Ponorogo (beritajatim.com) – Dampak musim kemarau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kabupaten Ponorogo. Hingga 20 Juli 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo telah menerima 2 laporan kekeringan yang membutuhkan penanganan. Salah satunya berasal dari Dukuh Bungur, Desa Munggu, Kecamatan Bungkal, yang akan segera mendapat bantuan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun menjelaskan, laporan pertama berasal dari SMA Negeri 1 Jenangan yang setiap tahun mengalami kesulitan air, saat musim kemarau.
Sementara laporan kedua berasal dari Dukuh Bungur, Desa Munggu, dengan jumlah warga terdampak mencapai 153 jiwa yang tersebar di 2 RT. Saat ini BPBD Ponorogo masih melakukan asesmen sebelum penyaluran bantuan dilakukan.
“Pertama di SMAN 1 Jenangan, dan yang kedua di Dukuh Bungur, Desa Munggu, ada 153 jiwa di 2 RT yang terdampak kekeringan. Hari ini kita sedang asesmen, sekaligus persiapan untuk dropping air,” katanya.
Menurutnya, asesmen dilakukan untuk memastikan seluruh kebutuhan distribusi air telah siap. Petugas mengecek keberadaan tandon air, kondisi jeriken milik warga, hingga menghitung kembali kebutuhan perlengkapan yang harus disiapkan. Setelah seluruh persiapan selesai, BPBD akan segera mengirim bantuan air bersih ke lokasi.
“Persiapan itu berarti melihat kondisi lapangan, apakah sudah ada tandon-tandon yang siap. Nanti kita drop air bersama menyiapkan tandon dan jerigen untuk masyarakat,” ungkapnya.
Masun mengatakan, Dukuh Bungur merupakan wilayah yang hampir setiap tahun mengalami kekeringan ketika musim kemarau tiba. Kondisi geografis membuat pembangunan sumur dalam di kawasan tersebut tidak mudah dilakukan. Berbeda dengan beberapa daerah pegunungan lain, yang masih memiliki sumber air bawah tanah.
“Langganan tiap tahun. Karena kita masih kesulitan untuk membangun sumur dalam di sana. Diprediksi karena memang sumbernya akan susah di sana,” jelasnya.
BPBD menargetkan dropping air bersih untuk warga Dukuh Bungur dapat dilakukan pada Minggu ini. Langkah tersebut diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat hingga kondisi kembali normal. Selanjutnya BPBD akan terus memantau perkembangan di lapangan selama musim kemarau berlangsung.
Sementara itu, laporan kekeringan di SMA Negeri 1 Jenangan juga kembali ditangani BPBD. Sekolah tersebut memang menjadi salah satu lokasi yang rutin menerima bantuan air bersih setiap musim kemarau. Kebutuhan air meningkat karena pasokan dari PDAM maupun Pamsimas tidak mampu memenuhi kebutuhan saat sumber air mulai menyusut.
“Kemarin kita kirim terakhir hari Kamis. Memang tiap tahun kita dropping karena ketika kemarau sumber airnya tidak ada,” ungkapnya.
Pejabat yang kini juga merangkap menjadi Plt. Kepala Dispertahankan itu, menjelaskan, bahwa sekolah telah memiliki tandon air. Sehingga BPBD tinggal mengirimkan pasokan sesuai kebutuhan.
Frekuensi distribusi disesuaikan dengan pemakaian air di lingkungan sekolah. Dalam kondisi tertentu, bantuan bisa dilakukan satu hingga dua kali dalam seminggu.
“Hari ini kita koordinasi lagi dengan pihak sekolah, ya kita kirim sebanyak yang mereka butuhkan. Bisa sekali atau dua kali dalam seminggu, ya karena pemakaiannya hanya siang saja,” pungkasnya. (end/ian)






