Ringkasan Berita
* Pemerintah Republik Indonesia mempercepat pencapaian swasembada gula putih nasional dengan target maksimal dua tahun sesuai arahan Presiden RI. Langkah utama yang diambil adalah program peremajaan kebun tebu (bongkar ratoon) secara masif seluas 100.000 hektare per tahun terhadap tanaman tua berumur 7 hingga 15 tahun.
* Konsolidasi nasional di Kantor Pusat PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Surabaya pada Rabu (22/7/2026) menegaskan komitmen sinergi antara Kementerian Pertanian, BUMN PTPN III, PT SGN, pabrik gula swasta, dan petani tebu yang didukung alokasi anggaran khusus serta bantuan mekanisasi pertanian.
————————————————————————
Surabaya (beritajatim.com) — Langkah cepat dan agresif diambil pemerintah guna memutus ketergantungan terhadap impor gula nasional. Berpatokan pada arahan langsung Presiden Republik Indonesia, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan pencapaian swasembada gula putih paling lambat dalam jangka waktu dua tahun. Strategi utamanya adalah peremajaan kebun tebu (bongkar ratoon) secara masif seluas 100.000 hektare (ha) setiap tahunnya.
Kepastian tersebut ditegaskan Menteri Pertanian RI dalam kunjungan kerja dan konsolidasi nasional di Kantor Pusat PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Surabaya, Rabu (22/7/2026). Turut mendampingi dalam pengarahan tersebut Direktur Utama PTPN III (Persero) Holding Perkebunan dan Gubernur Jawa Timur.
Mentan mengungkapkan, mayoritas lahan tebu di Indonesia saat ini diisi oleh tanaman ratoon (keprasan) tua berusia 7, 12, hingga 15 tahun yang telah mengalami penurunan produktivitas secara signifikan. Kondisi ini menjadi akar masalah rendahnya pasokan gula dalam negeri.
“Perintah Bapak Presiden, swasembada gula putih paling lambat dua tahun harus tercapai. Insya Allah kami akan melakukan bongkar ratoon secara besar-besaran. Tanaman ratoon berumur 7 tahun, 12 tahun hingga 15 tahun akan kita bongkar dan diremajakan. Target kita sekitar 100 ribu hektare setiap tahun. Kalau memungkinkan, dua tahun seluruh program ini dapat selesai. Anggaran sudah kami siapkan atas persetujuan Bapak Presiden,” tegas Menteri Pertanian.
Melalui intervensi anggaran negara tersebut, pemerintah optimistis peningkatan produktivitas tebu per hektare akan mendongkrak produksi gula domestik secara drastis sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional.
Menanggapi arahan tegas dari pemerintah, Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, menegaskan kesiapan jajarannya untuk mengeksekusi program percepatan nasional ini. PT SGN berkomitmen memperkuat kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pabrik gula (PG) swasta serta memperbesar dukungan langsung kepada para petani tebu di lapangan.
“Intinya kita harus melakukan percepatan swasembada gula. Arahan Bapak Menteri menjadi semangat bagi PT SGN bersama pabrik gula swasta untuk bergerak bersama-sama, terutama dengan memberikan perhatian lebih kepada petani,” ujar Mahmudi.
Sebagai bentuk aksi nyata di tingkat akar rumput, PT SGN menyiapkan paket dukungan komprehensif yang mencakup bantuan program bongkar ratoon. penyediaan alat berat dan traktor untuk mekanisasi, hingga pendampingan teknik budidaya modern. Mahmudi menekankan bahwa kunci sukses swasembada gula terletak pada kenaikan hasil panen di tingkat petani.
“Keberhasilan program ini bergantung pada peningkatan produktivitas di tingkat petani. Karena itu, PT SGN terus memperluas pendampingan, mekanisasi, serta peremajaan tanaman agar target kemandirian gula nasional dalam dua tahun dapat diwujudkan,” pungkas Mahmudi.[rea]








