Mungkin ini waktunya bagi Bonek dan semua yang mencintai Persebaya Surabaya untuk tidak menuntut dua hal sekaligus: kemenangan dan permainan trengginas yang enak ditonton. Anda harus memilih salah satu, karena saat Persebaya mengupayakan kedua hal itu, maka hasilnya selalu negatif: kalah atau hanya bermain imbang. Bahkan itu terjadi di kandang.
Kemenangan 1-0 atas Persipura di Stadion Gelora Bung Tomo, Jumat (2/8/2019), di hadapan 10.027 penonton, menunjukkan bahwa tak ada yang sempurna di dunia. Dengan pahit, kita harus mengakui kebenaran pragmatisme Jose Mourinho: jika tak bisa main bagus, setidaknya menanglah, karena itu yang terpenting dan akan diingat orang. Orang hanya akan mengingat posisi akhir di klasemen liga. Keindahan apapun dalam sepak bola tak ada artinya, jika pada akhirnya Persebaya terkunci di posisi buncit.
Bonek Green Nord di tribun utara Gelora Bung Tomo agaknya memahami itu. Mereka menyambut peluit awal pertandingan wasit Fariq Hitaba dengan suka cita. Tarian Poznan. Lagu-lagu dan ‘chant’ yang bersemangat dan bising. Namun sepuluh menit kemudian, mereka memilih jalan sunyi. Satu demi satu kemudian pergi meninggalkan tribun dan mengosongkannya: membiarkan spanduk-spanduk dengan deretan kalimat bernada protes terpampang terang di bawah kilau lampu stadion.
‘Butuh menang, gak butuh alasan’
‘Sayang gak pen9en jua2a?’
‘Until when you fight for your history’
‘Sido juara?’
‘If supporter are customer, there are no words except to be a winner’.
Bonek pada titik kesadaran, karena dianggap hanya sebagai ‘customer’, maka mereka menuntut selayaknya seorang konsumen sebuah produk: kesempurnaan mutu. Dalam konteks Persebaya, ini berarti kemenangan. Ini konsekuensi dari sebutan ‘customer’ untuk mereka yang sudah datang ke stadion, membeli tiket, dan berdiri serta bernyanyi selama 90 menit lebih.
Dan Persebaya malam itu benar-benar menunjukkan apa yang disebut sebagai ‘ugly win’. Jelek tapi menang. Tak ada yang sanggup menyebut dengan permainan seperti itu, Persebaya layak memenangkan pertandingan, atau bahkan menjadi juara Liga 1.
Djajang Nurjaman melakukan perubahan formasi lini belakang. M. Syaifuddin digeser dari bek tengah menjadi bek kanan. Sementara bek tengah diisi Hansamu Yama Pranata dan Otavio Dutra. Bek kiri tetap diisi Ruben Sanadi.
Rachmat Irianto yang biasanya berdiri bersama M. Hidayat sebagai gelandang bertahan, kini berjuang sendirian. Misbakus Solikin didorong agak ke depan bersama Irfan Jaya, Damian Lizio, dan Osvaldo Haay untuk mendukung Amido Balde yang menjadi ujung tombak tunggal. Teoritis Persebaya bermain dengan formasi 4-1-4-1. Tak ada yang mengharapkan Misbakus bakal solid sebagai gelandang bertahan sesolid Hidayat. Namun Djajang agaknya membutuhkan keahliannya untuk mengirimkan umpan-umpan daerah untuk Balde maupun melakukan tendangan jarak jauh. Sementara Lizio akan bergerak mobil seperti biasanya, melakukan gocekan, dan mengacak-acak pertahanan Persipura.
Itu kira-kira secara teori.
Namun di lapangan, teori menabrak realitas. Persebaya bermain lambat. Lima menit awal tak tampak bagaimana sebenarnya Persebaya bakal memenangkan pertandingan. Tembakan tak tepat sasaran pertama meluncur dari Misbakus pada menit 7. Misbakus dua kali mendapat peluang melakukan tembakan jarak jauh. Menit 50, peluang itu datang dan lagi-lagi bola melambung jauh di atas gawang Persipura.
Persebaya tahu betapa berbahayanya barisan depan Persipura seperti Boaz Salossa dan Todd Ferre. Ferre memiliki kecepatan yang bisa mengancam sisi kanan Persebaya. Itulah mungkin kenapa Djajang memasang Syaifuddin, ketimbang Abu Rizal Maulana yang sering kewalahan menghadapi serbuan pemain-pemain cepat di sayap kanan. Itulah juga yang mungkin kemudian membuat para pemain Persebaya lebih hati-hati dan menjaga rapat pertahanan dengan dua blok yang membuat Persipura kesulitan menembus dari tengah.
Rachmat Irianto bermain lugas dan apik menghadapi barisan tengah Persipura. Dia dengan dingin menjinakkan Todd Ferre, sementara Syaifuddin membekukan ancaman Oh Inkyun, pemain asal Korea Selatan. Syaifuddin juga menunjukkan kualitasnya sebagai pemberi operan bola atas yang berkualitas. Menit 7, bola lambung darinya ditepis kiper Persipura Dede Sulaiman yang memberikan kesempatan kepada Misbakus melakukan tembakan keras ke gawang. Agresivitas Syaifuddin menggantikan minimnya agresivitas Ruben di sisi kiri karena dihadang Tinus Pae.
