Surabaya (beritajatim.com) – Inggris dipastikan kehilangan bek Jarell Quansah saat menghadapi Norwegia pada babak perempat final Piala Dunia setelah FIFA menjatuhkan hukuman larangan bermain dalam dua pertandingan akibat kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Meksiko.
Quansah diusir keluar lapangan pada menit ke-54 dalam kemenangan dramatis Inggris 3-2 atas Meksiko di babak 16 besar. Bek Liverpool tersebut mendapat kartu merah setelah Video Assistant Referee (VAR) meminta wasit meninjau tekel kerasnya terhadap bek Meksiko, Jesús Gallardo.
Meski harus bermain dengan sepuluh pemain selama sekitar 36 menit, skuad asuhan Thomas Tuchel itu tetap mampu mempertahankan keunggulan hingga memastikan tiket ke perempat final Piala Dunia.
Sanksi dua pertandingan membuat Quansah tidak hanya absen menghadapi Norwegia di Miami, Minggu (12/7/2026) pagi WIB, tetapi juga tidak dapat tampil pada laga semifinal apabila Inggris berhasil melaju.
Absennya Quansah menambah persoalan di sektor bek kanan Inggris yang tengah diterpa krisis pemain.
Reece James masih berjuang memulihkan cedera hamstring yang membuatnya menepi sejak pertandingan melawan Ghana berakhir tanpa gol. Pada sesi latihan terakhir, bek Chelsea itu masih menjalani program latihan terpisah dari rekan-rekannya.
Sebelumnya, Quansah sempat mengisi posisi bek kanan saat melawan Panama sebelum mengalami cedera pada babak kedua dan digantikan Djed Spence.
Pada pertandingan berikutnya kontra Republik Demokratik Kongo, Spence dipercaya sebagai starter. Namun, posisi bek kanan kemudian diisi secara darurat oleh gelandang Declan Rice hingga laga berakhir.
Quansah akhirnya kembali pulih dan tampil saat menghadapi Meksiko. Namun, kartu merah yang diterimanya memaksa Ezri Konsa mengisi posisi bek kanan pada sisa pertandingan.
Situasi tersebut membuat Thomas Tuchel berharap Reece James dapat pulih tepat waktu agar dapat memperkuat Inggris saat menghadapi Norwegia.
Di sisi lain, hukuman terhadap Quansah kembali memunculkan perdebatan setelah FIFA sebelumnya menangguhkan hukuman larangan satu pertandingan bagi striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, selama 12 bulan menyusul intervensi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Menurut sumber ESPN, Federasi Sepak Bola Inggris (FA) sempat mempertimbangkan berbagai opsi setelah melihat keputusan FIFA dalam kasus Balogun.
Thomas Tuchel pun mempertanyakan konsistensi penerapan aturan disiplin tersebut.
“Di mana semua ini dimulai dan di mana akhirnya? Bisakah kami membatalkan kartu merah Quansah atau tidak? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?” ujar Tuchel.
Pelatih asal Jerman itu mengaku bingung mengenai batasan dalam proses pengajuan banding terhadap keputusan wasit.
“Pertanyaan saya adalah, di mana batasnya? Saya tidak punya jawabannya. Apakah kami sekarang harus mengajukan banding jika kartu kuning seharusnya bukan kartu kuning? Atau jika kami merasa itu bukan kartu merah? Siapa yang menentukan? Di mana semua ini dimulai dan di mana akhirnya?” kata Tuchel.
Inggris kini berharap James bisa kembali fit agar krisis di posisi bek kanan tidak semakin mengganggu persiapan menghadapi Norwegia dalam perebutan tiket menuju semifinal Piala Dunia. (faw/aje)






