Sepak bola kadang mampu menjelaskan sesuatu yang gagal dijelaskan oleh pidato-pidato politik.
Ketika menyaksikan Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia dengan skuad yang didominasi pemain muda, saya justru teringat kepada Bung Karno. Bukan karena Bung Karno pernah berbicara tentang sepak bola. Jauh sebelum sepak bola modern mengenal istilah high pressing, false nine, atau gegenpressing, Bung Karno telah meninggalkan sebuah kalimat yang terus hidup melampaui zamannya: “Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”
Selama ini kalimat itu lebih sering kita dengar dalam pidato kenegaraan, seminar kepemudaan, atau upacara peringatan hari nasional. Padahal, maknanya jauh melampaui ruang-ruang seremonial. Ia berbicara tentang keberanian mempercayai generasi baru. Di lapangan hijau, saya melihat gagasan itu menemukan pembenarannya.
“Awalnya saya menjagokan Argentina”
Sulit rasanya untuk tidak memilih negara yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penjaga tradisi sepak bola dunia. Argentina bukan hanya memiliki pemain-pemain hebat, tetapi juga mewarisi sejarah yang dibangun oleh kemenangan, kegagalan, air mata, dan keberanian untuk bangkit. Dari Mario Kempes, Diego Maradona, hingga Lionel Messi, setiap generasi menghadirkan legenda yang membuat Argentina lebih dari sekadar tim nasional. Argentina adalah sebuah warisan.
Dalam turnamen besar, pengalaman sering kali menjadi modal yang tak tercatat dalam statistik. Pengalaman membuat sebuah tim tetap tenang ketika tertinggal, tidak panik menghadapi tekanan, dan tahu kapan harus menyerang atau menunggu.
Namun semakin turnamen berjalan, saya merasa sedang menyaksikan perubahan arah sejarah.
Ketika Belanda tersingkir lebih awal, saya mulai mengalihkan perhatian kepada Spanyol. Tidak karena sejarah mereka lebih besar daripada Argentina, melainkan karena mereka membawa sesuatu yang sering kali menjadi penentu perubahan dalam olahraga maupun kehidupan, yakni keberanian anak-anak muda.
Anak-anak muda bermain tanpa rasa takut. Barangkali karena mereka belum dibebani oleh romantisme masa lalu. Mereka tidak sedang mengejar bayang-bayang legenda. Mereka hanya bermain dengan keyakinan bahwa masa depan adalah milik mereka yang berani mengambil risiko.
Sepak bola berulang kali membuktikan bahwa perubahan besar memang sering dimulai oleh generasi muda.
Pelé baru berusia 17 tahun ketika membawa Brasil menjadi juara dunia pada 1958. Generasi Xavi, Andrés Iniesta, dan Sergio Busquets mengubah cara dunia memainkan sepak bola pada akhir dekade 2000-an. Kini Spanyol kembali menunjukkan bahwa regenerasi bukan sekadar mengganti nama dalam daftar pemain. Regenerasi adalah keberanian memberi kepercayaan.
Di situlah saya kembali teringat kepada Bung Karno. Barangkali selama ini kita terlalu sering memahami kalimat “Beri aku sepuluh pemuda…” sebagai ajakan heroik. Padahal inti pesannya bukan pada jumlah pemudanya, melainkan pada keberanian mempercayai mereka.
Spanyol tidak menunggu para pemain mudanya menjadi legenda terlebih dahulu. Spanyol memberi anak-anak muda panggung untuk tumbuh menjadi legenda.
Kepercayaan melahirkan keberanian. Keberanian melahirkan perubahan. Sementara perubahan melahirkan sejarah baru.
Pelajaran itu tidak hanya berlaku dalam sepak bola. Bangsa-bangsa yang mampu bertahan adalah bangsa yang berhasil melakukan regenerasi. Mereka memahami bahwa pengalaman adalah guru yang berharga, tetapi pengalaman tidak boleh berubah menjadi tembok yang menghalangi datangnya generasi berikutnya. Tradisi yang sehat bukanlah tradisi yang mempertahankan tokoh yang sama selama mungkin, melainkan tradisi yang terus melahirkan tokoh baru.
Sebagai akademisi hubungan internasional, saya melihat pola yang sama dalam politik global. Pergeseran kekuatan (power transition) hampir tidak pernah terjadi secara mendadak. Ia berlangsung perlahan, sedikit demi sedikit, hingga akhirnya kita menyadari bahwa pusat gravitasi telah berpindah.
Lapangan hijau bekerja dengan logika yang sama. Tidak ada kudeta. Tidak ada revolusi. Yang ada hanyalah generasi baru yang perlahan mengambil alih panggung. Kemudian kita menerimanya sebagai sesuatu yang wajar.
Bagi generasi saya, perubahan itu menghadirkan perasaan yang sedikit emosional. Kami tumbuh bersama Lionel Messi. Kami rela begadang demi menyaksikan aksinya bersama Barcelona. Kami menyaksikan bagaimana ia menaklukkan hampir semua puncak yang mungkin dicapai seorang pesepak bola. Piala Dunia, Copa América, Liga Champions, hingga Ballon d’Or berkali-kali.
Namun ada satu lawan yang bahkan tidak pernah bisa dikalahkan oleh pemain terbaik sekalipun. Ia adalah waktu.
Messi tidak kehilangan kebesarannya. Yang berubah adalah dunia di sekelilingnya. Mungkin memang begitulah cara sejarah bekerja. Ia tidak pernah menghancurkan generasi lama. Ia hanya perlahan membuka ruang bagi generasi berikutnya.
Di situlah saya merasa kemenangan Spanyol lebih dari sekadar kemenangan sepak bola. Kemenngan Spayol adalah pengingat bahwa masa depan selalu dimulai ketika kita berani memberikan kepercayaan kepada anak-anak muda. Persis seperti yang diyakini Bung Karno puluhan tahun silam.
Mungkin karena itulah, jika Bung Karno masih menyaksikan sepak bola hari ini, ia akan tersenyum melihat keberanian Spanyol memainkan para pemain mudanya. Bukan semata-mata karena mereka menjadi juara dunia. Melainkan karena mereka membuktikan satu hal yang sejak lama diyakini oleh pendiri bangsa ini, yakni: sejarah tidak pernah digerakkan oleh mereka yang hanya hidup dari kejayaan masa lalu.
Sejarah selalu bergerak ketika generasi muda diberi kepercayaan untuk menciptakan masa depannya sendiri. [Agus Trihartono Pengajar di Prodi Hubungan Internasional Universitas Jember, Rektor UI Cordoba Banyuwangi]






