anggapan soal beauty privilege sebenarnya perkara yang salah. Sebab seseorang mesti mendapat penilaian berdasarkan soft skill atau hard skill yang dimiliki bukan dari gaya berpenampilan atau wajah tampan.
Sebenarnya baik kaum good looking maupun yang biasa saja punya hak yang sama. Baik dari segi karir, pekerjaan, kesempatan mencoba, kegagalan, maupun pendidikan. Dalam hal ini yang perlu menjadi acuan balik adalah kodrat manusia yang memang punya kekurangan maupun ada kelebihan. [dan/esd]






