Mojokerto (beritajatim.com) – Di masa pandemi Covid-19, Muhammad Rizal Firmansyah, pemuda asal Dusun Balong Lombok RT 03 RW 09, Desa Sumolawang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto ini, justru sukses bisnis ternak kambing jenis domba. Dalam tiga bulan sekali, pemuda 23 tahun bisa panen 350 ekor dengan omzet hingga Rp100 juta.
Usaha anak tunggal pasangan Samiadi dan Suja’iya digeluti sejak tahun 2017 lalu. Lulus dari SMAN 1 Gondang, Rizal tak ingin bekerja bergantung dengan orang lain. Ia ingin membuka usaha sendiri, meski di awal usahanya ia harus mencuri-curi KTP milik orang tuanya untuk mengadakan BPKB sepeda motor.
“Iya, pernah saya gadaikan BPKB sepeda motor Honda Supra. Karena nama bapak jadi saya butuh KTP bapak, saat beliau mandi saya ambil KTP dan saya gadaikan. Saya ingat, dapat Rp5 juta, tiap bulan angsurannya Rp500 ribu,” ungkapnya saat ditemui Beritajatim.com, Jumat (2/7/2021).
Namun karena usaha yang digelutinya tak berjalan lancar, beberapa kali angsuran pun tak bisa dilunasi sehingga pihak leasing datang ke rumahnya. Ini lantaran banyak domba miliknya mati sehingga tidak ada keuntungan untuk membayar angsuran sebesar Rp500 ribu tiap bulan tersebut.
“Akhirnya ketahuan bapak kalau saya gadaikan BPKB karena pihak leasing datang ke rumah. Iya saya dimarahi, saya kan di suruh kerja di pabrik. Saya tidak mau tergantung sama orang makanya saya usaha ternak domba ini. Kenapa domba? Karena mungkin saya sering main dan banyak kenal orang,” ujarnya.
Ia bahkan pernah menjual dua sepeda motor kesayangan, Yamaha Vixion dan Honda Scoopy. Menurutnya, di awal usahanya ia memiliki lima ekor domba yang dibeli dengan harga Rp3 juta. Ada anakan dan anak juga yang hamil. Beberapa diantaranya mati, tapi yang hamil beranak. Dengan semangat dan kerja kerasnya tanpa pantang menyerah, ia terus mengembangkan usahanya.

“Setelah banyak yang mati, eh masih kena permainan harga di belantik. Saya lirik domba karena permintaan warung sate juga banyak, bapak saya tidak setuju tapi saya bilang untuk mendokan saja. Awalnya, pakan cari rumput tapi akhirnya liat di google ternyata ada pakan yang bisa menghasilkan daging banyak. Saya belajar otodidak, ada yang mati, ada yang sakit mencret,” katanya.
Sedikit demi sedikit, ia mulai belajar cara beternak domba sampai akhirnya punya kandang kecil di belakang rumah dan warung kopi untuk menambah penghasilan. Makanan yang diberikan ke domba-domba peliharaannya melihat limbah pertanian masa panen di sekitar. Domba-domba tersebut juga diberikan minuman jamu dan vitamin penambah stamina.
“Datang, di hari pertama dikasih jamu, campuran gula merah dan empon-empon untuk minuman stamina. Sore masuk kandang dikasih obat cacing sama disuntik penambahan stamina sama penghilang stres. Hari kedua suntik anti parasit dan vitamin sambil dipotong bulunya, dua sampai tiga bulan kemudian siap dipanen,” jelasnya.
Namun, lanjut Rizal, jika saat memberikan campuran makanan salah satu bahan tidak tepat atau kebanyakan maka bisa mencret dan daging kurang bagus. Hingga saat ini, pelanggan terbanyak datang dari luar kota, mulai dari Sidoarjo, Surabaya dan Solo. Dalam sebulan bisa kirim 90 ekor sampai 200 ekor tergantung bibit awal untuk kebutuhan warung sate.
“Permintaan paling banyak dari Solo dan Sidoarjo warung sate. Sehari warung sate bisa 10 ekor sampai 20 ekor untuk hajatan, aqiqah dan warung sate. Kalau Idul Adha, enam bulan sebelumnya sudah ada permintaan. Teman-teman Solo, Jogja banyak, 1 orang bisa pesan sampai 80 ekor, kebutuhan yayasan sampai 200 ekor,” ujarnya.
Sementara untuk kebutuhan Idul Adha warga sekitar sebanyak 95 ekor. Harga domba milik Rizal mulai Rp1,5 juta sampai Rp4 juta. Sebelum pandemi, Rizal mengaku, bulu domba dibeli tungkulak dengan harga Rp3 ribu sampai Rp5 ribu per kg. Namun saat ini, bulu domba tersebut tidak laku sehingga dibakar.
“Dicukur bulunya biar cepat gemuk. Domba-domba ini, tidak lama di sini setelah datang dilakukan perawatan sekitar tiga bulan sudah siap panen. Ada tiga kandang, ukuran 9 meter x 20 meter, 4,5 meter x 20 meter dan 24 meter x 50 meter. Hanya untuk pemisahan, domba yang baru datang, sakit dan sudah lama. Dalam satu bulan kemari, omzet penjualan Rp50 juta sampai Rp100 juta,” tegasnya. [tin/kun]






