Surabaya (beritajatim.com) – September telah memasuki pekan pertama. Beberapa dari kita tentu tidak asing dengan nama Paulo Freire. Melalui buku ‘Pendidikan Kaum Tertindas’ terbitan LP3ES karya Freire banyak dipelajari oleh kaum terdidik Indonesia.
Freire akrab dengan bulan September sebab, pada bulan ini ia lahir ke dunia. Tepatnya pada 19 September 1922. Seabad telah berlalu, Freire tenang di alam sana. Namun, karya dan pemikirannya layak dikenang kembali. Mengenang seratus tahun Freire, berikut sajian biografi pria kelahiran Brasil ini.
Freire lahir ketika terjadi krisis ekonomi Amerika Serikat tahun 1922 yang menjalar sampai ke negaranya, Brasil. Orang tua Freire yang masuk kelas menengah kala itu mengalami kejatuhan keuangan, hingga berdampak pada jenjang sekolah Freire.
Tahun 1931 keluarga Freire terpaksa pindah ke Jabatao. Ayah Freire meninggal dunia di tempat itu. Pengalaman mendalam akan kelaparan sewaktu masih bocah menyebabkan Freire pada umur sebelas tahun punya tekad kuad untuk mengabdikan hidupnya pada perjuangan melawan kelaparan agar anak-anak lain jangan sampai mengalami kesengsaraan yang tengah dialaminya itu.
Tertinggal dua tahun dibanding teman-teman sekelasnya, pada umur limabelas tahun ia lulus dengan nilai pas-pasan untuk dapat masuk sekolah lanjutan. Namun setelah situasi keluarganya agak membaik, Paulo Freire mampu menyelesaikan pendidikan sekolah lanjutan lalu masuk ke Universitas Recife dengan mengambil Fakultas Hukum. Saat itu, ia juga belajar filsafat dan psikologi bahasa sembari menjadi guru paruh waktu bahasa Portugis di sebuah sekolah lanjutan.
Saat lulus dari sarjana hukum, Freire bekerja sebagai pejabat dalam bidang kesejahteraan. Bahkan menjadi Direktur Bagian Pendidikan dan Kebudayaan SESI (pelayanan sosial) di negara Bagian Pernambuco. Pengalaman selama tahun 1946-1954 membawa Freire pada kontak langsung dengan kaum miskin di kota-kota. Pengalaman itu menjadi titik awal dari penelitian Freire. Tahun 1961, Freire mengembangkan metode dialogis dalam pendidikan.
Itu kemudian berlanjut di tahun 1963 hingga Maret 1964 Freire bekerja dengan tim untuk seluruh Brasil. Ia bersama tim kemudian berhasil menarik kaum tuna aksara untuk belajar membaca dan menulis dalam waktu cukup singkat yaitu 45 hari. Bahkan, kaum tuna aksara juga diajari untuk masuk mereka ke alam pemahaman pada kesadaran politik, yang dapat digunakan untuk kontek kehidupan nyata.
Di Indonesia sendiri, Paulo Freire banyak menjadi teladan sebagai sosok yang secara teoritis sekaligus praktis telah menjalankan agenda pendidikan. Ia tak hanya selesai pada penelitian, tapi berperan langsung dalam pendidikan masyarakat.
Tak ayal, jika Freire layak mendapat sematan sebagai pejuang pendidikan yang telah membebaskan masyarakat dari kebodohan dan kegelapan. Konsep pendidikannya yang diangkat Freire murni memanusiakan manusia dan memberadabkan manusia.
Melalui pemikiran Freire, pendidikan mengembalikan jati diri manusia yang sesungguhnya sebagai manusia yang merdeka, berhak untuk hidup, tidak ditindas, dan tidak diperlakukan secara sewenang-wenang. Pendidikan merupakan malaikat penjaga kebaikan kehidupan manusia dari kejahatan.
Pendidikan akan selalu berkaitan dengan manusia, sehingga sulit menafikan pemahaman akan kemanusiaan itu sendiri baik dalam bangunan filosofis, teoritik, sampai pada praktis pelaksanaannya.
Pendidikan diartikan sebagai hal yang dinamis, kontekstual, tanpa kelas dan tidak diskriminatif itu pandangan Paulo Freire. Baginya pendidikan harus mampu membebaskan. Membebaskan manusia kaum-kaum tertindas dan kaum-kaum penindas dari sistem pendidikan yang menindas.
Gagasan pendidikan Freire dalam memperjuangkan anak-anak miskin agar tetap bersekolah dan belajar merupakan hal yang sangat hakiki. Ini dilakukan dalam rangka mengentaskan kebodohan, ketertindasan keterbelakangan dan sebagainya.Ini terbaca dari pandangannya tentang pendidikan.
Freire memang layak kita ingat kembali dalam rangka seratus tahun. Pendidikan kritis, pendidikan yang tidak pandang bulu. Pendidikan yang berhak dirasakan semua kaum dan golongan. Konsep pendidikan merdeka, akan sangat elegan jika sedikit mencomot landasan pemikiran Freire. Pertanyaan akhirnya, apakah pendidikan Indonesia telah merdeka? Atau justru sebaliknya? (dan/tur)






