Ringkasan Berita:
- Para guru dan kepala sekolah Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak ikut Workshop dan FGD untuk menghidupkan Program Literasi Terpadu.
- Workshop dan FGD Hardiknas fokus pada praktik menulis guru sebagai bagian dari budaya literasi di pesantren.
- Program Literasi Terpadu di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak bertujuan meningkatkan kompetensi guru dan tradisi menulis.
Jombang (beritajatim.com) – Masih dalam semarak Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap 2 Mei, para guru dan kepala sekolah dari MI, MTs, dan MA Pondok Pesantren (Ponpes) Khoiriyah Hasyim Seblak Kecamatan Diwek merayakannya dengan cara unik. Pada Rabu, 6 Mei 2026.
Mereka mengikuti Workshop dan Focus Group Discussion (FGD) tentang Program Literasi Terpadu di Aula Lantai 2 Gedung MA Salafiyah Syafi’iyah Seblak.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Bidang Pendidikan dan Madrasah Yayasan Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak. Tidak hanya berdiskusi, para guru dan kepala sekolah langsung melakukan praktik berliterasi dengan menulis, dipandu oleh Donny Darmawan, pengajar sekaligus penulis dan jurnalis kebudayaan di Jombang.
Materi kepenulisan dirancang sederhana dan menyenangkan. Peserta diwajibkan membuat tiga babak tulisan untuk antologi esai pendidikan, mulai dari perjalanan karier, pengalaman mengajar, hingga opini tentang pendidikan terkini.
“Memang, materi penulisan ini harus dibuat sesederhana mungkin. Karena semua orang, terlebih guru, pasti bisa menulis. Tinggal dibutuhkan pemantik dan penjabaran konsep penulisan yang ringan dan sederhana, yang mana nantinya akan menumbuhkan paradigma berpikir bahwa menulis itu bukan sesuatu yang sulit,” ujar Donny Darmawan.
Ia menambahkan, “Tapi menulis adalah sebuah keharusan, kebutuhan, dan tradisi akademik yang menunjang portofolio akademik bagi guru. Khususnya di Pondok Pesantren. Karena kita juga mengacu pada sejarah. Bahwasannya, Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak merupakan salah satu pondok pesantren yang berperan sebagai peletak tiang budaya berliterasi dan tradisi intelektual di Indonesia.”
Deden Fardan Hamdani, Direktur Bidang Pendidikan dan Madrasah, menjelaskan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari dua pertemuan Program Literasi Terpadu sebelumnya.
“Program Literasi Terpadu ini akan menjadi program utama di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak yang sudah kami rancang untuk tahun ajaran 2026-2027 ini. Tujuannya jelas. Untuk menghidupkan budaya dan tradisi literasi bagi seluruh unit pendidikan dan Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap semester guru dan santri diwajibkan menghasilkan satu karya tulis sebagai bagian dari upaya menghidupkan budaya literasi.
“Maka dari itu, nantinya goal dalam jangka tiap semester atau secara berkala jangka pendek, selain kegiatan dengan tema literasi yang kita galakkan, baik guru dan para santri nantinya wajib menghasilkan satu karya tulis. Di Hardiknas ini nilai dan maknanya kami refleksikan dengan mengajak para guru yang akan kami jadikan sebagai aktor utama dalam Program Literasi Terpadu ke depannya,” sambungnya.
Ketua Majelis Pengasuh Yayasan, Hj. Nur Laili Rahmah, menekankan pentingnya guru membuat refleksi pembelajaran secara tertulis secara rutin dan sistematis.
Dengan demikian, maka selain kompetensi guru yang meningkat, budaya berliterasi juga akan hidup, dan menjadi penunjang keahlian profesi guru di Pondok Pesantren Khoiriyah Hasyim Seblak ini,” tandasnya. [suf]






