Surabaya (beritajatim.com) – Pondok Pesantren merupakan satu dari sedikit lembaga pendidikan kuno yang masih bisa bertahan hingga hari ini. Kuno dalam hal ini bukan berarti Pendidikan di pesantren tertinggal atau tidak kontekstual.
Tetapi kuno yang dimaksud bahwa pesantren merupakan lembaga Pendidikan yang memiliki sejarah Panjang dan keterikatan kuat dengan kehidupan masyarakat.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pondok-pesantren, pesantren, ponpes”]
Ada banyak sekali pesantren di Indonesia. Di Jawa Timur saja ada 4.718 pesantren yang tercatat di data Kementrian Agama. Maka bukan hal mengejutkan jika orang tua yang ingin mencarikan pondok untuk anaknya kemudian mengalami kebingungan. Untuk itu beberapa tips di bawah ini bisa dipertimbangkan untuk memilih pesantren yang tepat
Tujuan Mondok
Sebelum mulai mencari-cari pesantren yang ingin dimasuki, ada baiknya terlebih dahulu memperjelas tujuan atau keinginan dari santri yang akan masuk. Apakah santri tersebut ingin menjadi hafidz, atau ingin belajar kitab klasik, atau ingin Khidmah.
Jika santri atau anak anda ingin menjadi hafidz misalnya, maka nanti pencarian bisa dipersempit ke pondok-pondok yang menyediakan pembelajaran hafidz. Termasuk mencari tahu ketersambungan sanad dari pengasuh pondok yang akan di tuju.
Begitu pula jika ingin memasukkan anak ke pesantren yang mempelajari kitab klasik, sejarah dan sanad ilmu dari pesantren tersebut, bisa menjadi pertimbangan utama.
Model Pesantren yang Diinginkan
Secara umum, model Pendidikan di pondok pesantren terbagi menjadi dua; salaf dan modern. Pondok salah merupakan pondok yang menggunakan metode belajar tradisional. Pendidikan berbasis kitab-kitab kuno dengan kurikulum yang mereka kembangkan sendiri, tidak meggunakan kurikulum dari pemerintah.
Beberapa pondok salaf melarang santrinya sekolah umum. Santri diminta untuk fokus belajar di pesantren mempelajari al-Qur’an dan kitab-kitab pesantren. Sebagian pesantren salaf lain, memberikan kelonggaran pada santri. Jika santri ingin menambah ilmu pengetahuan umum, mereka biasanya disarankan belajar di sekolah yang lokasinya dekat dengan pesantren tersebut.
Sedangkan pondok modern, menggabungkan antara pendidikan formal dengan pendidikan pesantren. Sehingga, selain menyediakan madrasah tempat belajar al-Qur’an dan kitab klasik, pesantren juga menyediakan fasilitas sekolah formal. Bahkan banyak pesantren yang sudah memiliki sekolah dari mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi yang terintegrasi. Sehingga santri tidak perlu mencari-cari lagi sekolah yang ada di luar pesantren.
Menelusuri Rekam Jejak Pesantren
Setiap orang yang punya uang bisa membangun pesantren, tetapi tidak semua pesantren akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas. Memilih pesantren bukan semata-mata melihat dari kemegahan Gedung atau kelengkapan fasilitas.
Sebab, yang menjadi faktor utama dalam keberhasilan belajar adalah sistem belajar dan bagaimana pengasuh pesantren mendidik santrinya. Dan kedua hal ini bisa dilihat dari rekam jejak pesantren tersebut. Misal dengan melihat para alumninya, apakah para alumninya tetap mengamalkan nilai-nilai agama dan kesantrian, atau tidak.
Atau jika pesantrennya masih baru, bisa dilihat dari riwayat Pendidikan pendiri pondok yang bersangkutan. Fasilitas yang lengkap dan gedung megah bisa saja membuat santri menjadi manja dan kurang mandiri. Sedangkan pesantren yang sederhana bisa saja menghasilkan alumni yang mandiri dan lebih bermanfaat bagi masyarakat. [tur/bjo]