Pertahanan Persipura sebenarnya tak terlampau solid. Dede Sulaiman sempat melakukan blunder berbahaya pada menit 24, saat maju keluar kotak penalti untuk menyongsong umpan daerah Dutra kepada Balde. Bola yang ditanduknya jatuh di kaki Irfan Jaya yang gagal mengeksekusi dengan tendangan lob ke arah gawang yang melompong.
Namun Irfan membayar kegagalannya pada menit 32. Menerima bola dari Dutra, Syaifuddin merangsek maju di sisi sayap dan melambungkan bola ke kotak penalti Persipura. Irfan Jaya yang tak terkawal menanduk bola masuk ke gawang Dede Sulaiman.
Irfan malam itu layak dipuji, selain Rachmat Irianto dan Syaifuddin yang tampil stabil sebagai tembok pertahanan Persebaya. Pemain asal Sulawesi Selatan ini mau bekerja keras, tak hanya dalam penyerangan, tapi juga rela mundur ke daerah pertahanan untuk menghalau pemain lawan.
Persebaya seharusnya unggul dua gol. Menit 57, Persebaya melakukan serangan ‘umpan satu sentuhan’. Lizio bermain tiktak dengan Rachmat Irianto yang berlari cepat menuju kotak penalti. Umpan datar diberikan kepada Irfan Jaya yang sudah berdiri bebas. Irfan meneruskan bola kepada Balde yang dengan gampang mendorong masuk ke gawang yang kosong. Namun hakim garis mengangkat bendera tanda Irfan dalam posisi offside. Tayangan ulang televisi menunjukkan: Irfan sama sekali tidak offside.
Serangan Persipura semakin berbahaya, setelah Titus Bonai masuk menggantikan Ronaldo Wanma, Gunansar Mandowen menggantikan Oh Inkyun, dan Ian Louis Kabes menggantikan Boaz yang tak tampil bagus. Bonai maupun Gunansar adalah tipe-tipe ‘kaki kilat’.
Bonailah yang memberikan umpan silang datar dari sisi kiri pertahanan Persebaya dengan akurat kepada Inkyun. Inkyun yang sudah dalam posisi tak terjaga justru gagal mengeksekusi bola. Sementara Mandowen memberikan ancaman melalui tembakan jarak jauh yang berani.
Keunggulan 1-0 membuat Persebaya sejak menit 80 memilih lebih banyak bertahan dan memilih skema serangan balik. Para pemain belakang Persebaya memilih melakukan sapuan tanpa kompromi setiap bola datang. Catatan statistik Statoskop-Jawa Pos menunjukkan, pemain Persebaya melakukan 22 sapuan sepanjang pertandingan, sementara Persipura 18 sapuan.
Pekerjaan rumah Persebaya adalah membuat Jalilov kembali bersinar. Dalam beberapa kali pertandingan, termasuk melawan Persipura, dia seperti kehilangan sentuhan sebagaimana ditunjukkan selama pramusim. Sebenarnya tren Jalilov ini menjadi cerminan lini depan Persebaya. Malam itu, pemain depan Persebaya melakukan sembilan kali tembakan, dan hanya empat yang tepat sasaran. Sementara, Persipura melakukan delapan kali tembakan, tiga di antaranya akurat.
Sejak mencetak hat-trick ke gawang Persib, Balde kembali melempem. Namun harus diakui, pemain berkulit hitam yang pernah bermain untuk Glasgow Celtic ini memiliki kemampuan individu bagus dalam melindungi bola dan memecah konsentrasi lawan. “Lizio malam ini luar biasa. Dua pemain lainnya di bawah ekspektasi saya,” kata Djajang, mengomentari tiga pemain asing Persebaya.
Mantan pemain sayap Persib Bandung ini menyebut penampilan anak asuhnya masih jauh dari bagus. “Enam pertandingan, hanya sekali menang. Ini tidak bagus buat Persebaya. Saya mengajak pemain agar tak terlalu euforia,” katanya.
Djajang memiliki beban berat, karena dua bek tengah andalan, Hansamu Yama dan Dutra, tak akan tampil melawan Madura United. Hansamu terkena kartu merah di ujung pertandingan malam itu. Sementara Dutra mencatatkan akumulasi tiga kartu kuning hingga pekan ke-12 yang membuatnya tak boleh tampil di pertandingan berikutnya. Sementara, Ruben sempat mengalami cedera.
Namun Djajang sementara waktu bisa bernapas lega, karena akhirnya bisa mengakhiri paceklik kemenangan malam itu. Ia mengakui ini pertandingan yang sulit, karena tekanan begitu luar biasa. “Termasuk tekanan dari suporter sendiri,” katanya.
Ruben Sanadi mengakui tekanan malam itu cukup berat. “Kemenangan ini kami persembahkan buat Coach (Djajang), karena semua tekanan bagi Coach dan kami pemain juga dapat tekanan,” katanya.
Djajang dan Ruben sama-sama menolak berkomentar soal aksi Bonek yang mengosonhkan tribun utara. Namun bagi Bonek, pesan itu sudah tersampaikan. “Persebaya harga diri kami,” demikian pernyataan resmi Green Nord, Sabtu (3/8/2019) malam. Pesan yang jelas dari para ‘customer’ yang harus dijawab manajemen dan tim Persebaya dalam pertandingan sisa musim ini: menang, bahkan saat tampil buruk seperti Jumat malam itu. [wir]






