Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah tensi panas antara Israel-Palestina, muncul sebuah cerita menarik yang datang dari dunia sepak bola. Selayaknya klub-klub sepak bola di Eropa yang lekat dengan pandangan politik tertentu pendukung fanatiknya, sepakbola Israel juga tidak lepas dari keterkaitan sikap ultranasionalisme dan kebanggaan terhadap bangsa Yahudi.
Banyak ulasan tentang Beitar Jerussalem. Sebuah klub sepakbola asal kota Jerusalem, yang terkenal memiliki tingkat kebencian tertinggi terhadap warga Arab.
Berbagai pemberitaan mengenai konflik antara suporter garis keras mereka, La Fimilia terhadap pemain klub beragama Muslim dianggap melampaui batasan sportifitas olahraga. Sikap Ultranasionalis yang selalu ditunjukkan oleh La Familia ketika mendukung Beitar di kandang semakin menambah rentetan panjang kebencian orang-orang Yahudi terhadap warga Muslim dan keturunan Arab.
Di Israel, ternyata terdapa sebuah klub sepakbola yang memiliki sifat berkebalikan dengan Beitar Jerussalem. Jika Beitar menjadi simbol kebencian terhadap warga Muslim dan keturunan Arab (termasuk kebijakan untuk tidak merekrut pemain Muslim atau keturunan Arab), maka klub ini sebaliknya berisikan mayoritas pemain Muslim dan keturunan Arab.
Adalah Bnei Sakhnin FC. Sebuah klub yang bermarkas di Kota Sakhinin. Kota yang berjarak sekitar 126 Km dari ibukota Israel, Tel Aviv. Dibentuk pada tahun 1991 atas hasil merger antara Maccabi Sakhnin dan Hapoel Sakhnin, klub ini menjadi salah satu representasi sepakbola bagi keturunan Arab-Israel. Bnei Sakhnin menjadi klub Arab-Israel pertama yang mampu menjuarai Piala Israel pada 2003/04.
Menjadi juara Piala Israel membuat klub ini mendapat jatah tampil di UEFA Cup Musim 2004/05. Menariknya, kala itu pemilik Bnei Sakhnin memiliki sebuah misi untuk menjadikan klub ini memiliki beragam kultur atas latar belakang yang dimiliki. Kejadian paling tidak terlupakan ketika Bnei Sakhnin bertemu dengan Beitar Jerussalem dalam Liga Premier Israel.
Terjadi pertemuan antara dua kutub yang berbeda. Beitar Jerussalem dengan anti-Muslim dan Arabnya, sedangkan Bnei Sakhnin yang mayoritas didominasi oleh pemain dan pendukung berketurunan Arab-Israel.
[berita-terkait number=”5″ tag=”sepak-bola”]
Ketidaksukaan suporter Beitar memuncak ketika mereka menuliskan pandangan ketika Bnei Sakhnin mampu menjuarai Piala Israel. Pada media cetak ternama Israel, Yediot Ahronoth. Disebutkan jika sepakbola Israel telah mati seiring dengan gelar yang diraih klub Arab-Israel.
Bnei Sakhnin sendiri memiliki kelompok pendukung garis keras bernama Ultras Sakhnin 2003. Mayoritas pendukung Sakhnin datang dari negara tetangganya, Palestina karena dianggap mampu merepresentasi warga keturunan Arab-Israel.
Mereka memiliki hubungan erat dengan ultras klub Wydad Casablanca asal Maroko, Ultras Winners 2005. Kesuksesan Bnei Sakhnin menjuarai Piala Israel juga diangkat kedalam film documenter berjudul ‘After The Cup: Sons of Sakhnin United’ oleh produser asal Amerika Serikat, Christoper Browne pada tahun 2010. [adn/bjo]






