Ringkasan Berita:
- DPRD Surabaya meminta pencegahan penyakit zoonosis dilakukan secara proaktif sebelum musim hujan.
- Ning Ais menilai deteksi dini, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor menjadi langkah paling efektif.
- Masyarakat diimbau menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah, dan mewaspadai gejala penyakit zoonosis.
- Pengendalian zoonosis dinilai harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan, bukan hanya sektor kesehatan.
Surabaya (beritajatim.com) – Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Ais Shafiyah Asfar atau Ning Ais, meminta upaya pencegahan penyakit zoonosis dilakukan secara lebih proaktif menjelang musim hujan. Menurutnya, penguatan deteksi dini, edukasi masyarakat, dan kolaborasi lintas sektor harus menjadi prioritas sejak awal agar risiko penularan penyakit dari hewan ke manusia dapat ditekan sebelum jumlah kasus meningkat.
“Menurut saya, langkah pencegahan seperti ini memang harus dilakukan sejak awal. Jangan menunggu kasus meningkat baru kita bergerak. Edukasi dan kesiapsiagaan justru akan jauh lebih efektif kalau dilakukan sebelum musim hujan datang,” kata Ning Ais, Jumat (24/7/2026).
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Surabaya yang terus memperkuat deteksi dini, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor dalam menghadapi ancaman penyakit zoonosis. Menurutnya, upaya tersebut perlu diperluas hingga menjangkau lingkungan permukiman agar masyarakat semakin memahami cara mencegah penyakit seperti leptospirosis, rabies, dan berbagai penyakit zoonosis lainnya.
“Kadang masyarakat baru sadar setelah ada kasus di sekitar mereka. Padahal, hal-hal sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, mengelola sampah dengan baik, menggunakan alas kaki saat melewati genangan, atau segera memeriksakan diri ketika muncul gejala bisa mencegah risiko yang lebih besar. Edukasi seperti ini harus lebih sering turun langsung ke masyarakat,” ujarnya.
Ning Ais menilai edukasi kesehatan tidak cukup hanya dilakukan melalui fasilitas pelayanan kesehatan. Menurutnya, RT/RW, kader kesehatan, sekolah, hingga berbagai komunitas perlu dilibatkan agar pesan-pesan pencegahan lebih mudah dipahami sekaligus diterapkan oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
“Kalau kita ingin menekan risiko penyakit zoonosis, pendekatannya harus menyeluruh. Lingkungannya harus bersih, saluran air terawat, hewan peliharaan juga perlu mendapatkan vaksinasi sesuai anjuran. Jadi, pencegahannya bukan hanya di fasilitas kesehatan, tetapi dimulai dari lingkungan tempat kita tinggal,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya koordinasi lintas organisasi perangkat daerah dalam pengendalian populasi tikus, pengelolaan drainase, peningkatan kebersihan lingkungan, hingga pelaksanaan vaksinasi hewan peliharaan. Menurutnya, pencegahan penyakit zoonosis tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan, melainkan membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan.
“Harapan saya, budaya hidup bersih dan peduli kesehatan bisa semakin kuat di tengah masyarakat. Kalau edukasi dilakukan secara konsisten dan kolaborasi semua pihak berjalan baik, saya optimistis Surabaya bisa lebih siap menghadapi musim hujan sekaligus menekan risiko penyebaran penyakit zoonosis,” pungkasnya. [asg/beq]






