Jember (beritajatim,com) – Piala Dunia sepak bola telah berakhir, Senin (20/7/2026) pagi. Dari 48 tim yang berkompetisi, Spanyol akhirnya menjadi juara dengan mengalahkan Argentina 1-0 di babak final.
Namun bagi politisi di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sepak bola dan Piala Dunia memberikan pelajaran yang bisa dipraktikkan dalam dunia politik. “Pada dasarnya sepak bola dan politik praktis di dunia nyata itu beda-beda tipis,” kata Nilam Noor Fadillah Wulandari, Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah Partai Golkar Jember dan anggota DPRD Jember.
Tim sepak bola dan partai politik sama-sama butuh strategi yang bagus untuk menang. “Bagaimana dalam sebuah tim bisa memainkan peran masing-masing, dan mengenali potensi tim. Ada pola yang dimainkan di politik sebagaimana dalam sepak bola,” kata Nilam.
Sebuah tim sepak bola dan partai politik tidak bisa mengandalkan kekuatan individu. “Dalam final, Lionel Messi digadang-gadang bisa mencetak gol kemenangan untuk Argentina. Namun nyatanya itu hanya framing,” kata perempuan berjilbab itu.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang PDI Perjuangan Jember Widarto sepakat bahwa sepak bola dan politik adalah kerja kolektif yang perlu didukung oleh organisasi yang kuat. “Kita melihat kinerja organisasi tim Spanyol luar biasa. Dalam politik tentu kebenaran akan menang kalau kita semua gotong royong sebagaimana ditunjukkan Spanyol,” katanya.
“Sebagaimana dalam sepak bola, orang yang masih peduli pada bangsa dan negara ini harus gotong royong, punya kepedulian dan tidak saling menisbikan, namun saling menguatkan, agar tujuan bersama berupa kemenangan dan kemakmuran bagi bangsa ini bisa tercapai,” kata Widarto.
Namun politik dan sepak bola sama-sama memiliki kecurigaan terhadap kecurangan oleh penyelenggara dan perangkat pertandingan. Sepanjang perhelatan Piala Dunia 2026, FIFA sebagai otoritas penyelenggara dicurigai berpihak kepada Argentina yang tecermin dari sejumlah keputusan pengadil yang dianggap tidak adil di lapangan. “Samalah kayak di politik,” kata Nilam.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Jember Madini Farouq sependapat dengan Nilam soal keberpihakan wasit. “Awasi wasit supaya tidak berpihak dan ikut bermain. Karena banyak keputusan kontroversial yang terjadi selama Piala Dunia yang diduga FIFA ikut bermain,” katanya.
“Nah, dalam kaitannya dengan politik, kita ingatkan KPU dan Bawaslu agar betul-betul netral. Jangan ikut bermain kalau tidak ingin terjadi kericuhan di lapangan. Junjung tinggi sportivitas, fair play,” kata Madini.
Namun, Widarto meyakini kebenaran akan menemukan jalannya. “Dalam sepak bola, kebenarann menang ditunjukkan oleh Spanyol, mengingat selama ini banyak orang berpikir Argentina didukung oleh pihak di luar peserta kompetisi,” katanya.
Kuncinya adalah kerja keras. Madini mengaku terilhami dengan gol-gol penentu pada menit-menit akhir jelang pertandingan selesai yang mencerminkan etos dan kerja keras yang bisa ditiru oleh partai politik seperti PPP.
Senegal yang sempat unggul 2-0 atas Belgia hingga menit ke-85, akhirnya kalah 2-3 dalam babak perpanjangan waktu. Begitu juga Mesir yang sudah unggul dua gol tanpa balas hingga menit 78, akhirnya menyerah 2-3 di tangan Argentina. Inggris yang sudah unggul 1-0 hingga menit 84, kebobolan dua gol dalam tempo tujuh menit jelang pertandingan usai.
“Politik itu sebagaimana adagium bola itu bulat. Berbagai kemungkinan bisa terjadi. Bahkan kesebelasan yang sudah menang 2-0 sampai menit yang ke-80 sekian ternyata bisa dibalik,” kata Madini.
“Ini menunjukkan bahwa last minutes itu penting, Kita melakukan kegiatan-kegiatan jauh-jauh hari sebelum pemilu, tapi saat last minute menjelang pemilu selesai kita tidak kawal betul, perolehan suara bisa hilang. Peta politik bisa berubah,” kata mantan ketua DPRD Jember ini.
“Pelajaran yang bisa kita ambil adalah tidak ada kata menyerah dan selesai berjuang sebelum peluit wasit dibunyikan. Sebelum peluit panjang wasit terdengar, semua usaha untuk menjaring suara bagi PPP harus terus dilakukan dengan sekuat mungkin,” kata Madini.
Namun Ketua DPRD Jember yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Gerindra Jember Ahmad Halim mengingatkan, sepak bola bahwa juga mengajarkan sportivitas kepada politik. “Hasil akhir harus kita hormati. Siapapun yang menang, siapapun juaranya,” katanya..
“Pertandingan 90 menit, babak tambahan, hingga penalti adalah bagian dari proses yang kontestasi yang harus dihormati. Kita hormati juga siapa yang menjadi juara melalui proses kontestasi tersebut. Yang penting nilai-nilai sportivitas tetap harus kita jaga,” kata Halim.
Sebagaimana dalam sepak bola, lawan bukanlah musuh dalam politik. Lawan dan kawan hanya ditentukan pada pilihan temporer pada satu waktu. Saat pertandingan antarnegara, dua orang pemain bisa saling melawan.
Namun saat kembali ke kompetisi domestik, mereka bisa kembali berkawan dalam satu klub. “Bertanding itu sesuatu hal yang biasa. Tapi setelah selesai pertandingan, kita harus tetap menjadi teman,” kata Madini Farouq.
“Sama dengan ketika pemilu. Ketika mencari suara antara satu caleg dengan caleg yang lain dari partai yang berbeda berebut suara. Tapi ketika mereka duduk menjadi anggota DPR, mereka harus bersama-sama memikirkan kepentingan rakyat Jember tanpa lagi melihat baju politik dan lain sebagainya,” tambah alumnus Universitas Jember ini.
Madini kemudian mencontohkan relasinya dengan Ikbal Wildan Fardana yang bersaing memperebutkan kursi Ketua DPC PPP Jember 2026-2031. “Ketika sudah selesai, kami kembali lagi untuk bersanding membesarkan PPP bersama-sama. Saya Ketua DPC, Mas Ikbal Sekretaris DPC,” katanya. [wir/aje]






