Lamongan (beritajatim.com) – Tidak ada yang tahu kapan pandemi Covid-19 ini berakhir, merebaknya virus tersebut sangat memukul dan berdampak kepada siapapun, serta melumpuhkan aktifitas ekonomi kehidupan di semua lini bidang. Tak banyak yang bisa bertahan lama di tengah pergolakan dan persaingan ekonomi yang kian hari semakin keras, tak terkecuali para seniman dan pelaku musik orkes melayu dangdut.
Tak bisa dipungkiri, bahwa dangdut memang menjadi bagian hidup banyak masyarakat. Ia menjadi sarana eskapis yang paling manjur. Namun di masa pandemi seperti sekarang ini, bisnis orkes dangdut benar-benar tumbang. Orkes-orkes sepi atau bahkan tanggapan dan konser nampak langka digelar. Utamanya dari para seniman lokal.
Kini, mereka yang biasa menggantungkan hidupnya dari pertunjukan dan konser banyak yang menganggur. Pasalnya, Para warga di perkampungan yang mengawinkan anaknya kini tak lagi mengadakan pesta yang lazimnya mengundang orkes dangdut untuk menghibur para tetangga dan tetamu.

Hal tersebut diperparah dengan munculnya imbauan tidak diperbolehkannya menggelar pesta selama masa pandemi Covid-19. Para seniman yang menggantungkan hidup dari bermain musik di pesta-pesta atau kegiatan lainnya, saat ini benar-benar dibuat tak berdaya.
“Kalau nekat mengadakan orkes, bukannya digerudug pasukan joget, malah digerudug aparat keamanan dan pemerintahan setempat,” ujar Narto Widodo, pimpinan salah satu orkes dangdut di Lamongan yang bernama ‘Tarik Wiir’ kepada beritajatim.com, Senin, (5/7/2021).
Pada kesempatan tersebut, Narto Widodo yang akrab disapa Cak Narto itu mengungkapkan, bahwa Pendemi Covid-19 telah memorakporandakan periuk nasi mereka. Menurutnya, sektor hiburan khususnya orkes adalah sektor yang pertama kali dihantam krisis, dan andai saja telah pulih, merupakan sektor yang paling belakangan siuman.
“Kami sangat menghormati petugas dan pemerintah, tapi mbok ya jangan tebang pilih dan pemerintah jangan asal membubarkan, namun harus bisa mencarikan solusi tentang nasib para seniman,” papar Cak Narto.
Sebelum pandemi, lanjut Cak Narto, dalam satu bulan pihaknya bisa muter hingga beberapa tempat. Namun, pandemi saat ini nasibnya benar-benar tamat. Lebih lanjut, Cak Narto tak sendirian, teman-temannya yang satu profesi dengannya di Kabupaten Lamongan juga mengalami nasib serupa. Dalam beberapa bulan terakhir, dia dan teman-temannya benar-benar termangu dan hanya bisa mengernyitkan dahi.
“Ya mas, nasib para seniman di Lamongan ini tak kalah miris. Teman-teman saya ada yang terpaksa beralih profesi. Bahkan, beberapa biduan musik dangdut di Lamongan ini terpaksa ada yang beralih profesi jualan cilok, jualan degan, dan bahkan ada yang hanya mengisi hari-harinya dengan nge-slot (main game online). Meski sudah berjualan kadang juga kembang kempis karena banyaknya saingan,” terangnya.
Tak hanya itu, Cak Narto menambahkan, bahwa tidak semua pelaku seni dan hiburan di Lamongan bisa beralih profesi. Bahkan, karena keterbatasan yang dimiliki itu membuat mereka tak memiliki pemasukan sepeserpun. Pandemi benar-benar memangkas habis penghasilan mereka.
“Para seniman sudah berusaha untuk bertahan di masa sulit seperti ini. Andai kondisi pandemi ini terus berlanjut, tak terbayangkan bagaimana nasib para seniman di Lamongan. Siapa yang peduli dengan nasibnya? Atau lembaga mana yang akan mendampingi para pelaku seni dan hiburan?,” jelas Cak Narto.
Dalam keterangannya, Cak Narto menuturkan, bahwa hampir seluruh pekerjaan yang berhubugan dengan orkes dan dunia hiburan lainnya berhenti total sejak pandemi. Mulai dari para pekerja soundsystem, pemasang tratag (layos), persewaan dekorasi, panggung, tukang foto-video, MC, penyanyi, pemain musik hingga semua yang menggantungkan hidup lewat kelompok-kelompok dangdut orkes melayu terkena imbasnya.

“Karena kita kawatir dan gelisah, mending memilih di rumah saja daripada harus menuai kecaman dan pro kontra lantaran dianggap melanggar protokol kesehatan soal pandemi. Banyak job yang sudah kita cancel dan dibatalkan karena ijin tidak keluar sebab melonjaknya kasus di sejumlah tempat,” katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap kepada pemerintah supaya memberikan solusi kongkrit agar para seniman di Lamongan ini dapat bertahan. Setidaknya, dengan memfasilitasi dan memberdayakan para seniman yang ada di Lamongan biar dapat berkarya dan bekerja lagi.
“Dari mengetahui sekelumit cerita soal upaya seniman bertahan hidup di tengah kesulitan ekonomi saat pandemi. Kami berharap, pemerintah bisa membangun sebuah sistem untuk membantu seniman. Bantuan tersebut tidak harus seperti uang atau sembako. Yang terpenting berikan seniman jalan untuk struggle. Satu sisi diplomatis jika harus ada sumbangan pada seniman,” harapnya
Selain harapan adanya jejaring pengaman sosial untuk pelaku seni. Cak Narto berharap, pandemi ini segera berakhir sehingga konser atau pertunjukan dangdut yang sudah sekian lama tak muncul bisa kembali menggeliat.
Terakhir, Cak Narto juga meminta kepada teman-teman seniman yang lain untuk bersabar dan selalu berdoa. “Kepada teman-teman seniman yang lain untuk tetap bersabar dan mematuhi prokes yang ada, semoga keluarga senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah Swt. Begitu pun juga untuk masyarakat khususnya Lamongan, yang ingin menghadirkan kelompok musik untuk bersabar lebih dulu hingga pandemi ini mereda,” pungkasnya.[riq/kun]






