Gresik (beritajatim.com) – Kabar baik datang bagi para petani di Kabupaten Gresik. Kekhawatiran soal ketersediaan pupuk bersubsidi menjelang musim tanam kedua mulai terjawab setelah Petrokimia Gresik memastikan stok pupuk tetap aman dan siap disalurkan.
Sebanyak 23.471 ton pupuk bersubsidi disiapkan untuk memenuhi kebutuhan petani di Gresik. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan menjaga kelancaran distribusi pupuk agar petani dapat menjalankan aktivitas pertanian tanpa kendala pasokan.
Adapun realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Kabupaten Gresik selama semester pertama 2026 meliputi Urea 12.471 ton, NPK 15-10-12 sebanyak 10.352 ton, SP-36 sebanyak 593 ton, ZA sebanyak 1 ton, dan pupuk organik sebanyak 297 ton.
Sementara itu, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi secara nasional yang menjadi tanggung jawab Petrokimia Gresik pada periode yang sama mencapai Urea 2,19 juta ton, NPK 15-10-12 sebanyak 2,46 juta ton, NPK Kakao sebanyak 40.416 ton, SP-36 sebanyak 4.883 ton, ZA sebanyak 6.407 ton, dan pupuk organik sebanyak 297 ton.
VP Komunikasi Korporat Petrokimia Gresik, Rama Yusron Harbiansyah, mengatakan ketersediaan pupuk menjadi salah satu faktor penting bagi petani, terutama saat memasuki musim tanam. Dengan adanya pasokan tersebut, petani diharapkan lebih tenang dalam mempersiapkan lahan dan meningkatkan produktivitas hasil pertanian.
“Kami memastikan kesiapan stok pupuk bersubsidi dalam jumlah besar untuk mendukung musim tanam. Jadi petani Gresik tak perlu risau atau khawatir,” katanya, Selasa (14/7/2026).
Rama Yusron menambahkan, selain memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi, perusahaan juga mengimbau agar pupuk benar-benar diterima oleh petani yang berhak. “Petani diimbau melakukan penebusan melalui jalur resmi sesuai mekanisme yang berlaku,” imbuhnya.
Menurutnya, ketersediaan pupuk yang mencukupi diharapkan mampu mendukung program peningkatan produksi pangan sekaligus memberikan rasa aman bagi petani Gresik yang tengah menghadapi tantangan perubahan cuaca.
“Bagi petani, pupuk bukan sekadar kebutuhan produksi, tetapi juga menjadi penentu keberhasilan panen. Karena itu, kepastian pasokan pupuk bersubsidi menjadi angin segar agar kegiatan bercocok tanam tetap berjalan optimal,” paparnya.
Sementara itu, secara terpisah, Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Gresik, Choirul Fatikin, menuturkan musim tanam pertama berlangsung pada Januari hingga April 2026 dengan luas tanam padi mencapai 29.808,84 hektare.
Adapun musim tanam kedua berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 dengan tambahan luas tanam mencapai 6.600,49 hektare. Luasan tersebut merupakan akumulasi lahan yang telah ditanami dan saat ini masih dalam tahap pertumbuhan sehingga belum memasuki masa panen.
“Ada beberapa kendala atau tantangan yang berpotensi dihadapi petani pada musim tanam kali ini, yakni ketersediaan air. Meski hingga Juli 2026 belum ada laporan kekeringan di lapangan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, wilayah yang paling rentan mengalami kekurangan air berada di kawasan Gresik Selatan, meliputi Kecamatan Cerme, Menganti, Benjeng, Balongpanggang, dan Kedamean.
Sementara itu, wilayah Gresik Utara dinilai masih memiliki sumber pasokan air yang relatif aman, baik dari aliran Bengawan Solo maupun dukungan sumur bor di sejumlah kawasan pertanian.
“Sebagai langkah mitigasi, Dispertan mendorong percepatan jadwal tanam agar petani dapat memanfaatkan sisa ketersediaan air sebelum puncak musim kemarau terjadi. Sejumlah petani bahkan telah memulai penanaman lebih awal,” pungkasnya. (dny/kun)






