Malang (beritajatim.com) – Video mengayuh sepeda sambil memegang piala Lomba Karate yang dipegang Aditya Saiful Anam (12) alias Ipul, dan ibunya, Sulastri, mendadak viral.
Anak dan ibu yang tinggal di Jalan Sentono RT04 RW01, Desa Jenggolo, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang itu, rela menempuh venue pertandingan di Singosari dengan jarak 30 kilometer dengan bersepeda. Usaha keras itu pun membuahkan hasil. Ipul yang kini duduk dibangku kelas VI di SDN 2 Jenggolo, Kepanjen ini, keluar sebagai pemenang lomba Karate. “Iya saya memang berangkat subuh habis salat sama ibu dari Kepanjen ke Kota,” kata Ipul ditemui di kediamannya, Selasa (14/9/2021).
Ipul bercerita, meskipun jauh dia senang mengayuh sepeda pancal hingga ke tempat lomba. “Ya saya ke sana ke sini latihan ya pakai sepeda pancal. Khusus untuk lomba kemarin saya sama ibu, saya ajak ibu karena jika ada ibu saya lebih semangat,” tutur Ipul.
Diantar Sulastri (37) ibunya, Ipul tampil cukup apik selama lomba digelar pada Minggu lalu. Ipul, sapaan akrabnya mampu juara harapan 1 di kejuaraan tersebut. “Iya baru pertama ini juara. Dulu waktu kelas dua kalau gak salah pernah juga ikut lomba di Bali. Tapi tidak juara. Waktu itu berangkat sendiri,” ucap pul.
Ipul saat ini berada di tingkatan sabuk cokelat pada olahraga bela diri karate yang dijalaninya sejak enam tahun lalu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”viral”]
Ipul menjelaskan, awal dia tertarik dengan karate karena ingin menjadi Polisi. Dia bercerita saat masih berumur lima tahun dia bertanya ke Polisi. “Saya tanya ke pak Polisi saat itu, ‘pak ya apa caranya jadi polisi?’ pak Polisinya jawab harus pintar bela diri. Sejak saat itu saya bilang ke ibu ingin karate dan didukung,” ujarnya.
Sementara itu, Sulastri mengatakan sejak dulu dia mendukung apa yang diinginkan anaknya. Sebisa mungkin Sulastri akan membantu keinginan anaknya tercapai.
“Tapi saya bilang ke Ipul saya hanya bisa segini. Kayak kemarin ibu hanya bisa ngantar pakai sepeda pancal begitu. Tapi dia senang dan penurut anaknya dan gak neko-neko,” beber Sulastri.
Meskipun hanya menggunakan sepeda pancal berangkat ke kejuaraan tersebut, Ipul dan Sulastri cukup senang. “Ya dia katanya pingin lihat stasiun kota baru yang barusan dibangun itu. Terus ke depannya Balkot dia sudah senang lihat gedung-gedung itu. Saya bersyukur punya Ipul,” ucap Sulastri.
Dimata Sulastri yang hanya bekerja sebagai pemulung ini, Ipul memiliki sifat kekeuh untuk mencapai cita-citanya. Hal ini dikarenakan Ipul ingin membanggakan ayahnya yang telah meninggal dunia.
“Ayahnya meninggal saat saya melahirkan Ipul ini. Ipul ini sejak kecil memang ingin membanggakan saya sama ayahnya yang tinggal di sana,” terang Sulastri sambil mendongak ke atas langit.
Keseharian Ipul, menurut Sulastri, tidak hanya sekolah dan latihan karate, Ipul juga membantu dirinya mencari rongsokan-rongsokan untuk dijual kembali.
“Ya saya kan kerjanya mengumpulkan rongsokan. Biasanya Ipul itu ikut kayak kemarin pas kejuaraan pulangnya ya saya nyari di gang-gang Kota sampai Kabupaten sama Ipul. Dia pun gak masalah. Dia berbakti sama orang tuanya,” paparnya.
Sulastri dan anaknya saat ini menumpang dirumah orangtuanya. Rumah Sulastri sendiri rusak terkena gempa bumi pada April 2021 lalu dan tidak layak huni karena sebagian atap rumah ambruk. “Sampai sekarang saya tidak mendapat bantuan sampai saat ini. Jadi ya saya biarkan begini tak buat sebagai gudang. Dan saya tinggal sama mbahnya Ipul di sebelah,” ujar Sulastri.
Meski rumahnya hancur akibat gempa dan tidak mendapat bantuan, Sulastri masih bersyukur. Saat gempa bumi terjadi, tidak ada korban jiwa. “Saat itu gak ada yang di rumah. Tiba-tiba pas lihat rumah saya ketiban pohon pisang,” Sulastri mengakhiri. (yog/kun)







