Ringkasan Berita:
- Pemkab Jember meluncurkan layanan homecare gratis yang mulai berjalan pada 24 Juli 2026.
- Program menyasar warga miskin, lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, pasien penyakit kronis, dan anak stunting.
- Petugas kesehatan akan mendatangi rumah pasien dengan membawa alat kesehatan, obat-obatan, fasilitas telemedis, hingga bantuan sembako.
- Bupati Muhammad Fawait menyebut program ini menjadi bagian dari upaya pengentasan kemiskinan dan melengkapi layanan UHC di Jember.
Jember (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember meluncurkan layanan homecare atau pelayanan kesehatan jemput bola yang akan mulai beroperasi pada 24 Juli 2026. Program yang dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) itu ditujukan untuk memudahkan masyarakat, khususnya warga kurang mampu, mendapatkan layanan kesehatan tanpa harus datang ke fasilitas kesehatan.
Bupati Jember Muhammad Fawait mengatakan program tersebut merupakan pengembangan dari layanan Universal Health Coverage (UHC) yang telah berjalan sejak 1 April 2025 melalui kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
“Saat ini seluruh masyarakat ber-KTP Jember bisa menikmati pelayanan kesehatan gratis di seluruh rumah sakit yang bekerja sama dengan BPJS di Jember dan Indonesia,” kata Fawait, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, setelah program UHC berjalan, pemerintah daerah menemukan persoalan lain yang masih dihadapi masyarakat miskin, yakni tingginya biaya pendukung ketika harus menjalani pengobatan di rumah sakit.
“Mereka juga perlu biaya ketika harus meninggalkan rumahnya untuk ke rumah sakit, dari rumahnya ke puskesmas, dan dari rumahnya harus berhari-hari dirawat di rumah sakit. Mereka perlu bantuan juga dari Pemerintah Kabupaten Jember,” ujarnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, Pemkab Jember menggagas program homecare, yakni layanan perawatan medis maupun nonmedis yang diberikan langsung di rumah pasien oleh tenaga kesehatan. Program ini diprioritaskan bagi warga miskin, lansia, pasien dengan penyakit kronis, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, hingga anak yang mengalami stunting.
“Nanti ada petugas-petugas kesehatan yang akan mengontrol kesehatan warga kita yang miskin, punya penyakit berkepanjangan, lansia, saudara-saudara kita penyandang disabilitas, ibu hamil yang berisiko tinggi, dan anak-anak Jember yang terkena stunting,” kata Fawait.
Dalam pelaksanaannya, tenaga kesehatan dari puskesmas akan mendatangi rumah pasien dengan membawa peralatan pemeriksaan kesehatan. Selain melakukan pemeriksaan dasar, petugas juga akan memfasilitasi layanan telemedis sehingga pasien dapat berkonsultasi dengan dokter umum, dokter spesialis, bahkan subspesialis tanpa harus meninggalkan rumah.
“Jadi, nanti petugas kesehatan akan datang ke rumah-rumah, membawa peralatan kesehatan, melakukan pemeriksaan dasar, dan membawa fasilitas supaya bisa melakukan telemedis dengan dokter umum maupun dokter spesialis, bahkan subspesialis,” jelasnya.
Tidak hanya memberikan pelayanan medis, petugas juga akan membawa obat-obatan dan bantuan sembako bagi warga miskin yang menjadi penerima manfaat program homecare.
“Ini adalah perjuangan untuk pengentasan kemiskinan di Kabupaten Jember. Kami bertekad bersama-sama, tidak boleh lagi terjadi ada warga Jember yang tidak mampu, tidak bisa berobat ke rumah sakit atau ke puskesmas,” tegas Fawait.
Ia menambahkan, pemerintah daerah juga ingin mencegah masyarakat yang semula berkecukupan jatuh miskin akibat tingginya biaya pengobatan atau harus menjalani perawatan dalam waktu lama.
“Maka, kami akan melakukan pelayanan yang turun ke rumah-rumah warga dalam kategori-kategori yang telah saya sampaikan. Kita akan periksa kesehatan beliau-beliau, kita akan cek butuh apa,” katanya.
Fawait mengklaim program homecare yang menyasar warga miskin dan kelompok rentan tersebut merupakan yang pertama diterapkan di Indonesia.
“Insyaallah, ini akan menjadi yang pertama di Indonesia dan di Indonesia dimulai dari Kabupaten Jember,” pungkasnya. [wir/beq]






